Nasi Goreng Keluarga Gho

oleh Lilian Gunawan

Menurut sahibul hikayat, sekitar abad 10, perdagangan antara Tiongkok dan kerajaan Sriwijaya mulai marak dan menjadi semakin intensif pada masa Majapahit di abad 15. Orang Cina mulai berimigrasi dan membawa budaya serta kuliner mereka. Mereka tidak suka membuang makanan, karena itu sisa nasi kemarin, mereka masak menjadi nasi goreng keesokan paginya. Orang setempat kemudian mengikuti dengan merubah resep agar sesuai dengan lidah mereka yang lebih menyukai pedas.

Karena dibuat dari sisa makanan hari sebelumnya, biasanya nasi goreng dibuat dengan campuran sisa ayam atau daging lain ditambah dengan sayur.

Ada banyak variasi nasi goreng seperti nasi goreng dengan ikan asin yang juga sangat disukai. Tetapi tetap saja bumbu yang tidak pernah lepas dari nasi goreng adalah : bawang merah, bawang putih, kecap manis. Teman nasi goreng juga bervariasi mulai dari bawang goreng dan kerupuk yang hampir selalu ada kalau kita makan di warung atau restoran, hingga irisan timun dan tomat. Ada yang memasukkan telur bersama nasi goreng, ada juga yang memisahkan telur sebagai telur dadar ataupun mata sapi.

Ada beberapa jenis nasi goreng yang pernah saya cicipi termasuk yang memakai terasi dan bumbu tom yam. Orang Sulawesi dan Maluku biasanya memakai saus tomat sehingga nasi goreng mereka kelihatan agak kemerahan. Hiyy… saya tak suka, sorry orang Sulawesi dan Maluku. Nasi goreng di Thailand mengandung potongan nenas. Saudara sepupu saya yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, menggoreng nasinya dengan ikan teri dan irisan cabe merah, tanpa kecap manis tapi rasanya enak sekali.

Yang tak kalah enaknya adalah nasi goreng resep turun temurun dari keluarga Gho ini.

Bahan : 

3 porsi nasi putih dingin

3 sdm minyak goreng
5 buah bawang merah
​3 siung bawang putih – haluskan
5 lembar kol – rajang halus
Cabe rawit (sesuai selera) – iris
3 butir telur – kocok
Garam, merica, kecap manis, kecap asin (sesuai selera)

Cara :

1. Panaskan minyak di wajan, tumis bawang merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan. Tumis sampai mulai menguning dan wangi.
2. Masukkan rajangan kol. Aduk sampai setengah layu, kemudian masukkan irisan cabe rawit.

3. Pinggirkan kol yang sudah matang dan masukkan telur. Tunggu sampai telur agak kaku, baru aduk dan campurkan dengan tumisan kol tadi.

4. Beri garam dan merica. Masukkan nasi putih dan aduk rata.
5. Campurkan kecap manis dan kecap asin. Aduk dengan api besar.
6. Nasi goreng siap disajikan. Boleh taburi bawang merah goreng jika suka.

Advertisements

Resep Moachi

oleh Rose Chen

resep dan gambar oleh Lilian Gunawan

Sumber: http://www.patahtumbuh.com
20150708_moaci

Mochi (dari bahasa Jepang) atau moachi (sebutan di Taiwan) adalah penganan terbuat dari beras pulut.

Secara tradisional, mochi dibuat dengan susah payah dari beras pulut yang ditanak menjadi seperti nasi dan kemudian ditumbuk. Di Jepang festival menumbuk mochi disebut Mochisuki. Beras pulut yang sudah ditanak ditumbuk dalam lumpang dan alu oleh dua orang. Yang satu menumbuk, yang lain membalikkan pulut hingga menjadi adonan yang lengket, halus dan mulus.

Cara yang sama juga dipakai di Taiwan. Banyak pabrik di Taiwan yang terbuka untuk kunjungan kelompok (dengan membuat janji terlebih dahulu), seperti pabrik mie instant, coklat, dan lain-lain. Mereka biasanya menyediakan sarana untuk pengunjung melakukan DIY agar mendapatkan pengalaman langsung untuk lebih memahami proses dari awal hingga produksi mereka siap dilempar ke pasar.

Makan moachi yang lengket ini harus hati-hati. Jangan makan sesuap besar, tapi usahakan potong kecil-kecil saja terutama bagi orang tua dan anak-anak. Banyak kasus tersedak saat makan moachi, bahkan ada yang sampai meninggal. Begitupun karena rasanya yang enak orang tetap suka makan moachi. Apalagi moachi sekarang dibuat dengan segala macam variasi rasa, walau favorit saya tetap moachi dengan kacang tanah tumbuk, baik sebagai isi maupun sebagai lapisan luar saja.

Dengan kemajuan dalam segala bidang, sekarang pembuatan moachi tidak harus demikian repot lagi. Lilian Gunawan membagi kiat mudah membuat moachi kepada pembaca patahtumbuh.

20150629_moaci1

Bahan A:

1,5 cangkir tepung ketan
2 sdm maizena/tepung kanji
1 cangkir air
2 sdm gula pasir

Bahan B:

200 g kacang tanah – gongseng, buang kulitnya. Tumbuk 70% halus.
200 g gula pasir

Cara membuat:

1. Aduk bahan A sampai tercampur rata dan tuangkan di atas piring.

20150629_moaci3

2. Tutup dengan plastic wrap, biarkan sedikit terbuka di satu bagian.

20150629_moaci4

3. Masak dalam microwave 8 menit atau kukus 30 menit.

20150629_moaci5

4. Dinginkan.
5. Setelah dingin, masukkan ke dalam kantong plastik yang bagian dalamnya sudah dioles minyak sayur. Ulen adonan di meja.

20150629_moaci6

20150629_moaci7

6. Campur rata 3 sdm kacang tanah tumbuk dan 3 sdm gula pasir dalam wadah.

20150629_moaci820150629_moaci9.

