Pentingnya Memiliki Teman

Barusan saya buka profil facebook untuk melihat berapa jumlah teman saya di media sosial ini. Ternyata tidak sampai 200 nama yang tertinggal dalam daftar teman. Ini jumlah teman yang aktif berkomunikasi dan saling menyapa dengan saya. Lumayan lah, melebihi angka minimum 150 teman yang disebutkan sebagai angka rata-rata hubungan sosial yang dapat dipertahankan oleh tiap individu.

Angka 150 disebut Dunbar’s Number karena seorang peneliti, Robin Dunbar, menemukan korelasi antara ukuran otak primata dengan jumlah orang dalam kelompok sosialnya. Dunbar’s Number ini diterjemahkan sebagai jumlah teman yang ingin anda ajak untuk minum kopi bersama di kafe sambil ngobrol.

Tidak perlu dipertanyakan lagi sejauh mana pengaruh punya teman atau tidak dalam kehidupan sosial kita. Teman merupakan salah satu syarat utama yang wajib dimiliki untuk membuat hidup kita lebih berarti, membuat pikiran lebih sehat terlebih untuk kelompok yang semakin berumur.
Banyak penelitian neurosains yang membuktikan bahwa orang yang tetap memiliki hubungan sosial akan melindunginya dari proses dementia (pikun):

  • Wanita dengan lingkaran pertemanan yang luas, punya resiko penurunan kognitif yang lebih rendah ketika usia bertambah.
  • Kesepian menyebabkan resiko dementia menjadi dua kali lipat.
  • Keikutsertaaan dalam banyak kegiatan yang berbeda akan menambah daya tahan otak (brain resilience).

Profesor Timothy Smith mengatakan kemajuan teknologi membuat individu merasa tidak perlu dan tidak butuh berteman dalam arti sebenarnya. Kita jadi cenderung menyepelekan hubungan sosial (take for granted). Padahal, interaksi yang konstan tidak hanya berguna secara psikologis tapi juga bagi kesehatan fisik.

Bagaimana dinamika interaksi dengan orang lain bisa mempengaruhi daya tahan otak? Para neurosaintis sering membahas tentang ‘cadangan kognitif’, sejauh mana pikiran menggerus daya tahan otak. Interaksi antar manusia seperti tabungan yang membuat otak terus berfungsi. Kehidupan sosial yang sehat menuntut pikiran, perasaan, nalar dan intuisi. Keempat unsur itu membentuk cadangan sel otak yang sehat dan menambah susunan/formasi antar neuron di dalam otak kita. Jadi teman-teman yang baik dan cocok dengan kita perlu dipertahankan karena teman-teman inilah yang membuat kita hidup lebih lama.

Ada meta analisis dari 148 penelitian yang melibatkan 300.000 orang selama 7 tahun dan menyimpulkan bahwa orang-orang yang mempunyai hubungan sosial yang kuat dan baik, memiliki kemampuan bertahan hidup (survival) yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hubungan sosialnya kurang baik. Kondisi ini berkaitan dengan faktor kesepian.

Kondisi ketiadaan interaksi sosial setara dengan keadaan seperti di bawah ini:
– Merokok 15 batang per hari
– Alkoholik
– Lebih merugikan daripada sama sekali tidak berolahraga
– Dua kali lebih buruk daripada obesitas.

Jadi, sisi positif yang kita peroleh dari berteman bisa disimpulkan dalam beberapa poin:

  1. Melindungi kita dari proses dementia : Usahakan ikut kelas ketrampilan untuk mengasah hobi dengan mengajak teman-teman, seperti kursus menjahit, menyulam, melukis, menghias kue tart dan lain-lain. Ibu teman saya yang sudah berusia 70 tahun, mengikuti kursus piano dan sangat menikmati kegiatan baru ini.
  2. Membuat hidup lebih panjang (lama) :  Perluas jaringan pertemanan anda. Masuk dalam satu komunitas tertentu yang sesuai dengan hobi. Anda akan merasa lebih ‘in’ ketika berada dalam lingkaran teman yang punya selera dan hobi yang sama. Saya memperluas pertemanan dengan lebih aktif di dunia maya dan berinteraksi dengan teman baru yang satu ‘aliran’ atau satu selera. Ternyata tidak kalah menyenangkan dengan teman yang kita temui dalam pergaulan sehari-hari.
  3. Mengurangi stres : Buatlah janji dengan teman untuk berbelanja bersama, ke salon, memasak, ke bengkel atau sekedar mengunjungi teman lain yang sedang sakit atau bertemu dengan teman lama yang sedang berada di kota anda.
  4. Saling mendukung dan memberi semangat : Ingin lebih disiplin dan lebih rajin berolahraga? Ajaklah teman anda ikut serta. Saya merasa lebih bersemangat ikut kelas yoga atau pergi berenang setiap kali ada teman yang mendampingi.

