Ambon: Mutiara Di Timur Indonesia

Semerbak wangi minyak kayu putih memenuhi koper kabin yang saya bawa dan    wanginya tetap awet hingga kini meskipun isi koper sudah dikosongkan. Minyak kayu putih dari Ambon yang ditenteng dalam penerbangan 3 jam 8 menit Ambon – Jakarta, ditambah lagi 1 jam 25 menit untuk tiba dengan utuh tanpa tumpah di barat Sumatera.

Minyak kayu putih ini akan selalu mengingatkan saya pada Ambon, destinasi liburan saya baru-baru ini. 6 hari 5 malam cukup untuk menjelajahi kota dan 2/3 pulau Ambon dari ujung ke ujung (kecuali sisi utaranya). Destinasi yang membuat beberapa teman mengetikkan sederetan tanda tanya pada timeline saya ketika dijawab sedang di Ambon. Kamu lagi di Ambon ???? Ngapain liburan ke sana??? Jauh kan. Tiketnya pasti mahal. Apa aman tuh di Ambon? Yang bener aja, liburan koq ke Ambon??? Kekhawatiran ini muncul mungkin karena Ambon sempat diguncang kerusuhan sosial bermotif SARA antara tahun 1999 – 2002.

Ambon menyelinap dalam pikiran dan hati saya ketika seorang sahabat bercerita tentang rencana liburannya ke sana. Keputusan mendadak untuk ikut ke Ambon ternyata meninggalkan kesan yang dalam dan membuka mata saya tentang suasana di Indonesia bagian Timur.

wpid-2014727060248.jpg

wpid-ambon-city.jpg.jpeg

Ambon Manise artinya Ambon yang indah, manis dan cantik. Disebut juga dengan Amboina. Begitu menjejakkan kaki di bandara Pattimura, sudah terasa suasana yang tenang, tidak hiruk pikuk. Ini artinya saya harus siap melambatkan derap hati dan pikiran, menikmati suasana rileks. Ahaaa….inilah tujuannya berlibur. Saya datang ke sini memang untuk mengisi kembali baterai, recharge body and soul.

10596193_10202303643894386_208479016_n

Butuh sekitar 45 menit untuk tiba di pusat kota tempat kami menginap karena lokasi bandara 40 km dari pusat kota yang berada di jazirah seberang  (pulau Ambon terdiri dari 2 jazirah besar yang membentuk huruf ‘U’, dengan Teluk Ambon di bagian tengahnya). Kondisi jalan sangat bagus dan lingkungan bersih, jalanan tidak terlalu ramai. Terlihat bahwa Ambon sudah berbenah diri dan berpotensi untuk menjadi salah satu kota yang akan maju pesat di timur Indonesia. Jika Jembatan Merah Putih, jembatan yang menghubungkan 2 jazirah tersebut selesai tahun depan, waktu tempuh bandara – kota ini akan dipersingkat menjadi lebih kurang 10 menit saja.

Dua teman baru kami di Ambon, dengan semangat langsung menyusun daftar tempat yang akan dikunjungi dalam beberapa hari ke depan. Kebanyakan turis asing berkunjung ke Ambon untuk tujuan utama snorkeling atau menyelam menikmati keindahan pemandangan bawah laut di pulau-pulau eksotik Maluku. Tapi kali ini tujuan kami adalah menikmati suasana kota, menyusuri pulau Ambon dan wisata kuliner.

Ambon  merupakan potret kota yang plural karena ada beberapa etnis di sini :  Alifuru (asli Maluku), Jawa, Bali, Buton, Bugis, Makassar, Papua, Melayu, Minahasa, Minang, Flobamora (suku Flores, Sumba, Alor dan Timor) dan orang-orang keturunan asing (komunitas peranakan Tionghoa, komunitas Arab-Ambon, komunitas Spanyol-Ambon, komunitas Portugis-Ambon dan komunitas Belanda-Ambon).

