Menyampaikan Kabar Buruk

Seminggu terakhir di bulan Agustus, ada kabar buruk dari seorang sahabat. Belum reda rasa shock dan sedih di hati, muncul lagi kabar buruk lainnya. Hingga awal minggu pertama bulan September ini, sudah lima kabar buruk yang disampaikan pada saya dan membuat hati ciut karena menyangkut kabar tentang orang-orang yang saya kenal dekat.

Sahabat saya bercerita tentang ibunya yang dipanggil Tuhan beberapa tahun yang lalu setelah menjalani kemoterapi untuk kanker paru-paru. Satu hal yang ia ingat dengan jelas, bagaimana sikap dokter ketika menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium kepada sang ibunda. Dengan suara yang tenang, senyum tipis dan kata-kata yang simpatik sambil menggenggam tangan pasien, dokter mengatakan bahwa hasil sudah keluar dan ada semacam selaput di paru-paru. Positif kanker. Tidak perlu terlalu khawatir karena akan dibantu semaksimal mungkin dengan pengobatan dan lain-lain. Ibu dan mereka semua yang berada dalam ruangan itu tidak shock, tidak menangis histeris, hanya menggangguk perlahan dan dengan tenang mendengarkan penjelasan dokter selanjutnya.

Bisa anda bayangkan bagaimana reaksi pasien dan keluarga jika dokter menyampaikan berita yang tidak ingin kita dengar dengan suara datar, wajah tegang, dan tatapan mata yang dingin dan dengan kalimat: Kanker Ibu anda sudah berada di stadium akhir dan tidak banyak yang dapat kami lakukan lagi. Kemungkinan sembuh hanya sekian persen bla bla bla. Dapat dipastikan suasana dalam ruangan dokter terasa makin mencekam.

Setiap kali mendapat tugas sebagai messenger untuk menyampaikan kabar buruk kepada teman atau saudara,, membuat saya tidak bisa tidur sepanjang malam, memikirkan dan menyusun kata-kata yang harus saya ucapkan pada orang yang bersangkutan. Suara tersendat dan kata-kata terasa tercekat di tenggorokan dan telapak tangan dingin. Tidak tega untuk menyampaikan berita yang membuat hati ciut, namun tetap harus disampaikan.

Setiap informasi negatif yang dapat mempengaruhi kondisi orang yang menerima, membuat orang shock dan tidak siap untuk mendengarkan, dikategorikan sebagai kabar buruk. Misalnya pasien yang diberitahu tentang sakit punggung yang selama ini mengganggu ternyata adalah efek dari kanker payudaranya yang kembali aktif. Berita tentang kecelakaan atau keputusan top management menghapus departemen tertentu sebagai langkah efisiensi kantor dan itu berarti akan ada pemutusan hubungan kerja. Kabar tentang putera kita yang gagal dalam saringan masuk universitas idamannya atau gagal terpilih sebagai anggota tim inti di kampusnya dan juga kabar pacar yang memutuskan hubungan dengan alasan apapun.

Kita jauh lebih senang menyampaikan berita gembira; sebaliknya, secara psikologis lebih tertekan ketika menyampaikan kabar buruk. Kesulitan menyampaikan kabar buruk atau negatif sering disebut dengan istilah MUM effect (merahasiakan berita buruk dari ibu). Dalam penelitian tentang MUM effect, Jason Dibble dan koleganya dari Hope College, mendefinisikan kabar buruk sebagai informasi yang belum diketahui oleh si penerima, berita yang dihindari dan membawa efek negatif bagi si penerima. Tesser dan koleganya menyimpulkan bahwa orang yang menjadi messenger sering mengalami kecemasan, merasa terbebani oleh tanggung jawab menyampaikan kabar buruk dan takut akan efek negatif sebagai pembawa kabar. Akhirnya timbul stres.

Para peneliti dari Hope College melakukan dua penelitian yang meliputi penyampaian kabar baik vs kabar buruk dan kabar yang disensor/diedit vs kabar yang tidak disensor/tidak diedit. Menurut hipotesa para peneliti, kabar buruk yang tidak disensor/tidak diedit membutuhkan persiapan lebih lama sebelum disampaikan dan akan memberi dampak terburuk bagi si penerima.