Advertisements

Saling Memaafkan

Maaf lahir batin. Kalimat yang sering kita dengar ketika bulan Ramadhan dan Idul Fitri tiba. Apakah saling memberi maaf hanya dibutuhkan pada saat tertentu saja? Kata orang bijak, untuk mempertahankan hubungan yang sehat dan positif antar individu kita harus belajar untuk memaafkan. Memaafkan menjadi salah satu unsur penting dalam satu hubungan selain kepercayaan, kejujuran, keahlian berkomunikasi dan tenggang rasa.

Sekali waktu ketika masih SD, putera sulung saya memacu sepedanya dengan kencang dan ‘lupa’ mengurangi kecepatan ketika akan belok. Roda depan masuk got. Ia pulang dengan lutut luka, celana basah dan kotor. “Sori ya, Ma. Aku tadi ngepot-ngepot dan lupa ngerem.” Takut dimarahi, jadi sambil meringis menahan perih, tidak berani menangis karena tahu ini kesalahan sendiri. Setang sepeda juga bengkok. Pernah juga putera bungsu saya mematahkan cutter yang diambil dari meja tulis saya di rumah. Ia langsung kirim sms minta maaf: Sori Ma, aku matahin cutter Mama. Sepotong kata ‘sori’ itu melumerkan hati dan membuat saya tidak tega mengomel panjang lebar karena ia sudah minta maaf.

Kata teman saya: “Itu kan persoalan sepele jadi mudah untuk memberi maaf dan melupakan rasa gundah atau sakit hati. Gimana kalau dihadapkan pada kasus yang besar dan banyak merugikan?” Betul, memang mudah mengatakan kita harus memaafkan orang lain dan melupakan semua rasa sakit hati itu, tetapi pasti sulit untuk diterapkan. Lagipula tidak semua kondisi dapat dimaafkan dengan begitu saja seperti kasus ekstrim ayah yang memperkosa puterinya, kasus pembunuhan anggota keluarga, atau kasus pasangan yang berselingkuh.

Apa Memaafkan Itu?

Dalam pengertian saya, memaafkan sama dengan melepaskan semua pikiran negatif dan rasa tertekan yang membuat kita tidak nyaman karena perbuatan orang lain. Membebaskan diri dari hal-hal negatif yang lama kelamaan menjadi racun dalam diri kita. Memaafkan adalah suatu proses dan seringkali butuh waktu yang panjang untuk sampai pada tahap ‘rela’ dan ikhlas.

Memaafkan tidak berarti melupakan apa yang diperbuat orang lain pada kita atau menempatkan orang yang membuat kita sakit hati pada posisi yang sama seperti sebelumnya. Akan ada ‘tembok’ yang menjadi pemisah setelahnya. Jadi memaafkan tidak sama dengan melupakan atau rekonsiliasi hubungan. Kita memaafkan orang lain untuk mengobati luka di hati, meskipun bekas luka (scar) akan selalu ada.

Efek Memaafkan

Seberapa besarkah efek memaafkan itu? Secara umum, memaafkan diartikan sebagai keputusan untuk melepaskan kemarahan dan pikiran untuk balas dendam. Rasa sakit hati, marah dan tersinggung yang awalnya melekat pada diri kita, lambat laun akan mencair karena memaafkan. Memaafkan bahkan bisa mengarahkan kita menjadi lebih mengerti, menimbulkan empati atau rasa sayang pada orang yang menyakiti kita, membuat kita lebih fokus pada sisi positif dari kehidupan.

