Body Image

Sahabat saya berkeluh kesah soal puterinya yang saat ini berusia 13 tahun dan  mulai sering melewatkan makan siang atau makan malam dengan alasan badannya sudah terlalu ‘berisi dan tebal’. Merasa tidak percaya diri  jika memakai rok pendek atau baju yang ketat dan trendy.. Si puteri selalu butuh waktu lama memilih pakaian dan bolak-balik mematut diri di depan cermin ketika akan  diajak keluar makan atau ke mal.  Ia  terobsesi memiliki tubuh yang langsing seperti model-model dalam Fashion TV, acara yang paling sering ia tonton. Ada rasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya (negative body image) dan berdampak pada rasa percaya diri ketika harus tampil di depan umum, di sekolah atau berada di antara teman-temannya.

American Psychological Association (APA) pada tahun 2007 melaporkan hasil survei mengenai body image. Faktor seksualitas remaja puteri dan wanita dewasa memberikan kontribusi besar dalam peningkatan kecemasan dan  berhubungan langsung dengan body image yang berdampak pada masalah fisik dan psikis individu. Orang dengan berat badan berlebih (overweight) dan yang terlalu kurus (underweight) cenderung memiliki body image yang negatif, terlebih lagi ketika iklan-iklan di media massa terus mempropagandakan sosok tubuh ideal.

Apa itu Body Image?

Body image adalah gambaran mental tentang bentuk tubuh, mencakup perasaan, sikap dan persepsi tentang penampilan fisik. Sejauh mana orang tersebut merasa puas dengan bentuk tubuhnya, bagaimana pentingnya menjaga penampilan fisik agar selalu tampil prima dan ukuran pakaian tidak terus bertambah. Setiap orang, tidak peduli usia maupun gender, bisa punya masalah body image. Orang dewasa ingin ramping. Remaja ingin memiliki tubuh yang lebih tinggi, lebih berotot dan tegap. Seperti keluhan seorang remaja putri, teman anak saya: Seandainya aku lebih tinggi 5 cm lagi, aku akan lebih pe de dan ga usah harus selalu mengandalkan high heels.  Padahal menurut saya, ia sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita Asia ditambah lagi dengan wajah yang menarik, cantik alami.

Memiliki body image yang positif (sehat) membuat orang senang dan puas dengan bentuk tubuh dan wajahnya. Sebaliknya body image yang negatif  (tidak sehat) membuat individu merasa tidak bahagia dan berusaha merubah bentuk tubuhnya. Untuk skala yang ekstrim akan berujung pada gangguan makan seperti anorexia nervosa, bulimia atau memaksakan diri berolahraga terlalu keras.

Body image bisa berubah-ubah sepanjang hidup kita, tergantung bagaimana rasa percaya diri dan gaya hidup yang kita jalani. Anak yang dididik untuk memiliki body image yang sehat sejak kecil akan memiliki pengertian dan sikap yang sehat tentang kondisi dan perawatan fisiknya.

Ashley Graham, model bertubuh besar, berusia 27 tahun, desainer pakaian dalam, aktivis yang giat mempropagandakan soal mencintai bentuk tubuh apa adanya, ikut serta dalam TEDx Talk di Valencia, Spanyol pada bulan April 2015. Di hadapan 450 penonton,  Graham menceritakan bagaimana ia mengatasi rasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya, dan bagaimana rasa percaya dirinya runtuh ketika tubuhnya makin melar dan bermasalah dengan selulit. Dibutuhkan penerimaan diri yang total untuk mengembalikan rasa percaya diri dengan terlebih dahulu mencintai diri sendiri.  Graham tetap menjadi model yang laris dan menjadi co-founder ALDA, koalisi untuk para model yang berukuran tubuh besar. Gerakan ini bertujuan untuk meredakan keresahan di kalangan remaja puteri, khususnya di Amerika, yang banyak dipicu oleh rongrongan media massa bahwa tubuh yang menarik adalah tubuh yang tipis dan langsing seperti para model di panggung dan di majalah.

Apa  yang Mempengaruhi Body Image Anak?

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya body image pada anak, antara lain:

  • Lingkungan keluarga: ada keluarga yang sangat menekankan pada pentingnya menjaga bentuk tubuh dan anak menjadi terbebani dengan harus diet, rajin berolahraga, mengatur pola makan.
  • Perilaku sesama remaja: membanding-bandingkan bentuk tubuhnya dengan sesama teman.
  • Iklan di media massa: yang dikategorikan cantik adalah mereka yang mempunyai bentuk wajah dan tubuh tertentu.
  • Industri fashion: model yang ditampilkan semuanya bertubuh langsing dan perut rata, tegap dan berotot untuk model pria.
  • Latar belakang kebudayaan
  • Sosial media

Body ImageRemaja  yang memiliki body image negatif selalu dihubungkan dengan berkurangnya rasa percaya diri dan akhirnya mengarah pada mood yang tidak stabil dan cenderung negatif,  mudah terjebak  mencari cara yang keliru untuk menurunkan berat badan,  menjadi anorexia dan akhirnya mengarah ke depresi.