Menurut ‘teori kesopanan’ (politeness theory), ketika menyampaikan kabar buruk, individu akan memperlihatkan ekspresi wajah negatif. Pembawa kabar buruk takut disalahkan, merasa cemas karena membuat orang lain sedih.

Studi lain yang dilakukan oleh Valerie Igier dan kawan-kawan di Mirail University, meneliti tentang bagaimana persepsi pasien, keluarga pasien dan tenaga medis dalam proses penyampaian kabar buruk mengenai prognosis kesehatan pasien. Dari 140 responden dari pihak pasien dan 50 perawat yang disurvei, hanya seperempat dari jumlah keseluruhan responden yang lebih setuju jika pasien diberitahu dengan transparan kondisi yang sebenarnya. Lebih dari sepertiga responden ingin agar keluarga pasien diberitahukan terlebih dahulu, sebelum pasien. Hanya 13% responden yang berpendapat kondisi kesehatan pasien yang sebenarnya tidak perlu disampaikan pada pasien. Jadi nampak jelas bahwa kebanyakan orang tetap ingin mendengar kabar seburuk apapun dan keterlibatan anggota keluarga sangat penting sebagai pemberi dukungan dan mengurangi ketegangan dalam situasi yang tidak nyaman.

Tidak ada cara terbaik untuk menyampaikan kabar buruk karena setiap berita buruk berpotensi membuat si penerima sedih dan merasa tidak nyaman. Beberapa pedoman di bawah ini diharapkan dapat menjadi acuan:

  • Sampaikan setidaknya sebagian dari kabar yang sebenarnya kepada orang bersangkutan, apakah itu mengenai prognosis kesehatan yang buruk, atau sekilas kabar tentang pegawai yang akan dipecat karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi.
  • Jika anda merasa orang tersebut tidak sanggup menerima kabar buruk yang hendak disampaikan, cobalah mempermanis atau memoles beritanya dengan melihat dari sisi positif.
  • Ikuti prinsip dari teori kesopanan. Jika kabar buruk yang akan disampaikan menyangkut reputasi seseorang yang berpotensi menyinggung harga dirinya, ada baiknya kita membantunya dengan mengarang cerita agar ia tidak kehilangan muka di depan orang lain. Jadi yang tahu kejadian sebenarnya hanya anda dan orang yang bersangkutan. Orang luar tidak perlu tahu semua detil.
  • Siapkan diri anda dengan baik sebelum menyampaikan kabar buruk tersebut. Pikirkan bagaimana penyampaiannya agar tidak membuat orang yang menerima kabar buruk salah pengertian, tersinggung, membuat suasana makin runyam.
  • Pilih waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar buruk. Pemutusan hubungan kerja biasanya diberitahukan pada pegawai yang bersangkutan pada hari Jumat sore. Memutuskan suatu hubungan, misalnya, sebaiknya tidak dilakukan pada saat liburan atau pesta keluarga karena jelas akan merusak suasana yang menyenangkan saat itu. Lakukanlah sebelum atau sesudahnya agar setidaknya masih ada kenangan indah yang dinikmati bersama sebelum semuanya berlalu.
  • Ajak teman atau anggota keluarga yang mengenal dengan baik dan mengerti kondisi orang yang bersangkutan untuk membantu anda menyampaikan kabar negatif ini.
  • Sampaikan kabar dengan kalimat sederhana, tidak bertele-tele dan jelas.
  • Menyampaikan kabar buruk bisa juga dengan tulisan karena tidak perlu melihat reaksi si penerima setelah itu. Jika si penerima kabar adalah orang yang dekat dengan kita, seseorang yang spesial, ada baiknya disampaikan secara langsung dengan bertemu muka.