Dalam hubungan antar anggota keluarga, antar teman, maupun antar kolega, selalu timbul masalah beda pendapat, ketidakcocokan, atau rasa frustrasi dengan sikap orang lain. Bagaimana kita menyikapi setiap “drama”, menjadi faktor penting berhasil atau tidaknya suatu hubungan yang harmonis. Jika kita selalu bersikap antipati, penuh prasangka, curiga, dapat dipastikan hubungan itu tidak akan memberi rasa damai dan tenteram.

Artikel berjudul: “Forgiveness and Relationship Satisfaction Mediating Mechanism”, yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology, mengemukakan bahwa memaafkan menjadi salah satu atribut penting untuk menjaga hubungan tetap sehat dan langgeng karena pengaruh positif memaafkan, yaitu :

  1. Konflik dan pikiran negatif menjadi berkurang. Jika kita sedang marah atau sebal pada seseorang, meskipun hanya karena urusan sepele, kita cenderung hanya memperhatikan sisi negatif mereka, mencari-cari kesalahannya, mengungkit kesalahan yang dulu pernah ia lakukan. Bagaimana hubungan yang sehat bisa terbentuk jika kita selalu berkutat pada kesalahan atau rasa sakit hati yang sudah berlalu atau sering mengungkit dan menyindir.
  2. Mampu berpikir jernih dan rasional. Jika kita menganggap hubungan yang baik adalah investasi jangka panjang, maka perilaku dan bagaimana kita berinteraksi akan mencerminkan sejauh mana kita menginginkan hubungan ini berlangsung. Saling memaafkan bisa menjadi terapi yang menyembuhkan dalam satu hubungan. Membuat kita bisa berpikir lebih jernih dan menghindari pikiran irasional. Kadang kala yang dibutuhkan hanya rasa rela menghapus dan melepaskan emosi marah atau emosi negatif tersebut.
  3. Memberi rasa tenteram dan damai pada diri sendiri. Bisa dibayangkan jika kita tidak rela untuk memaafkan dan tetap menyimpan rasa kesal, ‘gerundelan’, marah atau bahkan dendam untuk waktu yang lama, siapa yang akhirnya makin dirugikan? Diri sendiri ,bukan? Kitalah yang membuat keputusan siapa, untuk hal apa dan kapan kita akan memaafkan.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum tiba pada keputusan untuk memaafkan:

  • Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa memaafkan akan membuat anda merasa lebih lega, bahagia dan sehat. Rasa marah atau dendam yang dipendam akan menjadi pemicu stres yang kronis. Hormon stres (hormon kortisol) akan meningkat setiap kali anda teringat pada kejadian yang membuat anda sakit hati dan marah. Dalam jangka panjang, kondisi fisik dan psikis anda akan terganggu.
  • Manfaat memaafkan dalam satu hubungan tergantung pada respons orang yang membuat anda marah atau tersinggung. Jika setelah memaafkan, ternyata orang tersebut terus bersikap menjengkelkan, tidak hormat atau tidak menghargai anda, maka anda akan merasa diperlakukan seperti ‘keset’ dan melunturkan rasa percaya diri anda. Kita bisa melihat banyak contoh seperti misalnya suami yang berselingkuh, isterinya memaafkan, tidak lama kemudian kembali berselingkuh. Asisten rumah tangga yang kedapatan mencuri, setelah dimaafkan, di lain kesempatan kembali mencuri. Rasa percaya diri kita akan bertambah jika orang yang sudah dimaafkan menunjukkan respons positif dan merubah perilakunya.
  • Dalam tiap hubungan antar individu, selalu akan timbul friksi dan membuat salah satu pihak merasa sakit hati jadi jika tidak ada kesempatan memaafkan, kita akan terus berputar dalam lingkaran yang negatif dan lama kelamaan akan menggerus hubungan tersebut.
  • Lebih mudah memaafkan orang yang melakukan kesalahan tanpa disadari atau yang tidak disengaja misalnya teman yang datang terlambat karena terjebak macet atau karena kendaraannya mogok, atau teman yang bicara ‘ceplas ceplos’ tentang suatu topik tanpa menyadari ternyata topik tersebut adalah hal yang sensitif bagi anda dan membuat anda tersinggung. Bandingkan dengan teman yang dengan sengaja mengunggah foto candid anda dalam pose atau busana yang kurang pantas ke media sosial, dengan tujuan untuk mempermalukan anda.
  • Penelitian neurosains yang memindai otak menunjukkan pusat emosi dalam sistem limbik (otak besar) tubuh meningkat ketika kita memutuskan untuk memaafkan. Emosi negatif berkurang.
  • Memaafkan bukan berarti menghapus kesalahan yang diperbuat oleh orang tersebut dan membiarkannya ‘lepas’ begitu saja. Kita berharap dengan memaafkan, orang tersebut dapat menarik pelajaran dari sikapnya yang merugikan orang lain dan tidak melakukan lagi agar tidak ada korban berikutnya.