7. Gunting-gunting moaci dan gulingkan dalam campuran kacang tanah tadi. Siap disajikan.

20150629_moaci10

Takut Terbang

Bulan Juni selalu identik dengan musim liburan. Jalan-jalan..asikkkkk. Ada satu bagian dari perjalanan yang bagi beberapa orang menjadi momok, yaitu harus ditempuh dengan pesawat terbang. Bepergian dengan pesawat terbang bisa menjadi pemicu stres dan menghilangkan minat untuk bepergian. Bukan hanya soal keterlambatan keberangkatan, bagasi hilang, bandara yang penuh sesak seperti pasar malam, tapi lebih mengganggu adalah takut terbang. Pernah dengar cerita seorang disainer terkenal di Indonesia yang selalu naik kereta api dari Semarang ke Jakarta, setiap kali ia punya acara di Jakarta? Ia sangat takut terbang dan selalu menghindari perjalanan yang harus ditempuh dengan pesawat terbang.

Suatu ketika saya berbincang dengan teman yang takut terbang, padahal pekerjaannya menuntut untuk sering melakukan kunjungan dinas ke daerah atau rapat di kantor pusat di luar negeri. Apa yang sebenarnya ditakutkan? Takut pada ketinggian, gamang, takut pesawatnya dibajak, takut kalau tiba-tiba mesin pesawat mati ketika lagi terbang, bagaimana kalau pesawatnya tiba-tiba kehilangan arah dan menabrak gunung. Jadi dapat dibayangkan bagaimana stres yang dialaminya setiap kali dapat tugas untuk ke luar kota yang harus ditempuh dengan pesawat terbang. Kadang-kadang ia sudah tidak bisa tidur beberapa malam sebelum hari H. Pada hari H, perutnya mulas, tiba-tiba sakit kepala hebat, atau berkeringat dingin ketika tiba di bandara, tapi ia tetap harus terbang.

Takut terbang adalah kasus yang cukup banyak ditemui, diperkirakan 20% dari populasi. Para ahli membagi orang yang takut terbang dalam tiga kategori:

1. Orang yang tidak pernah terbang atau sudah lima tahun tidak terbang meskipun ada kesempatan.
2. Orang yang terpaksa harus terbang karena tuntutan tugas dan dengan rasa takut yang luar biasa.
3. Orang yang terpaksa harus terbang karena tidak ada alternatif lain dan terbang dengan penuh rasa cemas.

Ada Apa Dibalik Takut Terbang

Kasus takut terbang dikategorikan sebagai salah satu bentuk phobia. Ketakutan yang tidak rasional, melebihi porsi normal dan lebih berkenaan dengan apa yang (mungkin) akan terjadi daripada apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya, ketika anda sedang berada di dalam pesawat, timbul asap dari mesin pesawat dan ternyata pilot sedang berusaha melakukan pendaratan darurat, kondisi ini adalah nyata dan setiap orang pasti cemas akan keselamatannya. Jika semuanya berjalan dengan normal, namun anda berkeringat dingin dan merasa sangat tidak nyaman seolah-olah akan terjadi sesuatu hal yang mengerikan, nah…itulah yang disebut kecemasan yang tidak normal.

Ada beberapa kemungkinan penyebab yang membuat seseorang takut terbang:

– Takut ketinggian
– Takut berada pada ruangan yang tertutup
– Duduk di tempat yang panas dan pengap
– Diminta untuk duduk tenang
– Cemas akan bahaya turbulensi
– Takut tidak bisa memakai perlengkapan penyelamatan diri
– Takut akan ancaman terorisme
– Berita kecelakaan pesawat
– Trauma, sebelumnya pernah mengalami kondisi yang menakutkan ketika sedang terbang.

Gejala Takut Terbang

Biasanya orang yang mengalami takut terbang menunjukkan dua gejala utama:

A. Gejala fisiologis :

– otot kaku
– tangan dan kaki gemetar
– nafas berat
– pencernaan terganggu, perut mulas
– berkeringat
– kepala pusing
– mulut kering
– wajah pucat atau memerah

B. Gejala psikologis:

– memori terganggu
– tidak bisa fokus
– bicara atau menjawab agak rancu
– mulai muncul pikiran-pikiran negatif

Tips Untuk Mengurangi Kecemasan Terbang:

  1. Pilihlah armada penerbangan yang menurut anda paling aman dan terpercaya.
  2. Ada baiknya juga membaca atau mencari tahu bagaimana pesawat beroperasi, kemungkinan apa yang akan dilakukan pilot ketika salah satu mesin pesawat tidak berfungsi atau ketika terjadi turbulensi di udara, suara apa yang timbul ketika pesawat akan tinggal landas atau mendarat. Dengan beberapa informasi dasar seperti ini, diharapkan dapat mengurangi kecemasan anda karena tahu bagaimana pilot akan mengatasi kejadian-kejadian tersebut.
  3. Membiasakan diri dengan sering melihat gambar pesawat juga mampu mengurangi kecemasan. Seorang yang takut terbang memasang wall paper pesawat yang sering ia tumpangi dalam setiap perjalanan dinasnya pada laptop dan komputer kantornya. Jadi setiap hari ia memandang gambar pesawat itu dan menjadi terbiasa (familiar) dan pesawat tidak menjadi sesuatu yang mengerikan lagi.
  4. Usahakan tiba di bandara lebih cepat dari yang seharusnya agar anda tidak perlu tergesa-gesa dengan segala persiapan check-in, bagasi, imigrasi dan sebagainya. Anda punya waktu untuk duduk dan santai sejenak sebelum boarding.
  5. Mintalah tempat duduk di gang ketika anda check-in pada petugas di counter. Dengan duduk di deretan gang, bisa mengurangi kesan sempit, terutama bagi yang mengalami claustrophobia (takut pada ruang sempit). Anda akan lebih leluasa untuk keluar masuk atau berjalan. Selain itu, dengan tidak melihat pemandangan luar dari jendela, anda akan merasa lebih nyaman karena mengurangi kecemasan berada pada ketinggian.
  6. Hindari menonton film atau membaca cerita tentang kecelakaan pesawat atau pesawat yang gagal terbang karena kerusakan mesin dan sebagainya. Pilih buku bacaan atau film yang ringan dan menghibur. Atau bawa perangkat MP3 player jika merasa lebih suka mendengarkan musik favorit anda.
  7. Hindari kafein dan alkohol karena justru akan membuat anda semakin gugup (nervous). Perbanyak minum air putih.
  8. Latihan pernafasan. Tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan 5 – 10 kali. Anda akan merasa lebih rileks setelahnya.