Tidak ada orang yang senang menerima kabar buruk meskipun hanya sekedar kabar pesanan makanan favorit anda sudah habis atau kiriman paket anda hilang atau rusak. Rasa sedih dan tidak nyaman selalu muncul meskipun pacar anda telah mencari alasan paling netral dan ‘semi positif’ untuk menyelamatkan wajahnya ketika ia memutuskan hubungan, seperti: Kamu terlalu baik untuk menjadi pasanganku. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Ini salahku, aku yang bermasalah, aku yang belum matang dan belum siap untuk berkomitmen bla bla bla. Atau atasan yang menyampaikan berita pemutusan hubungan kerja dengan kalimat: Perusahaan defisit dan pihak manajemen memutuskan untuk mengurangi karyawan dan memangkas biaya. Kalimat seperti itu akan terasa lebih netral daripada kata-kata: Kinerja anda tidak memenuhi standar kerja di perusahaan ini. Maaf, kami tidak dapat memperpanjang kontrak anda.

Jadi, apapun reaksi dari orang yang menerima kabar buruk tersebut, setidaknya sudah dapat diantisipasi dan sebagai pembawa kabar, anda lebih siap mental dan tahu bagaimana mengatasi situasi sulit yang mungkin timbul.

Rambu-rambu Jejaring Sosial

Januari 2014 menandai 10 tahun hadirnya Facebook, jejaring sosial yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, menempati posisi ke-462 pada daftar Fortune 500 sejak bergabung pada bulan Mei 2013. Seperti kata Sheryl Sandber, Chief Operating Officer Facebook pada acara perayaan ulang tahun ke-10 perusahaannya: “Mark Zuckerberg selalu mengatakan Facebook dibentuk bukan hanya sekedar sebagai suatu perusahaan, tapi untuk memenuhi visi menghubungkan dunia.” Tujuannya berhasil,
Facebook populer karena membantu mencari jejak teman-teman lama, mengingat ulang tahun teman, menggoda teman dengan melemparkan komentar-komentar ringan atau menjadi ajang diskusi antar teman dari seluruh penjuru dunia.

Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam bersosialisasi via jejaring sosial, khususnya fb, agar semua pihak merasa nyaman dan hubungan dapat tetap terjalin dengan baik:

1. Buatlah akun/profil yang sebenarnya.
Ada orang yang membuat akun fiktif dengan tujuan negatif seperti menjelek-jelekkan mantan kekasihnya, mengintip akun orang lain, memajang dagangan, atau alasan lainnya. Untuk tujuan berdagang, sebaiknya gunakan ‘facebook for business’. Ada kalanya teman tak enak hati untuk menolak memberi anda ijin menjajakan dagangan di wallnya. Sebaiknya tidak membuat persahabatan terganggu karenanya. Tujuan utama orang membuka akun fb umumnya adalah berbagi kabar, agar tetap ada kontak dengan teman yang mungkin karena jarak dan waktu, tidak bisa sering bertemu, bukan untuk belanja.

2. Hati-hati menuliskan data pribadi anda.

Ada kasus  seorang wanita menuliskan status single di bagian info pribadi, padahal dia sudah menikah. Mungkin tidak menjadi masalah jika pasangannya tidak ada dalam daftar teman di akun itu. Jangan lupa juga kalau teman-teman anda mungkin juga menjadi teman pasangan anda. Jika merasa tidak nyaman data pribadi dibaca orang lain, kosongkan saja.

3. Sebaiknya tidak menjadikan wall fb sebagai tempat curhat.
Pernyataan-pernyataan yang terlalu pribadi seperti “ I miss you so much, can’t wait to kiss you” sebaiknya disampaikan via message saja.

4a17f851decb317fbcaf7d8aac30f1ef

Alternatif lain adalah memasukkan teman tertentu ke dalam list tersendiri seperti ‘close friends’ atau ‘acquaintances‘. Pada waktu menulis status, kita bisa membatasi siapa yang melihat status kita. Untuk memberitakan kelulusan anak kita dari sekolah, mungkin kita ingin setting status itu untuk ‘friends’ atau ‘family’ saja.  Bahkan kita bisa setting status kita hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu dengan memilih ‘custom’.

facebook problems

4. Hindari menggunakan kata-kata kasar dan vulgar. Tulisan anda menunjukkan siapa diri anda dan orang jelas kurang bersimpati pada tulisan yang berkesan tidak sopan. Mungkin belum ada radar yang menangkap kata-kata vulgar dalam bahasa Indonesia dari pihak Facebook, tapi kata vulgar dalam bahasa Inggris bisa menyebabkan anda diblok sementara oleh Facebook.