Dalam psikoterapi, salah satu teknik terapi yang banyak diterapkan adalah forgiveness therapy. Teknik memaafkan. Dengan melepaskan emosi negatif yang dipendam lama dalam bawah sadar, individu akan merasa lega dan lebih bahagia. Emosi negatif yang terus disimpan akan membuat individu semakin tertekan dan mempengaruhi perilakunya.

Memang tidak mudah untuk memaafkan, tapi kita bisa mencoba dan membebaskan diri sendiri dari semua perasaan negatif yang mengungkung diri.

Mohon maaf lahir batin. Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri bagi pembaca patahtumbuh yang merayakan.

Vicky Idulfitri

Duh, Pasanganku Puber Kedua

MLC (Mid Life Crisis) selalu terjadi dalam konteks hubungan interpersonal, terlepas dari kapan terjadinya dan bagaimana bentuk hubungan anda dengan pasangan. Suatu saat bisa jadi anda dan pasangan akan tiba pada kondisi yang membingungkan ketika tiba-tiba terjadi perubahan sikap yang ekstrim sehingga mengganggu kenyamanan hubungan. Jadi sebaiknya MLC dihadapi bersama agar anda berdua tiba bersamaan pada ‘tempat yang baru’ dan dalam kondisi hubungan yang lebih sehat dengan kepribadian yang lebih matang.

victim

Tahapan MLC

Pria dan wanita mengalami tahapan yang relatif sama pada saat MLC. Umumnya MLC pada pria berkaitan dengan urusan pekerjaan atau pernikahan. Sedangkan pada wanita, berkaitan dengan kesehatan, keluarga, kematian dan pernikahan.

Jim Conway membagi MLC dalam 6 tahapan:

1. Denial (Penolakan): Tidak bisa menerima kondisi seperti perubahan fisik atau anak-anak yang beranjak dewasa. Seperti cerita teman saya beberapa waktu yang lalu, pada seminar umum pengelolaan finansial, ada peserta paruh baya yang hadir dengan rok mini, dandanan menor dan aksesoris yang heboh. Ada juga individu yang tetap menganggap dan memperlakukan anak-anak remajanya sama seperti ketika mereka masih balita. Perubahan sikap pada tahap ini belum terlalu menonjol karena individu masih berusaha untuk menutup-nutupi. Ia akan tetap mengatakan: Aku baik-baik saja koq, ketika pasangan atau orang lain merasa ada sikapnya yang mulai terlihat janggal. Tahapan ini akan berlangsung 1-6 bulan.

2. Anger (Marah): Karena merasa terkungkung dalam kondisi penolakan, emosi mulai sulit untuk dikendalikan dan bisa tiba-tiba marah atau ‘meledak’. Merasa kesal pada anak-anak, pasangan, atau bawahan di kantor. Mulai timbul rasa bosan dan merasa ada yang tidak beres dengan lingkungan. Menyalahkan orang lain, mulai mengkritik banyak hal, sering terlihat gelisah, merasa tidak nyaman. Kondisi seperti ini bisa berlangsung selama 3 – 6 bulan.

3. Replay (Mengulang Kembali): Masih terus menyalahkan orang lain dan menganggap semua sumber ketidaknyamanan berasal dari luar dirinya, khususnya dari pasangannya. Individu merasa selama ini sudah mengurus dan melayani pasangan atau anak-anak dengan sebaik mungkin dan ini saat bagi dirinya bersenang-senang dan lepas dari kewajiban-kewajiban atau rutinitas . Pada tahap ini biasanya individu mulai mencari kesenangan baru, seperti kecanduan alkohol, obat-obatan, memulai affair, bersikap ‘aneh’ seperti melakukan hal yang bertolak belakang dengan perilaku sehari-hari. Masa replay bisa berlangsung hingga 2 tahun. Banyak hubungan yang rusak hingga terjadi perceraian pada fase ini jika individu dan pasangannya tidak mengerti dan tidak tahan dengan segala perubahan sikap yang ekstrim. Dari pengakuan orang-orang yang tergabung dalam MLC Forum (yang memiliki pasangan MLC), banyak yang menyerah dan akhirnya meninggalkan pasangannya pada fase ini.