Terapi

Untuk kasus takut terbang yang dirasa sangat mengganggu dan anda tidak mampu lagi mengatasinya sendiri, ada baiknya menemui terapis untuk mendapatkan penanganan (treatment) yang lebih intensif.
Unsur utama dari usaha mengatasi takut terbang adalah menantang rasa takut itu sendiri. Semakin dihindari, semakin kuat rasa takutnya. Jadi semakin anda menghindari berpergian dengan pesawat, ketakutan anda akan semakin besar. Melihat pesawat yang parkir di bandara saja sudah membuat anda merinding dan gemetar.
Metode terapi kognitif (cognitive-behavioral therapy) paling sering digunakan untuk penanganan kasus takut terbang. Terapis akan membantu anda menyusun langkah-langkah untuk mengurangi kecemasan. Jadi anda akan dipandu secara bertahap menghadapi ketakutan itu hingga anda mampu untuk duduk dengan tenang di pesawat dan menguasai diri sendiri.

Pentingnya Memiliki Teman

Barusan saya buka profil facebook untuk melihat berapa jumlah teman saya di media sosial ini. Ternyata tidak sampai 200 nama yang tertinggal dalam daftar teman. Ini jumlah teman yang aktif berkomunikasi dan saling menyapa dengan saya. Lumayan lah, melebihi angka minimum 150 teman yang disebutkan sebagai angka rata-rata hubungan sosial yang dapat dipertahankan oleh tiap individu.

Angka 150 disebut Dunbar’s Number karena seorang peneliti, Robin Dunbar, menemukan korelasi antara ukuran otak primata dengan jumlah orang dalam kelompok sosialnya. Dunbar’s Number ini diterjemahkan sebagai jumlah teman yang ingin anda ajak untuk minum kopi bersama di kafe sambil ngobrol.

Tidak perlu dipertanyakan lagi sejauh mana pengaruh punya teman atau tidak dalam kehidupan sosial kita. Teman merupakan salah satu syarat utama yang wajib dimiliki untuk membuat hidup kita lebih berarti, membuat pikiran lebih sehat terlebih untuk kelompok yang semakin berumur.
Banyak penelitian neurosains yang membuktikan bahwa orang yang tetap memiliki hubungan sosial akan melindunginya dari proses dementia (pikun):

  • Wanita dengan lingkaran pertemanan yang luas, punya resiko penurunan kognitif yang lebih rendah ketika usia bertambah.
  • Kesepian menyebabkan resiko dementia menjadi dua kali lipat.
  • Keikutsertaaan dalam banyak kegiatan yang berbeda akan menambah daya tahan otak (brain resilience).

Profesor Timothy Smith mengatakan kemajuan teknologi membuat individu merasa tidak perlu dan tidak butuh berteman dalam arti sebenarnya. Kita jadi cenderung menyepelekan hubungan sosial (take for granted). Padahal, interaksi yang konstan tidak hanya berguna secara psikologis tapi juga bagi kesehatan fisik.

Bagaimana dinamika interaksi dengan orang lain bisa mempengaruhi daya tahan otak? Para neurosaintis sering membahas tentang ‘cadangan kognitif’, sejauh mana pikiran menggerus daya tahan otak. Interaksi antar manusia seperti tabungan yang membuat otak terus berfungsi. Kehidupan sosial yang sehat menuntut pikiran, perasaan, nalar dan intuisi. Keempat unsur itu membentuk cadangan sel otak yang sehat dan menambah susunan/formasi antar neuron di dalam otak kita. Jadi teman-teman yang baik dan cocok dengan kita perlu dipertahankan karena teman-teman inilah yang membuat kita hidup lebih lama.

Ada meta analisis dari 148 penelitian yang melibatkan 300.000 orang selama 7 tahun dan menyimpulkan bahwa orang-orang yang mempunyai hubungan sosial yang kuat dan baik, memiliki kemampuan bertahan hidup (survival) yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hubungan sosialnya kurang baik. Kondisi ini berkaitan dengan faktor kesepian.

Kondisi ketiadaan interaksi sosial setara dengan keadaan seperti di bawah ini:
– Merokok 15 batang per hari
– Alkoholik
– Lebih merugikan daripada sama sekali tidak berolahraga
– Dua kali lebih buruk daripada obesitas.

Jadi, sisi positif yang kita peroleh dari berteman bisa disimpulkan dalam beberapa poin:

  1. Melindungi kita dari proses dementia : Usahakan ikut kelas ketrampilan untuk mengasah hobi dengan mengajak teman-teman, seperti kursus menjahit, menyulam, melukis, menghias kue tart dan lain-lain. Ibu teman saya yang sudah berusia 70 tahun, mengikuti kursus piano dan sangat menikmati kegiatan baru ini.
  2. Membuat hidup lebih panjang (lama) :  Perluas jaringan pertemanan anda. Masuk dalam satu komunitas tertentu yang sesuai dengan hobi. Anda akan merasa lebih ‘in’ ketika berada dalam lingkaran teman yang punya selera dan hobi yang sama. Saya memperluas pertemanan dengan lebih aktif di dunia maya dan berinteraksi dengan teman baru yang satu ‘aliran’ atau satu selera. Ternyata tidak kalah menyenangkan dengan teman yang kita temui dalam pergaulan sehari-hari.
  3. Mengurangi stres : Buatlah janji dengan teman untuk berbelanja bersama, ke salon, memasak, ke bengkel atau sekedar mengunjungi teman lain yang sedang sakit atau bertemu dengan teman lama yang sedang berada di kota anda.
  4. Saling mendukung dan memberi semangat : Ingin lebih disiplin dan lebih rajin berolahraga? Ajaklah teman anda ikut serta. Saya merasa lebih bersemangat ikut kelas yoga atau pergi berenang setiap kali ada teman yang mendampingi.