5. Sebaiknya perkenalkan diri bila ingin pemintaan pertemanan diterima. Setelah menjadi teman, luangkan waktu untuk menyapa.

Gunakan fasilitas ‘follow’. Jika anda hanya ingin membaca status orang tertentu yang menurut anda selalu menarik, anda bisa ‘follow’ orang tersebut. Bila anda memberikan pilihan ‘follow’, anda bisa setting apakah orang yang follow anda bisa memberi komentar pada status anda atau hanya bisa membaca saja.

6. Men-tag artikel, foto, atau link sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang memang aktif berhubungan dengan kita. Tidak semua orang senang di-tag. Ada teman yang mengeluh karena di tag dalam foto yang ada gambar mantan pacar. Dia tak ingin terjadi ‘kerusuhan’ karena pasangannya saat ini bisa melihat foto tersebut.
Jika anda mengalami hal ini, anda dapat remove tag atau setting agar setiap tag harus mendapat approval dari anda sebelum muncul di timeline anda.

7. Media sosial seperti rimba yang luas dan banyak hal yang tidak kita ketahui karena interaksi hanya di dunia maya. Sebaiknya jangan cantumkan informasi pribadi seperti alamat rumah dan nomor telepon karena kita tidak tahu siapa saja yang dapat mengakses akun kita. Informasi pribadi seperti itu dapat disampaikan via direct message saja jika teman membutuhkan.

8. Teman yang sedang sakit, hamil, baru melahirkan, hendak menikah, atau berita lainnya, mungkin merasa kurang nyaman mengumumkan keadaannya di jejaring sosial. Kita tidak perlu menjadi juru bicara untuk mewartakan kabar yang bersifat pribadi seperti itu karena bisa dianggap melanggar privacy. Biarkan saja teman itu yang mewartakannya sendiri.

26c3e88dfd72db6b575001e1a7ed6888

9. Hati-hati menggunakan aplikasi check-in place karena bisa saja digunakan oleh orang yang berniat jahat. Selain itu, perhatikan foto yang akan anda upload apakah ada tertulis tanggal pengambilan, jika anda merasa tidak nyaman orang mengetahui kapan foto tersebut diambil, sebaiknya non aktif kan pencantuman tanggal di kamera anda.

10. Hindari menulis status yang mengandung unsur diskriminasi suku, agama, ras, seksual ataupun orientasi seksual, karena bisa menimbulkan salah persepsi bagi yang membacanya. Hal ini akan merepotkan anda sendiri jika ada pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan anda di status atau di komentar.

11. Hindari menanyakan hal-hal yang sensitif dan pribadi di wall atau di kolom komentar seperti:
– Kawan kita si A sudah janda/duda ya?
– Kamu tau ga si C sekarang balik lagi sama mantannya dulu.
– Bagaimana kabar mantanmu yang ganteng itu?
– Isterimu tahu ga kamu pernah pacaran dengan si B?

12. Selektif memilih link yang akan di share. Jika anda merasa kesal karena seseorang terus menerus share status yang anda tidak sukai seperti politik atau horoskop, tetapi anda tidak ingin menghapus dia dari daftar teman ataupun membloknya, anda bisa pilih ‘hide’, dengan demikian anda tak akan melihat status-statusnya lagi di wall anda. Selain itu banyak cerita atau gambar yang menggugah hati, tak perlu selalu di share karena sering hanyalah cerita palsu dan sering orang mengambil keuntungan dengan banyaknya ‘share’. Dengan tidak sembarangan share, anda tidak memenuhi newsfeed teman dan tidak membantu penyebaran informasi yang tidak benar.

7bb25bce715b520b2849b546a8f57067

13. Hal terpenting adalah: Jangan pernah mem-bully orang lain di media sosial. Menjelek-jelekkan, menyebar gosip, mengunggah foto teman yang kurang pantas, dan lain sebagainya. Orang lain juga tidak akan simpati pada anda karena cyberbullying adalah tindakan yang tidak terpuji.

7321acef2f589000f7aa245df7122929

Semoga beberapa tips di atas dapat membantu pertemanan dan kehidupan anda di dunia maya menjadi lebih menyenangkan. Memiliki banyak teman dan hubungan yang terjaga dengan baik adalah aset yang berharga.