4. Depression (Depresi): Merasa jarak dengan orang lain semakin jauh, takut dan tidak berdaya. Mulai mengurung diri dan menutup semua pintu interaksi dan sangat tidak nyaman ketika ada yang mulai membahas perilaku anehnya. Biasanya pada tahap ini perubahan fisik akan memperburuk situasi. Hormon menjadi kacau. Timbul keinginan untuk bunuh diri. Mudah menangis, sering duduk sendiri dengan tatapan kosong, takut kegelapan, insomnia, menjadi pelupa, tidak mau bicara apapun. Yang mereka inginkan hanyalah menyendiri, tidak mau diganggu, ingin masuk ke lorong yang dalam dan gelap. Sendiri. Tahap ini berlangsung 2 – 6 bulan tergantung dari tingkat depresi yang dialami.

5. Withdrawal (Menarik Diri): Merupakan kelanjutan dari tahap depresi dan individu tidak tahu bagaimana harus keluar dari kondisi depresi. Semakin terpuruk. Merasa hidup tidak berguna lagi dan menarik diri dari lingkungan. Pada tahap ini, tidak akan ada orang yang mampu berkomunikasi dengannya, bahkan pasangan atau anak-anaknya sendiri. Jadi lebih baik biarkan saja mereka masuk ke dalam ‘gua’. Masih ada rasa marah dan depresi pada dirinya sendiri. Individu akan keluar dari ‘gua’ saat mereka merasa siap untuk kembali (ke lingkungan). Keinginan untuk keluar dari ‘gua’ harus berasal dari dirinya sendiri, bukan dari luar diri. Tahap ini bisa berlangsung 3 – 12 bulan.

6. Acceptance (Penerimaan Diri): Akhirnya individu akan tiba pada tahap menerima apa yang terjadi pada dirinya tanpa penyesalan apapun. Mereka akan menjadi lebih bijaksana, berpikiran luas, lebih optimistis dan siap melangkah. Hidupnya akan lebih damai dan tenang.

who you areTidak ada pola yang sama bagi setiap individu yang mengalami MLC. Ada yang melewati tiap tahap dengan baik, ada yang stagnan, ada yang maju mundur pada tahap tertentu. Sebenarnya, setiap krisis merupakan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mengalami perubahan internal dalam diri, bisa saja menimbulkan reaksi negatif atau positif, tergantung dari bagaimana kemampuan tiap orang memaknai perubahan sikapnya. Pasangan adalah orang yang paling merasakan dampak perubahan sikap jika individu mengalami MLC.

Apa yang sebaiknya dilakukan jika pasangan anda mengalami MLC karena anda tidak ingin ikut larut dalam pusarannya dan ketidaknyamanan suasana?

Tips Hidup Aman Bersama Pasangan MLC

– Fokus pada diri sendiri dan anak-anak (jika punya anak) : Tidak perlu menghabiskan waktu memikirkan bagaimana mengontrol atau merubah sikap pasangan yang mengalami MLC. Cari kesibukan baru yang membuat anda tidak harus selalu berhubungan dengan pasangan. Jika suasana di rumah memanas dan tidak kondusif, sebaiknya melakukan hobi atau kegiatan lainnya di luar rumah, seperti bermain badminton dengan teman, aktif di organisasi, ikut kegiatan kerohanian atau menjadi sukarelawan dalamkegiatan sosial. Ajak anak-anak anda turut serta. Jangan biarkan diri dan anak-anak menjadi korban pelampiasan emosi pasangan yang sedang mengalami MLC.

– Buat batasan jelas dengan pasangan. Jika pasangan punya affair dengan orang lain, katakan terus terang bahwa anda tahu soal affair-nya namun anda tidak ingin tahu detilnya dan apapun yang berhubungan dengan orang ketiga tersebut. Jauhkan diri anda dari hubungan cinta segitiga yang akan membuat konflik semakin keruh. Biarkan pasangan menyelesaikannya sendiri.