Anak mulai bermasalah dengan body image jika menunjukkan beberapa tanda seperti di bawah ini:

  • Merasa tidak pantas, tidak nyaman dan selalu mengkritik bentuk wajah atau tubuhnya, merasa tidak cantik dan sebagainya.
  • Selalu membandingkan dirinya dengan teman-temannya.
  • Enggan ikut pergi ke manapun karena merasa tidak ada pakaian yang pantas di tubuhnya.
  • Malas melakukan aktivitas apapun atau mencoba hal baru karena punya body image negatif terhadap diri sendiri.
  • Terobsesi mengurangi berat badan, khususnya bagian tertentu, seperti: pipi terlalu tembem, paha terlalu besar, pinggang lebar.
  • Setiap kali ingin makan sesuatu, selalu dihubungkan dengan jumlah kalori dan akan membuat tubuhnya bertambah gendut.

Mengembangkan Body Image Positif

Banyak remaja merasa bingung dengan perubahan fisik yang drastis ketika masa pubertas. Sebagai orang tua, kita bisa membantu mereka dengan menjadi pendengar yang baik, dengarkan semua keluh kesah tentang tubuhnya , mengajak anak berbicara dan menerangkan dengan jelas ‘apa’ dan ‘bagaimana’ agar mereka memiliki body image positif.

Hal utama yang harus ditekankan pada semua  anggota keluarga: jangan pernah mengejek atau mengolok-ngolok kondisi fisik orang lain. Kata-kata seperti: ‘gendut loe’, ‘jelek loe’, ‘kayak cecak kering’ akan membekas dalam hati si penerima dan menghantuinya terus.

Sikap positif dapat dipupuk dengan cara sebagai berikut:

  • Biasakan makan makanan sehat dalam keluarga
  • Jadikan kegiatan fisik sebagai rutinitas sehari-hari misalnya olah raga ringan, mengurus tanaman  atau membersihkan rumah. Tanamkan pada diri anak-anak bahwa berolah raga dan beraktivitas bukan hanya bertujuan untuk menjadikan tubuh lebih kurus, tapi agar tubuh sehat.
  • Melatih diri untuk bangga pada kelebihan yang dimiliki di luar faktor fisik misalnya punya selera humor yang baik dan disenangi oleh teman-teman.
  • Menghargai orang lain apa adanya tanpa melihat faktor fisiknya.
  • Tidak memberi komentar negatif tentang penampilan orang lain. Lihat tuh orang, sudahlah pendek, masak pakai coat panjang gitu. Jadi tenggelam deh.
  • Mengenali kondisi fisik yang membutuhkan operasi karena faktor estetika yang berkaitan dengan kesehatan, misalnya bibir sumbing, bekas luka bakar.
  • Tanamkan pada anak-anak bahwa setiap orang memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Fokus pada kemampuan tubuh kita, bukan pada bentuk tubuh. Jadikan tubuh yang sehat sebagai prioritas utama.

Ada kalanya komentar bernada positif bisa menjadi bumerang juga. Hey, kamu dah kurusan ya? Bagusan gini deh, kamu terlihat lebih cantik dan lebih tinggi. Komentar seperti ini akan diterima oleh bawah sadar bahwa untuk terlihat cantik dan kesan tubuh lebih tinggi, kita harus menguruskan badan.

Seperti kata Cameron Russel, mantan model yang dulu sering muncul di majalah Vogue, catwalk, dan menjadi model aneka produk papan atas, dalam suatu talkshow:  Looks aren’t everything. Believe me. I’m a model. Semua foto dan klip iklan yang kita lihat adalah hasil konstruksi, hasil kolaborasi sekelompok profesional dari penata rias, penata rambut, penata gaya, fotografer, ahli tata cahaya, dan semuanya palsu. Kecantikan palsu yang ditampilkan dalam selubung konstruksi. Itulah yang dilihat oleh awam dan dijadikan acuan dalam membentuk body image pribadi. Acuan semu.

Untuk memiliki body image positif kita tidak harus punya bentuk tubuh atau wajah sempurna bak model. Intinya  bukan pada penampilan luar kita tapi pada bagaimana kita menilai penampilan kita sendiri dan menyikapi bagaimana kita pikir orang lain menilai kita. Memiliki body image yang positif artinya kita merasa nyaman dengan tubuh kita sendiri, mencintai diri kita sendiri apa adanya, mengetahui bahwa nilai diri kita adalah pada ‘siapa saya’ dan bukan pada ‘bagaimana tampilan fisik saya’.