 

 

Ngopi Yuuukkk

Tadi pagi di depan kantor, ada truk yang sedang parkir, milik salah satu gerai ayam goreng cepat saji, terlihat iklan di badan truknya: New MenuGreen Tea Latte. Aiihhh…latte, jadi kepikiran deh, soalnya itu minuman favorit saya, apalagi jika disajikan dingin.

Dulu, saya suka bingung membaca menu ketika antri di gerai kopi modern di mal. Apa itu Espresso, Café Latte, Latte Macchiato, Cappucino? Awalnya saya asal sebut saja ketika pesan minuman dan mencoba setiap menu yang ada pada setiap kunjungan. Di kedai kopi tradisional hanya ada pilihan: kopi hitam atau kopi susu, panas atau dingin. Jelas apa yang dimaksud, jadi tinggal sebut saja mau yang mana.

Espresso

Espresso berasal dari bahasa Itali yang artinya cepat karena dibuat untuk disajikan dengan segera untuk pelanggan. Angelo Moriondo, kebangsaan Itali, mematenkan mesin pembuat kopi yang pertama dan terdafatar di Turin pada tahun 1884. Ia membuat mesin kopi yang umum (bulk brewer) . 17 tahun kemudian, Luigi Bezzera mengembangkan mesin kopi yang dapat mengeluarkan uap dan air mendidih melalui bubuk kopi pada tahun 1901. Hak paten untuk mesin yang diciptakan Bezzera ini dibeli oleh Desiderio Pavoni pada tahun 1905 dan menjadi cikal bakal mesin espresso yang umum dipergunakan hingga sekarang.

Espresso adalah kopi yang kental (concentrated), rasa dan aroma kopinya ‘kuat’, dihasilkan dengan mengekstraksi biji kopi yang sudah digiling dengan menyemburkan air panas di bawah tekanan tinggi. Secara teknis, espresso diperoleh ketika 30 – 45 gr air disemburkan melewati 7 – 12 gr kopi bubuk pada temperatur 90 derajat Celcius dengan tekanan 9 atmosfer.

Pada setiap espresso terdapat satu komponen yang disebut crema, terlihat seperti buih kecoklatan atau keemasan ( terdiri dari minyak, protein, gula,) yang mengambang di permukaan cangkir.

Biasanya espresso disajikan dalam cangkir kecil. Pelayan akan menanyakan apakah anda ingin single, double atau triple shot. Single shot biasanya hanya 30ml, double 60 ml dan triple 90 ml (takaran bubuk kopi sekitar 7–8 gr untuk single, 14–16 gr untuk double dan 21–24 gr untuk triple).

Doddy Samsura, salah seorang pemenang dalam Indonesian Barista Competition, memberikan tips membuat espresso yang baik sebagai berikut:

1. Gunakan biji kopi segar, baik itu house blended atau single origin (seperti kopi Toraja, Gayo, Mandailing, dan sebagainya) . Segar atau tidaknya biji kopi dapat dilihat dari tanggal sangrainya (roasted date), semakin baru semakin segar rasa kopinya. Paling bagus adalah biji kopi yang baru disangrai 7-10 hari.

2. Siapkan air mineral. Untuk hasil yang maksimal, gunakan filter air agar mendapat kandungan mineral yang pas.

3. Untuk espresso, biji kopi digiling dengan kehalusan seperti gula bubuk yang sangat halus. Masukkan biji kopi ke coffee grinder dan giling sesuai dengan takaran dan tingkat kehalusan yang sudah ditentukan. Bisanya untuk segelas espresso, digunakan biji kopi sekitar 7-12 gr, tergantung selera anda.

4. Setelah biji kopi digiling, siapkan coffee maker anda dan pastikan suhu air berkisar 90-96 derajat Celcius.

5. Cangkir lebih baik dipanaskan terlebih dahulu sebelum ekstraksi kopi.

6. Lamanya waktu ekstraksi sekitar 20 – 30 detik untuk 30 ml espresso. Jika waktunya kurang dari 20 detik, maka rasa kopi akan sedikit asam. Jika lebih dari 30 detik, akan muncul rasa pahit.