– Kendalikan amarah atau emosi negatif anda dengan cara yang sehat. Jika amarah sedang memuncak, pergi keluar rumah atau bergabunglah dengan kelas kick boxing, lempar batu sebanyak mungkin ke danau atau sungai, tinju kantong pasir sampai semua emosi negatif tersalurkan. Tidak ada gunanya anda adu argumen dengan suara tinggi, menangis meraung-raung, menyalahkan pasangan dan lain sebagainya. Orang yang sedang mengalami MLC tidak akan mengerti dan tidak bisa menerima pembelaan diri anda. Sia-sia saja.

– Jangan memulai percakapan damai atau gencatan senjata dengan pasangan. Meskipun awalnya anda adalah pasangan yang fenomenal dan terkenal sangat mesra dan selalu membahas masalah secara terbuka, namun pada saat MLC, semua hal akan berubah 180 derajat. Pasangan anda tidak akan tertarik untuk membahas apa yang sedang ia alami saat ini. Anda dipandang sebagai orang yang menjadi sumber masalahnya. Semakin anda berusaha untuk berdamai, ia akan semakin menjauh dan menutup diri atau bahkan semakin benci pada anda. Semuanya akan menjadi super misterius dan anda tidak perlu ikut bingung. Biarkan saja semua berjalan secara alami. Pasangan akan mulai menyapa anda jika ia sendiri merasa sudah siap untuk bicara dan kembali berinteraksi dengan anda.

– Jadilah pendengar yang baik. Ketika pasangan anda memulai percakapan, dengarkan dengan baik, tidak perlu memberikan penilaian atau menghakimi. Dalam fase MLC, pasangan hanya butuh untuk didengarkan. Tidak usah memberi komentar atau nasihat meskipun apa yang disampaikan pasangan membuat kepala anda pusing tujuh keliling atau perasaan anda campur aduk tidak karuan. Dengarkan saja.

– Cari terapi. Pasangan yang mengalami MLC tidak butuh terapi, justru andalah yang butuh. Pergilah dan bicaralah dengan terapis yang bisa membuat anda lebih mengerti apa yang terjadi dengan sikap pasangan yang serba aneh dan tidak seperti orang yang selama ini anda kenal. Keluarga dan teman adalah pendukung yang baik di saat anda merasa kebingungan dengan sikap pasangan. Ungkapkan semua uneg-uneg dan anda akan merasa lebih lega setelah sharing.

– Ambil keputusan yang terbaik bagi anda. Jika pasangan larut atau tenggelam terlalu jauh dalam ‘lubang’ MLC, seperti menjadi semakin terikat pada orang ketiga (jika ada affair), menghambur-hamburkan uang tanpa pertimbangan, atau bahkan menjadi abusive, anda berhak untuk memilih yang terbaik bagi anda sendiri. Keputusan ada di tangan anda, apakah tetap ingin bertahan atau melepaskannya dan memulai hidup baru. Pikirkan dan pertimbangkan baik-baik.

Any Moment

Dengan mengerti seluk beluk MLC, setidaknya dapat membantu kita menjalani hari-hari dengan lebih tenang dan semoga pasangan yang mengalami MLC juga bisa keluar dari ‘gua’ dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Inikah Puber Kedua?

Seorang sahabat mengajak saya membahas tentang apa dan bagaimana pengaruh usia paruh baya dalam keseharian dan dampaknya pada pasangan. Apakah kami akan mengalami krisis paruh baya seperti yang banyak dibahas di media? Semoga aman-aman saja ya…hahaha.

midlife-crisis-ahead
Istilah midlife crisis (untuk seterusnya kita sebut MLC) pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikoanalis, Elliott Jaques pada tahun 1965. Ketika itu ia berusia 48 tahun. Di Indonesia, MLC sering disebut dengan istilah puber kedua. Puber pertama terjadi ketika masa peralihan dari kanak-kanak menjadi remaja. Biasanya disambut dengan senang hati karena masa remaja adalah masa yang ditunggu-tunggu. Sementara puber kedua adalah masa peralihan dari dewasa menjadi tua. Ini adalah masa saat kita mulai berpikir tentang apa yang sudah dicapai selama ini dan ke mana arah jalan hidup kita selanjutnya.