Saling Memaafkan

Maaf lahir batin. Kalimat yang sering kita dengar ketika bulan Ramadhan dan Idul Fitri tiba. Apakah saling memberi maaf hanya dibutuhkan pada saat tertentu saja? Kata orang bijak, untuk mempertahankan hubungan yang sehat dan positif antar individu kita harus belajar untuk memaafkan. Memaafkan menjadi salah satu unsur penting dalam satu hubungan selain kepercayaan, kejujuran, keahlian berkomunikasi dan tenggang rasa.

Sekali waktu ketika masih SD, putera sulung saya memacu sepedanya dengan kencang dan ‘lupa’ mengurangi kecepatan ketika akan belok. Roda depan masuk got. Ia pulang dengan lutut luka, celana basah dan kotor. “Sori ya, Ma. Aku tadi ngepot-ngepot dan lupa ngerem.” Takut dimarahi, jadi sambil meringis menahan perih, tidak berani menangis karena tahu ini kesalahan sendiri. Setang sepeda juga bengkok. Pernah juga putera bungsu saya mematahkan cutter yang diambil dari meja tulis saya di rumah. Ia langsung kirim sms minta maaf: Sori Ma, aku matahin cutter Mama. Sepotong kata ‘sori’ itu melumerkan hati dan membuat saya tidak tega mengomel panjang lebar karena ia sudah minta maaf.

Kata teman saya: “Itu kan persoalan sepele jadi mudah untuk memberi maaf dan melupakan rasa gundah atau sakit hati. Gimana kalau dihadapkan pada kasus yang besar dan banyak merugikan?” Betul, memang mudah mengatakan kita harus memaafkan orang lain dan melupakan semua rasa sakit hati itu, tetapi pasti sulit untuk diterapkan. Lagipula tidak semua kondisi dapat dimaafkan dengan begitu saja seperti kasus ekstrim ayah yang memperkosa puterinya, kasus pembunuhan anggota keluarga, atau kasus pasangan yang berselingkuh.

Apa Memaafkan Itu?

Dalam pengertian saya, memaafkan sama dengan melepaskan semua pikiran negatif dan rasa tertekan yang membuat kita tidak nyaman karena perbuatan orang lain. Membebaskan diri dari hal-hal negatif yang lama kelamaan menjadi racun dalam diri kita. Memaafkan adalah suatu proses dan seringkali butuh waktu yang panjang untuk sampai pada tahap ‘rela’ dan ikhlas.

Memaafkan tidak berarti melupakan apa yang diperbuat orang lain pada kita atau menempatkan orang yang membuat kita sakit hati pada posisi yang sama seperti sebelumnya. Akan ada ‘tembok’ yang menjadi pemisah setelahnya. Jadi memaafkan tidak sama dengan melupakan atau rekonsiliasi hubungan. Kita memaafkan orang lain untuk mengobati luka di hati, meskipun bekas luka (scar) akan selalu ada.

Efek Memaafkan

Seberapa besarkah efek memaafkan itu? Secara umum, memaafkan diartikan sebagai keputusan untuk melepaskan kemarahan dan pikiran untuk balas dendam. Rasa sakit hati, marah dan tersinggung yang awalnya melekat pada diri kita, lambat laun akan mencair karena memaafkan. Memaafkan bahkan bisa mengarahkan kita menjadi lebih mengerti, menimbulkan empati atau rasa sayang pada orang yang menyakiti kita, membuat kita lebih fokus pada sisi positif dari kehidupan.

Dalam hubungan antar anggota keluarga, antar teman, maupun antar kolega, selalu timbul masalah beda pendapat, ketidakcocokan, atau rasa frustrasi dengan sikap orang lain. Bagaimana kita menyikapi setiap “drama”, menjadi faktor penting berhasil atau tidaknya suatu hubungan yang harmonis. Jika kita selalu bersikap antipati, penuh prasangka, curiga, dapat dipastikan hubungan itu tidak akan memberi rasa damai dan tenteram.

Artikel berjudul: “Forgiveness and Relationship Satisfaction Mediating Mechanism”, yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology, mengemukakan bahwa memaafkan menjadi salah satu atribut penting untuk menjaga hubungan tetap sehat dan langgeng karena pengaruh positif memaafkan, yaitu :

  1. Konflik dan pikiran negatif menjadi berkurang. Jika kita sedang marah atau sebal pada seseorang, meskipun hanya karena urusan sepele, kita cenderung hanya memperhatikan sisi negatif mereka, mencari-cari kesalahannya, mengungkit kesalahan yang dulu pernah ia lakukan. Bagaimana hubungan yang sehat bisa terbentuk jika kita selalu berkutat pada kesalahan atau rasa sakit hati yang sudah berlalu atau sering mengungkit dan menyindir.
  2. Mampu berpikir jernih dan rasional. Jika kita menganggap hubungan yang baik adalah investasi jangka panjang, maka perilaku dan bagaimana kita berinteraksi akan mencerminkan sejauh mana kita menginginkan hubungan ini berlangsung. Saling memaafkan bisa menjadi terapi yang menyembuhkan dalam satu hubungan. Membuat kita bisa berpikir lebih jernih dan menghindari pikiran irasional. Kadang kala yang dibutuhkan hanya rasa rela menghapus dan melepaskan emosi marah atau emosi negatif tersebut.
  3. Memberi rasa tenteram dan damai pada diri sendiri. Bisa dibayangkan jika kita tidak rela untuk memaafkan dan tetap menyimpan rasa kesal, ‘gerundelan’, marah atau bahkan dendam untuk waktu yang lama, siapa yang akhirnya makin dirugikan? Diri sendiri ,bukan? Kitalah yang membuat keputusan siapa, untuk hal apa dan kapan kita akan memaafkan.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum tiba pada keputusan untuk memaafkan:

  • Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa memaafkan akan membuat anda merasa lebih lega, bahagia dan sehat. Rasa marah atau dendam yang dipendam akan menjadi pemicu stres yang kronis. Hormon stres (hormon kortisol) akan meningkat setiap kali anda teringat pada kejadian yang membuat anda sakit hati dan marah. Dalam jangka panjang, kondisi fisik dan psikis anda akan terganggu.
  • Manfaat memaafkan dalam satu hubungan tergantung pada respons orang yang membuat anda marah atau tersinggung. Jika setelah memaafkan, ternyata orang tersebut terus bersikap menjengkelkan, tidak hormat atau tidak menghargai anda, maka anda akan merasa diperlakukan seperti ‘keset’ dan melunturkan rasa percaya diri anda. Kita bisa melihat banyak contoh seperti misalnya suami yang berselingkuh, isterinya memaafkan, tidak lama kemudian kembali berselingkuh. Asisten rumah tangga yang kedapatan mencuri, setelah dimaafkan, di lain kesempatan kembali mencuri. Rasa percaya diri kita akan bertambah jika orang yang sudah dimaafkan menunjukkan respons positif dan merubah perilakunya.
  • Dalam tiap hubungan antar individu, selalu akan timbul friksi dan membuat salah satu pihak merasa sakit hati jadi jika tidak ada kesempatan memaafkan, kita akan terus berputar dalam lingkaran yang negatif dan lama kelamaan akan menggerus hubungan tersebut.
  • Lebih mudah memaafkan orang yang melakukan kesalahan tanpa disadari atau yang tidak disengaja misalnya teman yang datang terlambat karena terjebak macet atau karena kendaraannya mogok, atau teman yang bicara ‘ceplas ceplos’ tentang suatu topik tanpa menyadari ternyata topik tersebut adalah hal yang sensitif bagi anda dan membuat anda tersinggung. Bandingkan dengan teman yang dengan sengaja mengunggah foto candid anda dalam pose atau busana yang kurang pantas ke media sosial, dengan tujuan untuk mempermalukan anda.
  • Penelitian neurosains yang memindai otak menunjukkan pusat emosi dalam sistem limbik (otak besar) tubuh meningkat ketika kita memutuskan untuk memaafkan. Emosi negatif berkurang.
  • Memaafkan bukan berarti menghapus kesalahan yang diperbuat oleh orang tersebut dan membiarkannya ‘lepas’ begitu saja. Kita berharap dengan memaafkan, orang tersebut dapat menarik pelajaran dari sikapnya yang merugikan orang lain dan tidak melakukan lagi agar tidak ada korban berikutnya.

Dalam psikoterapi, salah satu teknik terapi yang banyak diterapkan adalah forgiveness therapy. Teknik memaafkan. Dengan melepaskan emosi negatif yang dipendam lama dalam bawah sadar, individu akan merasa lega dan lebih bahagia. Emosi negatif yang terus disimpan akan membuat individu semakin tertekan dan mempengaruhi perilakunya.

Memang tidak mudah untuk memaafkan, tapi kita bisa mencoba dan membebaskan diri sendiri dari semua perasaan negatif yang mengungkung diri.

Mohon maaf lahir batin. Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri bagi pembaca patahtumbuh yang merayakan.

Vicky Idulfitri

Nempel Terus?…Duh

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang perilaku lekat (attachment behavior) khususnya pada anak-anak. Ada kondisi attachment yang dianggap terlalu berlebihan, ‘ekstrim’, sehingga menjadi masalah karena mengganggu kegiatan sehari-hari. Seperti komentar seorang sahabat patahtumbuh dalam artikel terdahulu, ia sampai trauma menghadapi anak bungsunya yang luar biasa lekat padanya. Lengket kayak lem kayu, begitu ia mendeskripsikan.

Saya ingat seorang teman saya yang puteranya sangat lekat dengan dirinya ketika si anak duduk di TK. Kebetulan waktu itu puteranya satu kelas dengan putera bungsu saya jadi setiap hari kami bertemu di sekolah. Teman ini kerap bersembunyi ketika ada acara sekolah agar anaknya bisa mengikuti acara dengan teman-temannya. Selalu ada drama menangis, kadang kala sampai meraung-raung mencari ibunya. Ia ingin ibunya berdiri di dekatnya dalam acara apapun, termasuk ketika duduk dan belajar di kelas.

Kondisi ini disebut dengan istilah attachment disorder dan insecure attachment. Jika kita memiliki anak yang terlalu lekat, sehingga ke toiletpun ia harus diajak masuk, secara emosional akan terasa melelahkan. Anak merasa tidak aman jika tidak melihat kita barang sedetikpun.
Ada Apa di Balik Attachment Disorder?
Anak yang terlalu lekat dengan ibu atau pengasuh seringkali mengalami kesulitan untuk dekat dengan orang lain. Ia hanya lekat dengan orang yang menjadi figur lekatnya. Merasa takut dan tidak percaya jika bersama orang lain, gamang dan selalu cemas. Mengapa ada anak yang menempel terus dan ada yang mandiri dan dengan mudah bersosialisasi? Jawabannya ada pada proses terjadinya kelekatan itu, bagaimana interaksi si anak dengan ibu atau pengasuh utamanya pada awal perkembangannya.
Menurut para ahli, attachment disorder merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman negatif si anak pada masa pertumbuhan awal. Jika dulu si anak sering merasa diabaikan, kebutuhannya tidak terpenuhi, orang sekitar terlihat tidak peka akan dirinya, atau apapun alasannya, mereka akan mengambil kesimpulan bahwa orang lain tidak dapat diandalkan dan dunia luar itu menakutkan dan membahayakan dirinya.
Perilaku reaktif terjadi ketika anak merasa tidak mampu lagi menarik perhatian pengasuh utamanya. Beberapa kondisi berikut ini bisa menjadi pencetusnya:

  • Bayi menangis karena lapar atau popoknya basah namun tidak ada yang merespons dan mendekatinya. Dibiarkan terus menangis hingga berhenti dengan sendirinya.
  • Tidak ada orang yang mengajaknya bercengkrama, bermain atau memanggil namanya. Bayi merasa kesepian dan sendiri.
  • Anak hanya akan mendapat respons dari orang sekitarnya ketika ia memperlihatkan aksi yang ekstrim seperti berteriak, melempar barang, memukul teman, dan lain sebagainya.
  • Anak yang menjadi pendiam karena mengalami pelecehan atau diperlakukan kasar.
  • Dengan aksi yang tertentu kadang-kadang anak mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi di lain kesempatan, ia tidak berhasil menarik perhatian. Anak jadi bingung, perilaku mana yang harus ia terapkan.
  • Lama dirawat di rumah sakit atau karena sesuatu hal anak harus dikarantina atau dipisahkan dari orang tua atau pengasuh utamanya.
  • Anak yang dipisahkan dari pengasuhnya dan diasuh oleh orang lain, seperti dalam kasus anak adopsi atau anak yang kehilangan orang tua.
  • Anak yang memiliki orang tua depresi atau sakit berkepanjangan sehingga tidak mampu memberikan perhatian yang cukup pada anak.

Hal ini bisa terjadi karena anak masih terlalu muda dan belum mengerti mengapa ia dipisahkan dari ibunya atau pengasuhnya dan harus diasuh oleh orang baru. Anak hanya merasa tidak ada yang memperdulikannya dan kesimpulannya: Dunia ini tidak aman.

Tanda-tanda Awal Attachment Disorder
Kondisi anak yang terlalu lekat bisa dikategorikan dari tingkat yang ringan hingga serius, yang disebut dengan reactive attachment disorder (RAD). Yang paling penting diperhatikan adalah tanda-tanda awal, bisa terlihat sejak masih bayi, seperti:
• Menghindari kontak mata langsung ketika diajak berbicara
• Tidak mau tersenyum
• Ketika hendak disentuh atau dipeluk, anak cenderung menghindar
• Atau ketika ia bersedia dipeluk, ia akan memeluk dengan kencang
• Tidak bereaksi ketika anda hendak menggendongnya misalnya tangannya tidak terjulur.
• Menolak dan memalingkan wajah ketika hendak ditenangkan
• Nampak tidak perduli ketika ditinggal sendiri
• Menangis
• Tidak mengeluarkan suara atau mencontoh suara aaaaa, uuuu, mammammam dan beberapa suara gumam bayi
• Pandangannya tidak mengikuti gerakan anda ketika beranjak dari depannya
• Tidak tertarik pada permainan interaktif atau yang menggunakan mainan
• Suka menggoyang-goyangkan tubuhnya dan asik dengan dirinya sendiri
• Suka melawan dan tidak patuh
• Tidak tertib dan suka bikin onar
Temper tantrum (‘ngamuk’, berteriak, guling-guling di lantai)
Tanda-tanda awal yang disebutkan di atas mirip dengan gejala anak yang mengalami ADHD (attention deficit and hyperactive disorder) dan autis. Jika anda menemukan beberapa gejala awal seperti ini pada anak, segera hubungi dokter anak atau profesional yang kompeten untuk mendapatkan diagnosis yang lebih tepat. Semakin awal dideteksi dan ditangani, anak akan menjadi lebih stabil dan mandiri sehingga tidak mengganggu tahapan perkembangan selanjutnya.
Tips Menghadapi Attachment Disorder
Menghadapi anak yang mengalami attachment disorder memang melelahkan secara emosional, timbul rasa frustrasi dan membuat diri kita menjadi sangat terikat pada kondisi anak.

  • Kunci utamanya tetap bersikap tenang namun tegas ketika menghadapi anak karena anak yang seperti ini telah mengalami banyak kejadian yang membuatnya stres dan cemas, jadi jangan tambahkan stes anak dengan memperlihatkan anda juga stres. Kendalikan stres diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu anak. Tunjukkan pada anak bahwa emosi dapat dikontrol.
  • Hal utama pada anak yang mengalami attachment disorder adalah soal tidak adanya rasa aman. Mereka membuat pagar yang tinggi untuk melindungi dirinya. Jadi fokuslah pada membentuk rasa aman itu. Berikan perhatian yang konsisten dan ajarkan aturan main pada anak.Perilaku bagaimana yang anda harapkan dari mereka, apa yang tidak boleh dilakukan, apa konsekuensinya jika mereka melanggar aturan main. Secara tidak langsung anda mengajarkan anak untuk belajar mengontrol diri dan perilakunya sendiri.
  • Bersikap realistis. Tidak perlu memasang harapan yang terlalu tinggi dengan langkah-langkah yang rumit. Fokus pada setiap langkah sederhana. Misalnya, deal dengan anak sebelum keluar dari rumah. Hari ini dia akan belajar duduk manis sendiri di kelas. Mama menunggu di luar kelas. Jika ia berhasil duduk di kelas tanpa menangis dan mencari Mama, ia akan mendapat hadiah kecil, es krim atau sebungkus biskuit kesukaannya.
  • Butuh banyak kesabaran. Proses membantu anak menghilangkan rasa gamang dan tidak percaya pada dunia sekitarnya, butuh banyak waktu sampai anak merasa yakin bahwa ia akan aman meskipun jauh dari figur lekatnya. Jadi jangan langsung memarahi anak karena akan membuat ia makin merasa tidak aman dan cemas.
  • Curhat pada teman atau anggota keluarga lain untuk meringankan beban emosional ketika rasa frustrasi mulai timbul. Bisa juga bergabung dengan komunitas yang memiliki anak bermasalah serupa (support group) agar saling memberi semangat.
  • Ciptakan rutinitas atau jadwal sehari-hari yang teratur karena anak akan merasa tidak nyaman jika sering ada perubahan mendadak.
  •  Jika ada acara kegiatan sekolah, seperti mengunjungi museum, ikut acara outbound dengan teman-teman sekolah, ikut lomba di sekolah lain, siapkan mental anak dengan memberikan beberapa pandangan apa yang mungkin ia temui pada saat berada di luar lingkungan sekolah. Yakinkan anak bahwa guru atau petugas lain yang ikut dalam rombongan itu, akan selalu siap membantunya.
  • Sering-seringlah merangkul, menggandeng atau memeluk anak agar ia yakin ada yang memperhatikannya dan sayang padanya. Bagi anak yang sejak kecil tidak terbiasa mendapatkan sentuhan fisik tersebut, mereka awalnya merasa agak risih dan menolak disentuh. Dekati anak dengan mulai menggenggam tangannya atau menyentuh bahunya.
  • Anak yang mengalami attachment disorder cenderung bersikap kekanak-kanakan, sikapnya tidak sesuai dengan tingkat usia biologisnya, seperti masih menangis berguling-guling di lantai meskipun sudah berusia 6 tahun. Untuk mengatasi ini, cobalah beberapa sikap non-verbal untuk menenangkan anak. Menarik halus lengannya, membelai kepalanya, atau memeluknya hingga ia tenang, baru kemudian diajak bicara.