Untuk beberapa hari ke depan, kami akan membiasakan diri dengan panggilan Usi, Bu(ng), Caca atau Abang. Usi dan Bu(ng) adalah panggilan untuk wanita dan pria Kristen. Caca dan Abang untuk yang Muslim. Hari pertama di Ambon, kami masih beberapa kali memanggil Mbak atau Mas. Hahahah…

Nuansa kultur sebagai kota Kristen terasa sangat kental. Gereja ada di mana-mana. Banyak rumah penduduk yang masih dihiasi dengan aksesori Paskah, dengan salib besar di taman depan rumah atau umbul-umbul aneka ragam. Menarik dan mengesankan. Saya lahir dan besar di barat Sumatera dan terbiasa dengan suara adzan. Sejak kecil rumah saya selalu dekat dengan mesjid dan suara adzan menjadi bagian dari keseharian. Terlebih dalam suasana Idul Fitri begini. Jadi kalau ada yang terasa kurang di Ambon adalah karena saya nyaris tidak mendengar suara adzan selama disini.

Ini bisa terjadi karena ada pembagian wilayah pemukiman secara alami antara warga Kristen dan Muslim. Di setiap perbatasan wilayah selalu ada pos keamanan dan dijaga oleh aparat. Daerah yang paling sering menjadi tempat pertemuan jika ada perselisihan kedua kelompok adalah di Batu Merah. Kita akan melewati daerah Batu Merah jika turun dari bandara menuju ke pusat kota.

Mau Ke Mana Di Ambon?

Di Ambon tidak ada taksi, hanya ada angkot, becak dan ojek.  Anda dapat menyewa mobil jika ingin mobilitas di sini lebih nyaman. Becak dan ojek mudah ditemui di setiap tempat. Kami sempat menikmati keliling kota Ambon dengan berbecak-ria. Menyusuri jalanan yang masih sepi karena banyak toko yang tutup pada hari Minggu, singgah di pasar tradisional yang suasananya tidak berbeda jauh dengan pasar di tempat saya tinggal, mampir sana-sini dengan dengan bekal beberapa print-out  informasi dari web.

wpid-img_20140727_143259.jpg

Gereja Katedral – Keuskupan Amboina di jalan Pattimura.  Bangunan tua yang masih terawat dan cukup megah. Di halaman samping gereja ada relief yang mengisahkan tentang awal mula misionaris tiba di Ambon, termasuk para misionaris yang tewas terbunuh oleh tentara Jepang pada Perang Dunia II, hingga siapa Uskup Ambon sekarang ini.

wpid-2014727185522.jpgwpid-2014727122445.jpg

Gong Perdamaian (World Peace Gong) – di seberang kantor Gubernur Ambon. Ini adalah gong perdamaian dunia yang ke-39 sebagai peringatan tragedi kerusuhan sosial yang bermotif SARA di Ambon.

Gong Perdamaian

Lapangan Merdeka – taman luas di depan kantor Gubernur. Ada patung Pattimura di taman ini. Seperti yang kita pelajari dari pelajaran sejarah di bangku SD dulu,  Pattimura adalah pahlawan Ambon yang dihormati. Nama aslinya Thomas Matulessy, yang memimpin pemberontakan melawan Belanda pada tahun 1817 dan berhasil menduduki benteng di Saparua. Semua tentara penjaga benteng itu terbunuh kecuali seorang anak Belanda berusia 6 tahun. Karena menyelamatkan nyawa anak kecil ini, Matulessy diberi nama Pattimura oleh warga setempat. Pattimura artinya orang yang baik hati.

wpid-2014727125058.jpg

Tugu Dolan, berada di tengah kota Ambon yaitu di daerah Kuda Mati, Ini adalah monumen Australia untuk prajurit bernama Dolan yang pada Perang Dunia II mengalahkan banyak tentara Jepang dan tertembak mati ketika menjadi perisai bagi rekan-rekan serdadu lainnya.

 wpid-img_20140812_105346.jpg

wpid-img_20140812_105415.jpg

Monumen Christina Martha Tiahahu di Karang Panjang dengan pemandangan ke Teluk Ambon yang indah. Christina adalah gadis muda yang anti kolonial, bertempur bersama ayahnya melawan pasukan Belanda pada awal abad ke-19. Ketika ayahnya ditangkap, Christina melanjutkan perjuangannya dan akhirnya meninggal karena mogok makan.