Menjelang usia 50 tahun, kita makin sering bertanya-tanya. Apa sih arti hidup ini? Apa saja impian-impianku selama ini? Akankah/sudahkah aku menemukan cinta sejatiku? Bagaimana aku harus menjalani sisa hidup ini? Bagaimana aku mengatasi rasa sakit? Mengapa aku kehilangan gairah?

Ketika berusia 20-30 tahun waktu kita katakan ingin menyelam, bungy jumping, naik roller coaster, mendaki gunung, berdandan ala rocker atau merubah gaya berbusana menjadi lebih dandy, semua dianggap hal yang biasa dan menunjukkan kita sebagai seorang yang ingin mencoba hal baru. Tapi ketika keinginan seperti itu muncul di usia 40 – 50 tahun, orang akan mengatakan kita sedang mengalami krisis. Aih….

Setiap tahapan kehidupan punya ciri khas masing-masing. Menurut Sigmud Freud, lima tahun pertama kehidupan seseorang adalah yang paling krusial (the golden years) karena menjadi dasar terbentuknya kepribadian seseorang. Jadi masa balita adalah masa yang paling penting.

Carl Gustav Jung membagi tahapan perkembangan menjadi 4 tahap utama:
1. Childhood (masa kanak-kanak) : Saat pembentukan ego. Pada tahap ini individu belajar beberapa struktur yang penting dalam pembentukan karakternya dari orang-orang yang hadir dalam masa kanak-kanaknya terutama orang tua dan pengasuhnya. Belajar dari simbol-simbol, punya mainan favorit, selimut kesayangan dan belajar mengikuti aturan ketika bermain dengan teman.
2. Adolescence and Early Adulthood (Masa Remaja dan Dewasa Awal): Masa seseorang mencari pengalaman-pengalaman lain dalam pergaulan dan mencocokkan dengan nilai-nilai yang telah diajarkan semasa kanak-kanak. Pokok utama tahapan ini berpusat pada pengalaman baru dari interaksi dengan lawan jenis, dengan teman sekolah, teman kerja atau siapa saja dalam lingkungan yang lebih luas. Individu belajar dari ‘guru’ yang lebih jago, yaitu pengalaman hidup.
3. Adulthood and Midlife (Masa Dewasa dan Dewasa Pertengahan) : Masa penentuan diri, menjadi seperti apa yang diinginkan, bukan lagi mencari pola diri dan memilih menjadi apa dan bagaimana. Menurut Jung, ini adalah tahapan yang paling kritis dan berpengaruh dalam diri seseorang. Pada saat ini individu sudah mengalami banyak hal, dari kesuksesan besar, kegagalan, jatuh cinta, kehilangan orang yang dicintai, dikhianati, mengalami krisis besar hingga terpuruk, atau bahkan menemukan cinta yang baru. Jika tahap ini terlewati dengan baik, maka kepribadiannya akan menjadi lebih tangguh dan hubungan interpersonalnya juga menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tujuan utama dari masa ini adalah menjadi manusia yang seutuhnya, menemukan arti kehidupan, perjalanan yang sifatnya lebih ke arah religius dan spiritual. Jung menyebutnya dengan istilah individuation. Inilah tugas utama dari putaran kedua usia kita.
4. Maturity and Wisdom: Masa final dari semua tahapan. Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan pada masa ini. Hal terpenting adalah kemampuan seseorang merefleksikan apa yang sudah terukir dalam dirinya dalam bentuk kebijaksanaan. Nilai-nilai apa yang bisa ditularkan pada orang lain.

Banyak peristiwa yang berpotensi menjadi bomb drop yang dapat memicu stress dan depresi ketika menginjak usia paruh baya seperti : meninggalnya orang yang dicintai (orang tua, pasangan, teman), kondisi fisik menurun, kemunduran karir, anak-anak meninggalkan rumah untuk kuliah atau menikah, kesepian. Awal MLC biasanya muncul di rentang usia 40 – 50 tahun.

Beberapa hasil riset pada wanita usia paruh baya menunjukkan timbulnya kecemasan ketika memasuki usia 40-an. Kecemasan menjadi berlebihan jika ditambah dengan perubahan kondisi fisik yang makin menurun, hormon juga amburadul. Cemas, galau dan mood swing. Kondisinya seperti sedang dalam masa transisi. Menurut beberapa penelitian, turunnya produksi hormon estrogen pada wanita dan hormon testosteron pada pria ikut berperan memicu timbulnya krisis ini. Daya tahan tubuh dan gairah seks juga menurun.
MLC berlangsung sekitar 2-5 tahun pada wanita, dan 6 – 10 tahun pada pria. Krisis berakhir setelah individu kembali kepada pikiran yang rasional dan normal.