7. Espresso yang dihasilkan akan terdiri dari crema di lapisan atas dan kopi cair di bagian bawahnya.

8. Untuk mendapatkan rasa kopi yang maksimal, sebaiknya kopi yang diseduh tidak lebih dari 2 minggu sejak kemasannya dibuka. Simpan dalam kemasan kedap udara pada suhu ruangan dan tidak terkana cahaya matahari langsung.

Minuman Berbahan Dasar Espresso

Espresso selain disajikan sendiri, sering dicampur dengan susu, buih (foam), coklat dan air panas. Itu sebabnya di gerai kopi modern sekarang ini banyak sebutan keren untuk menu kopi. Ada caffe latte, cappuccino, macchiato dan caffe americano.

Kata latte berasal dari bahasa Itali yang artinya susu. Di negara-negara berbahasa Inggris, sering disebut latte saja, bentuk singkat dari kata caffe latte (“caffé e latte“). Arti harafiahnya adalah kopi susu. Dalam bahasa Perancis disebut café au lait. Tapi, jika di Itali, anda memesan latte, anda akan disuguhi susu hangat atau dingin.

Café Latte, Latte Macchiato, Cappucino itu pada dasarnya sama saja karena ketiganya terdiri dari kopi espresso, susu hangat (steamed milk) dan buih (foam). Bedanya hanya pada takaran espresso ataupun cara pencampurannya.

Café Latte: 1/3 espresso, 2/3 steamed milk.

Komposisinya sepertiga espresso, dua pertiga susu yang dihangatkan dan buih yang yang dihasilkan sekitar 1cm. Sekarang ini para barista berlomba membuat gambar-gambar menarik dari cara menuangkan buih itu. Keahlian itu disebut Latte art..

latt

Di Itali, caffe latte biasanya disuguhkan di rumah untuk sarapan pagi saja. Kopi diseduh dan dituang ke dalam cangkir berisi susu yang sudah dihangatkan. Tidak seperti di negara lain, dalam versi Itali yang asli, susu tidak dibuat berbuih. Di luar Itali, caffe latte disajikan dalam cangkir/gelas ukuran 240ml (8oz) dengan standar satu atau dua shot espresso (30ml atau 60ml) dan susu hangat dengan lapisan buih setinggi 12 mm di atasnya

Latte Macchiato : 2/3 steamed milk, 1/3 espresso.

Kata macchiato juga berasal dari bahasa Itali, yang artinya noda/bercak. Membuat kopi atau susu bernoda. Kira-kira begitu arti harafiahnya .

Komposisi dasarnya sama dengan cafe latte, yaitu 1/3 espresso. Bedanya, pada latte macchiato, espresso ditambahkan ke dalam susu, bukan sebaliknya. Susu dihangatkan sampai sedikit berbuih dan disajikan dengan espresso yang dituangkan perlahan ke dalam lapisan atas buih dalam cangkir dan menimbulkan bercak (macchia) di lapisan atas itu. Bercak itu mengindikasikan ada espresso di dalam susu.

lat

latte

Satu-satunya perbedaan antara latte art dengan macchiato art adalah pada teknik menuang susu. Pada macchiato art, susu dituang lebih cepat melalui corong yang lebih kecil.

Di Asia sekarang ini latte sudah dikombinasikan dengan teh, seperti teh hijau (matcha), masala chai (teh berempah dari India). Kedai kopi sudah menjajakan menu variatif untuk latte panas atau dingin dengan pilihan kombinasi teh hijau, susu kedelai, vanilla, coklat, toffee nut, peppermint, hazelnut atau caramel.

Cappuccino: 1/3 espresso, 1/3 steamed milk and 1/3 foam (frothed milk).

Untuk membuat cappuccino, espresso dituangkan dahulu ke dalam cangkir, kemudian susu hangat, terakhir buih. Biasanya buih akan dibuat setinggi 20 mm. Untuk mendapatkan buih, dibutuhkan mesin espresso dengan alat tambahan pembuat buih atau bisa juga dihasilkan dengan cara manual menggunakan alat khusus.

ca

Caffe Americano: 1/3 espresso and 2/3 hot water.