Jika anak masih juga sulit ditangani atau tidak ada perubahan sikap yang signifikan, artinya anak butuh penanganan profesional. Biasanya akan ditangani dengan kombinasi beberapa terapi seperti konseling, terapi bermain, terapi keluarga, dan edukasi untuk orang tua atau pengasuh utamanya. (LG)

Nempel Kayak Perangko

 

“Anakku ini nempel kayak perangko. Ke manapun selalu ikut aku.” Itu komentar sahabat lama pada saat makan siang bersama, setelah hampir delapan tahun tidak bertemu. Ia hadir dengan puteranya, 10 tahun. Jelas terlihat ibu dan anak ini punya hubungan yang sehat dan menyenangkan.

Dalam psikologi, kedekatan anak dengan orang tua disebut attachment behavior. Dalam bahasa Indonesia, attachment diartikan sebagai kelekatan pada seseorang atau objek tertentu. Ini merupakan keterikatan emosional yang dalam dan kuat, yang menghubungkan satu orang dengan orang lain, lintas waktu dan ruang. Attachment tidak harus bersifat timbal balik antar kedua orang tersebut. Jadi bisa saja hanya sebelah pihak yang merasa sangat attached.

Chen n Mom

Saya sering menjumpai anak yang lekat dengan pengasuhnya, jadi ketika pengasuh tidak bekerja lagi dalam keluarga tersebut, anak merasa kehilangan. Bisa jadi mogok makan, rewel, sedih, sering menangis, karena ditinggal oleh pengasuh yang selama ini mendampinginya. Pada dasarnya, siapapun yang menjadi pengasuh utama anak (ibu atau suster) pada awal kehidupannya, cenderung menimbulkan kelekatan terlebih jika hubungannya terjalin dengan baik.

Teori Attachment Behavior

Teori attachment behavior pertama kali diutarakan oleh John Bowlby. Pada tahun 1930, Bowlby bekerja sebagai psikiater di Child Guidance Clinic di London di mana ia menangani banyak kasus anak-anak yang punya masalah emosi. Pengalaman ini menuntun Bowlby untuk mempelajari soal pentingnya hubungan anak dengan ibunya dalam hubungannya dengan perkembangan sosial, emosi dan kognitif anak. Anak yang memiliki hubungan dekat dengan ibu atau pengasuhnya, yang responsif terhadap kebutuhan-kebutuhannya, selalu ada pada saat dibutuhkan, memberi rasa nyaman dan aman bagi si anak, akan punya pengalaman yang menyenangkan pada masa kecilnya dan kepribadian yang lebih mapan.

Pada dasarnya teori attachment dikelompokkan menjadi dua:

1. Evolutionary Theory of Attachment
Teori ini menyebutkan bahwa anak lahir dengan program biologis yang sudah terbentuk sejak awal untuk memiliki attachment dengan orang lain sebagai salah satu kondisi yang membantu anak untuk bertahan hidup (survive). Bayi memberi reaksi dengan menangis, berteriak atau tersenyum untuk menarik respons pengasuhnya. Menurut Bowlby, awalnya anak membentuk attachment pada figur satu orang (monotropy) dan menjadikan figur itu sebagai basis yang aman baginya untuk mengeksplorasi dunia luar. Periode paling penting bagi perkembangan anak adalah pada usia 0 – 5 tahun pertama. Jika perilaku attachment tidak terbentuk pada masa ini, anak akan mengalami dampak perkembangan seperti kurangnya kecerdasan atau tambah agresif.

2. Learning / Behaviorist Theory of Attachment
Menurut teori ini, attachment adalah sekumpulan perilaku yang dipelajari. Dasarnya dimulai pada kebutuhan akan makanan, seperti bayi yang butuh makan akan mengembangkan attachment pada orang yang memberinya makan (biasanya ibu). Kenyamanan yang dirasakan ketika diberi makan akan diasosiasikan dengan rasa nyaman dekat dengan si pemberi makan. Proses ini dinamakan classical conditioning. Bayi juga belajar bahwa jika ia menangis atau tersenyum, ia akan mendapatkan balasan respons seperti perhatian, dipeluk atau digendong. Melalui proses yang disebut operant conditioning, bayi akan belajar merespons dengan mengulang perilaku yang sama untuk mendapatkan respons yang diinginkan (digendong, diganti popoknya atau diberi susu).

attachment-conditioning

Sumber: simplypsychology.org

Tahapan Attachment

Saat ini saya memiliki keponakan yang berusia tujuh bulan, puteri sepupu saya. Tiga bulan pertama sejak lahir, Sera merupakan bayi yang menyenangkan dan sangat murah senyum. Ia akan tersenyum lebar setiap kali diajak bermain cilukba atau disapa dan bahkan kaki tangannya akan bergerak riang ketika kita hendak menggendongnya. Namun sejak masuk usia 6 bulan, ia mulai mengernyitkan dahi dan terlihat tidak nyaman setiap kali didekati oleh orang yang tidak serumah atau yang biasa ia lihat. Dan sekarang, ia tidak mau lagi saya gendong. Selalu menangis dan berpaling. Ia hanya mau digendong ibunya atau pengasuhnya.