wpid-monumen-christina-m.-tiahahu.jpg.jpeg

The Commonwealth War Cemetery – kompleks kuburan pasukan sekutu, sebagian besar adalah serdadu Australia,  yang tewas pada pertempuran melawan Jepang dalam Perang Dunia II. Lokasi ini dikelilingi oleh taman yang indah dan sering dipakai sebagai lokasi foto-foto pre-wedding oleh pasangan calon pengantin di Ambon. Peperangan menyisakan keterikatan yang kuat antara warga Australia dengan Ambon hingga saat ini. Setiap tahun di sini diadakan  lomba perahu layar (Sail Banda) dari Darwin ke Ambon.

 10596141_10202302620788809_975428556_n

Satu hal yang menarik adalah – berbeda dengan kota-kota lain – hampir semua tugu, patung ataupun taman yang dijadikan sebagai objek monumental, sampai sekarang masih terawat dengan rapi. Hmm … ungkapan ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya’ terasa sangat bermakna disini.

Pantai Pintu Kota – di daerah Airlouw, sebelah selatan pulau Ambon, merupakan pantai karang yang indah. Jika anda tiba di sini pada saat air laut  surut, akan terlihat bentuk karang yang menyerupai gerbang. Pemandangan yang menakjubkan. Di sini juga merupakan tempat snorkeling yang diminati para turis asing terlebih jika laut sedang tenang. Anda dapat menapaki jalan kecil ke puncak bukit karang dan menikmati hamparan pemandangan spektakular pegunungan Leitimur dan pantai yang menghipnotis mata. Sungguh menakjubkan.

wpid-2014728151047.jpg

wpid-pintu-kota.jpg.jpeg

Goa Maria Airlouw – di Latuhalat. Ini menjadi destinasi tambahan dalam daftar rute kami karena informasi dari salah satu warga gereja yang kami temui Minggu malam pertama di Ambon. Dengan berbekal informasi seadanya, kami mencoba menelusuri daerah Latuhalat dan akhirnya tiba di pemukiman Kristen Airlouw. Tempatnya cukup terpencil namun penduduk setempat sangat ramah dan dengan senang hati memberikan petunjuk arah.wpid-c360_2014-07-29-11-29-20-844.jpgGoa Maria Arlouw

Ternyata, kompleks ini sangat indah dan masih dalam pembangunan. Direncanakan pada bulan Oktober 2015 akan diresmikan. Yang menarik adalah dinding bangunan gereja kecil itu dibuat dari batu bata bubur kertas. Bapak penjaga gereja bercerita, ada seorang misionaris berkebangsaan Austria yang mengajarkan penduduk membuat batu bata dari bubur kertas. Ini adalah teknik yang digunakan untuk membangun rumah anti gempa di Aceh. Batu bata itu akan melekat kuat dengan semen jadi tidak mudah roboh jika terguncang gempa. Penduduk desa ini hampir semua berasal dari pulau Seram, kata si bapak penjaga.

wpid-2014728170954.jpg

Tidak jauh dari pantai Pintu Kota, ada perkampungan Kristen, Waai, di sebelah timur Leihitu, sekitar 24 km dari kota Ambon. Ada belut raksasa yang dianggap keramat oleh warga sekitar, akan dipancing keluar oleh sang pawang dengan beberapa butir telur ayam, dari lubang yang berada di bawah dinding saluran air. Belut akan keluar ke kolam kecil yang airnya sangat bening, tempat warga mencuci pakaian dan mandi. Konon kabarnya, jika kita berhasil melihat belut keramat ini keluar dari lubang dan berenang di kolam kecil itu, artinya akan membawa peruntungan baik bagi yang sedang berkunjung ke sana. Saat itu ada dua ekor belut keluar dari persembunyiannya dan teman seperjalanan saya turun ke kolam memegang belut. Semoga peruntungan baik menyertai kami…☺ Oya, belut di Ambon disebut morea.