Americano adalah espresso yang ditambahkan air panas jadi rasanya lebih ‘ringan’ karena tidak kental. Di kedai kopi tradisional sama dengan kopi hitam, disajikan tanpa tambahan susu.

am

Selain minuman kopi yang paling mendasar seperti tersebut di atas, ada banyak pilihan lain di kedai kopi modern tetapi hampir semua berbahan dasar espresso. Dari namanya kita bisa memperkirakan apa rasa (flavor) minuman kopi tersebut. Misalnya, yang menjadi favorit teman saya, Pumpkin Spice Latte. Isinya adalah campuran espresso dengan pumpkin spice ( campuran bubuk kayu manis, pala dan cengkeh).

Klik di sini untuk DIY kopi level Starbucks

Semoga sekarang anda tidak bingung lagi memilih menu jika sedang antri di kedai kopi modern. Jangan lupa, pesankan juga untuk saya, satu iced latte dan mari kita duduk berbagi tawa dan cerita sembari menyeruput kopi. Slurrppp… hmmm…. life is gooooodddd…

cc

(dari berbagai sumber)

Moe’s Vipassana Voyage

..to see things as they really are.

A Writer's Life for Me

I’m beyond excited to announce that (finally) A Writer’s Life for Me has a guest writer! This is something that I’ve been wanting to do for a while; feature another writer in a personal experience, have them share a reflection, a tip, a story–just like I like to do (every 5 months ha…).

My good friend, Moe went on a Vipassana retreat earlier in the winter. And, now that it’s spring (we can barely feel it here in Wisconsin!) I wanted to share her reflection with you all. I hope that you will welcome her warmly–she was very kind to agree to let me post her piece. Maybe it will offer some motivation for outdoor meditation now that the snow has melted. At the very least you will turn away from this post a better person simply from reading Moe’s words. They are clear, full of honesty and humility, and…

View original post 1,991 more words

Sejauh Mana Kecemasan Itu Wajar?

patahtumbuh

ditulis oleh : Lilian Gunawan

Ibu terlihat gelisah, tiap sebentar melihat jam di dinding dan tidak konsentrasi pada acara tv yang sedang ditontonnya, padahal itu acara favorit yang selalu dinanti tiap malam. Saya tahu, beliau sedang menanti kabar dari kakak saya yang belum juga tiba di rumah dan telepon selulernya tidak bisa dihubungi sejak tadi sore. Malam sudah larut dan hujan deras disertai angin kencang. Wajar jika beliau merasa cemas karena biasanya perjalanan dari luar kota itu hanya memakan waktu paling lama 5 jam, itupun jika jalanan ramai atau pas hari pekan di daerah. Tetapi, begitu telepon berdering, dari kakak, mengabarkan sudah di batas kota, jadi sekitar setengah jam lagi akan tiba di rumah, barulah beliau kelihatan lega dan bisa konsentrasi menonton acara tv.

Cuplikan kejadian di atas termasuk hal yang normal dan sering kita alami setiap kali ada kejadian yang di luar kebiasaan. Kecemasan (anxiety) adalah reaksi…

View original post 891 more words

Selalu Ada Kala Pertama

Kemarin sore, untuk kesekian kalinya dan untuk hal yang sama, putera sulung saya minta izin untuk ikut teman-temannya naik gunung. Pilihannya Gunung Semeru (mungkin dampak dari sedemikian terpesonanya menonton film 5cm). Dan untuk kesekian kalinya juga, jawaban saya sama: Mama tidak izinkan karena kamu belum punya pengalaman naik gunung dan Semeru cukup berat bagi pendaki pemula.” Sebenarnya saya juga sok tahu soal medan Gunung Semeru (tidak pernah naik gunung soalnya),  jadi saya pikir, apa sih enaknya naik gunung itu, bikin capek saja dan resiko tersesat atau perubahan cuaca yang tidak bisa ditebak saat berada di gunung.

Ingin tahu apa jawaban si abg, yang membuat saya termangu? “Ma, aku juga ga tau apa enaknya naik gunung itu. Gimana bisa tau kalo tidak pernah mencoba sama sekali dan gimana bisa dapat kali kedua, ketiga dan seterusnya kalo ga diperbolehkan mencoba pertama kali? There is a first time for everything, Ma.”