Banyak peneliti sepakat bahwa attachment behavior terbentuk dalam beberapa tahap. Rudolph Schaffer dan Peggy Emerson mempelajari perilaku 18 bulan pertama perkembangan 60 bayi. Bayi-bayi itu dikunjungi setiap bulannya untuk melihat perkembangan attachment behavior dengan ibu atau pengasuhnya. Hasilnya, ketika si pengasuh pergi atau tidak berada di dekat si bayi, timbul kecemasan pada bayi (separation anxiety).

Tahapan perkembangan attachment behavior yang dikemukakan oleh Schaffer dan Emerson adalah sebagai berikut:

– Usia 0 – 3 bulan : Bayi memberi respons yang sama pada setiap orang yang mendekatinya. Attachment belum spesifik pada orang tertentu (indiscriminate attachment).
– Setelah usia 4 bulan : Lebih suka pada orang-orang tertentu. Bayi mulai dapat membedakan siapa yang lebih sering mengasuhnya (pengasuh primer dan pengasuh sekunder), namun masih mau didekati dan digendong oleh siapa saja.
– Setelah usia 7 bulan : Mulai terbentuk attachment pada satu figur tertentu. Bayi akan selalu mencari figur utama yang dirasa memberikan rasa aman dan nyaman. Akan menangis jika didekati oleh orang yang asing (takut pada orang asing) dan tampak tidak nyaman jika dipisahkan dari figur utama yang paling sering mengasuhnya (separation anxiety).
– Setelah usia 9 bulan : Bayi mulai mandiri dan dapat mengembangkan attachment pada beberapa orang yang sering berada di sekitarnya (ibu,ayah, kakek, nenek, kakak, suster).

Hasil pemantauan kedua peneliti ini menunjukkan bahwa attachment behavior cenderung terbentuk dengan orang yang peka menangkap ‘sinyal’ yang diberikan si bayi. Schaffer dan Emerson menyebutnya sebagai respons yang sensitif (sensitive responsiveness). Ibu adalah figur utama bagi separuh anak di bawah usia 18 bulan. Yang terpenting bukan siapa yang setiap hari memberinya makan atau mengganti popoknya, tapi siapa yang paling sering mengajaknya bermain atau berkomunikasi dengannya. Jadi, jika ingin anak dekat dengan anda, sering-seringlah mengajaknya bermain atau mengobrol. Anak akan selalu ingat dan merindukan anda.

Bagaimana Attachment Mempengaruhi Perilaku?

Menurut Bowlby, anak membentuk suatu model internal dalam dirinya tentang bagaimana suatu relasi terbentuk dari pengalaman masa kecilnya dengan figur lekatnya. Yang menjadi model bagi anak biasanya memberi contoh bagaimana mengatasi suatu masalah, bagaimana berteman, bagaimana berbicara dengan guru atau teman, dan lain sebagainya. Nah, contoh-contoh ini akan menjadi ‘template’ bagi anak dan diaplikasikan pada relasinya kelak dengan orang lain.

Kualitas hubungan antara anak dengan orang tua merupakan salah satu faktor terpenting dalam perkembangan kepribadian anak kelak. Dari 69 penelitian yang melibatkan hampir 6000 anak di bawah usia 12 tahun yang dilakukan di beberapa universitas di Inggris, Belanda dan Amerika, menunjukkan bahwa anak, khusunya anak laki-laki, yang memiliki hubungan tidak harmonis dengan ibunya pada masa perkembangan awal, cenderung punya masalah perilaku pada masa perkembangan berikutnya. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Child Development, Maret-April 2010. ( Sumber: Psychology & Sociology).

Anak yang merasa aman dengan figur lekatnya, akan mendapat perlakuan hangat, sensitif dan responsif yang konsisten dari sang figur dan menikmati hubungan yang terjalin. Pengalaman ini akan terpateri dalam dirinya dan kelak akan memiliki beberapa ciri kepribadian sebagai berikut:

– Cenderung memiliki pandangan hidup yang positif
– Tahu bagaimana berinteraksi dengan lingkungan
– Punya relasi sosial yang baik
– Disenangi banyak orang
– Tidak mudah putus asa
– Punya rasa percaya yang tinggi
– Emosi lebih stabil
– Lebih mudah beradaptasi pada lingkungan
– Mampu mengekspresikan perasaan dengan lebih baik
– Memecahkan masalah dengan baik (good problem solver)
– Prestasi di sekolah cemerlang.

Bagi anak-anak yang di masa kecilnya tidak punya figur lekat, cenderung sulit percaya pada orang lain, karena selama ini tidak ada orang yang dirasa dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi dirinya. Anak merasa dirinya tidak layak untuk dicintai dan tidak percaya orang lain perduli pada dirinya. Sebagai mekanisme pertahanan diri, mereka menjadi apatis dan bersikap tidak perduli pada orang lain, tidak punya empati, namun sebenarnya di dalam dirinya ada perasaan terluka, sedih dan marah. Itu sebabnya kenapa mereka cenderung akan memiliki sifat dependen yang tinggi pada orang lain dan suka menuntut. Pemarah, gelisah, impulsif, mudah frustrasi, memiliki rasa percaya diri yang rendah dan sering menjadi target bully. Suka mencari perhatian pada guru dengan menciptakan konflik atau masalah di kelas, menjadi agresif dan bahkan merusak.

Jadi jelas digambarkan pengaruh dari kelekatan hubungan anak dengan orang yang hadir pada masa-masa awal kehidupannya, dalam hal ini pengasuh utamanya (caregiver). Usahakan selalu menjalin hubungan yang hangat dengan anak dan menjadi figur lekat anak.