9 belut raksasa

wpid-2014729134058.jpg

Pantai Liang – di perkampungan Liang, di ujung Leihitu. Pantai berpasir putih yang membentang sepanjang garis pantai dan ramai dikunjungi warga setempat karena bertepatan dengan libur Lebaran. Ciri khas pantai Liang adalah adanya dermaga.

Pantai Namalatu & Pantai Santai – di daerah Latuhalat. Anda akan ditawari rujak atau pisang goreng oleh warga setempat yang menjajakannya di sepanjang pantai.

Latuhalat

Museum Siwalima – di daerah Latuhalat. Berisi peralatan perang pasukan Pattimura dulu.

wpid-img_20140812_115701.jpgwpid-img_20140812_115711.jpg

Pantai Natsepa – pantai paling populer di Ambon, berada di tepi Teluk Baguala. Deretan kios yang menjual rujak menjadi pemandangan pertama yang akan dijumpai sepanjang jalan menuju ke resort. Hanya ada satu resort di daerah ini, The Natsepa Resort. Resort ini sedang dalam proses rebranding setelah melepaskan diri dari manajemen Aston Hotels Group sejak Desember 2013. Tempat yang nyaman sekali untuk rileks dan beristirahat.

wpid-2014729172102.jpg

 

wpid-banana-boat.jpg.jpeg

wpid-2014730100145.jpg

Mesjid Al Fattah berada di Jl. Sultan Baabulah pusat kota yang sekaligus menjadi batas antara pemukiman Muslim dan Kristen.

4 mesjid al fattah

Desa Alang – di desa ini ada gereja yang cukup megah bernama Imanuel. Posisi gereja yang berada di atas sebuah bukit yang sangat asri dan dikelilingi jalan membuat suasananya terasa teduh.

10601012_10202302629029015_45880960_n

Batu Kapal – Larike. Berada di jazirah Leihitu, Maluku Tengah, melewati jalan sempit menanjak dengan suguhan pemandangan luar biasa indah di sisi kiri,  memandang lepas ke Teluk Ambon, sementara di kanan jalan adalah hutan yang masih asri. Butuh sekitar satu jam lebih dari pusat kota untuk tiba di lokasi ini, melewati jalan model gang-gang kecil  di pemukiman Muslim, melintasi desa-desa seperti Laha, Hatu dan Liliboy. Di sinilah kita dapat merasakan nuansa kehidupan kaum Muslim Ambon. Di tengah laut biru yang mempesona, ada batu besar yang berbentuk bundar.

wpid-batu-kapal.jpg.jpeg

Batu Layar, Larike – Tidak jauh dari lokasi Batu Kapal, kita akan tiba di Batu Layar, yang merupakan ikon desa Larike.  Bentuk batu karangnya menjulang tinggi menyerupai layar kapal. Ini salah satu daerah yang layak dikunjungi di Ambon dan seyogyanya dilestarikan dan dipromosikan lebih gencar sebagai tujuan wisata utama di Ambon, selain pulau dan pantainya.

wpid-2014730152411.jpgwpid-2014730151629.jpgwpid-2014730151654.jpg

6 hari 5 malam di Ambon ternyata tidak cukup untuk menjelajahi keseluruhan wilayah. Pulau Ora (yang mendapat julukan The Little Maldives of Indonesia) yang berada di sisi utara Pulau Seram, Kepulauan Banda, dengan Banda Neira dan sekitarnya, Pulau Pombo,  dan lainnya. Saya akan kembali untuk menikmati hembusan angin lautnya, menikmati pasir putihnya, menikmati air laut yang biru membius. Suatu waktu nanti.

Hampir seminggu di sana, waktu terasa berputar lebih lambat. Makna dari sebuah perjalanan berbeda untuk setiap orang, namun bagi saya, tujuan utama suatu perjalanan adalah untuk recharge energi, hati dan pikiran. Pulang membawa setangki penuh energi baru, kesan baru, satu bab tambahan dalam lembar kehidupan yang akan menjadi kenangan baru, dan yang tidak kalah penting, saya mendapat dua teman baru di sana.

 

Advertisements