Jawaban itu memenuhi pikiran saya selama belanja kebutuhan rutin  di minimarket dekat rumah. Malam itu saya tidak bisa tidur. Terus terbayang soal there is a first time for everything. Apakah karena saya tidak suka naik gunung maka anak-anak juga ‘wajib’ ikut tidak suka? Apakah karena saya begitu khawatir dia tersesat, kedinginan, capek, kaki bengkak, jadi harus cari kegiatan yang aman-aman saja? Kapan saya bisa memberikan kepercayaan penuh untuknya? Kapan saya memberikan kala pertama baginya untuk merasakan pengalaman naik gunung?

Dulu saya di usia setahun lebih muda darinya (saat itu kelas 2 SMA) sudah pergi ala backpacker dengan 2 teman wanita ke Danau Toba. Naik kereta api super ekonomi, naik turun bus,  becak, perahu nelayan, tinggal di rumah penduduk yang berdinding dan berlantai papan kusam yang  bolong-bolong (rumah panggung) dan merasakan dinginnya semilir angin masuk dari celah-celah papan. Itu pengalaman pertama traveling dengan teman sebaya dan ternyata menjadi pengalaman yang paling berkesan dan menjadikan saya kecanduan traveling ala backpacker ini. Berbaur dengan masyarakat sekitar, ikut dalam kegiatan keseharian mereka, memasak di dapur si ibu yang punya rumah, membantu menghidangkan kopi untuk turis yang makan dan minum di warung sederhananya.

Sekarang, ketika saya sudah menjadi ibu dan putera saya sudah kelas 12, meminta izin untuk pertama kalinya naik gunung, apakah saya tetap bilang ‘tidak boleh’? Dia akan pergi dengan lima orang teman satu geng yang sudah sangat akrab dan ingin mengukir suatu kenangan manis yang berkesan sebelum mereka berpisah dan terjun ke tahapan hidup selanjutnya. Tegakah saya mengatakan ‘tidak boleh’ hanya karena saya khawatir ini itu terjadi pada dirinya? Arrggghhh….

Banyak kala pertama yang sangat berkesan telah saya alami. Kenangannya tersimpan rapi di sudut hati hingga saat ini. Kala pertama punya pacar, ciuman, patah hati untuk pertama kalinya; pengalaman kerja , perjalanan dinas pertama; perjalanan pertama yang didanai dari hasil keringat sendiri. Kala pertama bisa menyetir mobil tanpa ada yang mendampingi, dan banyak hal lainnya. Terlepas dari menyenangkan atau menyedihkan setiap pengalaman pertama, semuanya masih melekat dalam ingatan.

Seorang teman menuliskan keluh kesahnya dalam note fb tentang supir taksi yang menyebalkan sekali, reseh dan aneh karena ngotot minta sistem borongan padahal di taksi tersebut sudah terpasang argometer tipe terbaru, di mana penumpang yang sudah memesan taksi dan mendapatkan nomor booking, tinggal menyebutkan nomor booking dan supir taksi akan mengetikkan nomor tersebut di argometernya yang terkoneksi dengan komputer di kantor pusatnya. Akhirnya, setelah beberapa saat berargumentasi, barulah si supir taksi mengaku kalau ini kali pertamanya dengan sistem baru tersebut dan ia belum paham benar cara pengoperasiannya. Walah….emosi teman itu langsung mereda karena tidak tega untuk marah dan mengeluh lebih jauh setelah tahu duduk permasalahannya adalah kondisi ‘kala pertama’. Akhirnya teman itu menghubungi kantor pusat taksi dan dipandu bagaimana cara memasukkan kode booking pesanan ke dalam argometer agar bisa beroperasi. Masalah selesai.

Well, setelah semalaman mempertimbangkan, akhirnya lampu hijau dan izin naik gunungpun saya keluarkan. Selalu ada kala pertama dan biarlah anak-anak menikmati kenangan kala pertama itu. Saya harus menekan rasa cemas, rasa khawatir dan rasa gamang melepas anak-anak.

let them fly