Pertanda Timbulnya MLC

Apa sih gejala-gejala krisis paruh baya? Ada beberapa poin yang bisa dijadikan sebagai acuan.

• Mulai cemas dengan kondisi kesehatan. Takut sakit ini sakit itu, terlebih jika mendengar kabar ada teman yang sakit.

• Memberi perhatian lebih dari biasanya terhadap penampilan fisik. Resah dengan perut yang semakin tebal, garis pinggang yang makin hilang, rambut menipis, lengan atas yang makin berisi, pipi tembem, padahal sudah diet. Sibuk membandingkan penampilan dengan orang lain yang sebaya, ingin tampil lebih chic atau merubah gaya berbusana dan mulai rajin ke gym, resah dengan stretchmark di perut. Merasa tergangggu dengan munculnya uban atau kerutan di wajah.

• Minder dan tidak percaya diri ketika bertemu dengan teman yang lebih sukses, lebih langsing, lebih muda.

• Ingin punya mesin waktu dan kembali ke suatu masa yang dirasakan menjadi penentu jalur mana yang akan kita tempuh di masa sekarang. Bisa jadi ingat kembali pada pacar lama, mulai sibuk mencari jejak pacar lama di facebook. Mulai berpikir, ‘jika dulu…’ Jika dulu jadi menikah dengan si A, mungkin jalan hidup akan berbeda. Jika dulu menerima tawaran bekerja di kantor X, mungkin saat ini sudah menduduki posisi yang diidam-idamkan. Banyak hal yang kembali muncul dalam pikiran.

• Kenangan masa kecil kembali muncul. Mencari foto-foto lama, mendatangi tempat-tempat yang mengingatkan pada masa kecil, menghubungi teman-teman lama.

• Stagnan dan bingung mau melakukan apa dan bagaimana. Seperti sedang berada di persimpangan jalan, bingung hendak belok ke kanan, ke kiri atau terus berjalan.

• Bosan dan jenuh dengan pekerjaan di kantor maupun rutinitas di rumah. Ingin berhenti bekerja dan mencari pekerjaan baru yang sesuai passion.

• Memiliki hobi baru, misalnya tiba-tiba ingin belajar musik, belajar memasak, menari.

• Kehidupan sosial juga berubah. Biasanya suka menghabiskan waktu di rumah, tapi sekarang justru ingin keluar rumah, rajin menghadiri acara, nonton bioskop, atau sekedar hang out dengan teman-teman. Mendadak kembali suka pada group band yang digemari kaum muda.

• Mengambil keputusan yang impulsif dan mendadak seperti tiba-tiba memutuskan menjual rumah, menjual mobil, mengundurkan diri dari pekerjaan atau bahkan minta cerai.

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

• Berpikir positif: usia paruh baya merupakan waktu yang tepat untuk evaluasi dan menyusun kembali langkah selanjutnya yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Jangan terjebak oleh pikiran menjadi tua, kehidupan meredup, dan segala yang hal yang mengecilkan hati. Masih banyak hal baru yang dapat dilakukan, yang dulu tidak terrealisasi karena kesibukan mengurus anak dan rumah atau sibuk mengejar karir.
• Jangan terpaku oleh angka di atas kue ulang tahun anda. Ellen Langer, psikolog dari Harvard, pernah melakukan riset pada beberapa responden yang berusia 70 – 80 tahun. Mereka ditempatkan dalam satu rumah yang didekor dengan suasana seperti era 20 tahun sebelum usia para responden. Acara tv, musik, pakaian yang disediakan di rumah itu semua berasal dari 20 tahun sebelumnya. Responden diminta untuk masuk kembali ke masa lalu dan berlaku seperti usia saat itu.
Hasil penelitian sungguh menarik karena ternyata responden yang diminta untuk berlaku dan berpikir mereka lebih muda 20 tahun dari usia aktualnya, merasa tubuhnya lebih segar, lebih bersemangat, rasa ngilu sendi berkurang, postur tubuh lebih tegak, dan lebih percaya diri. Selalu berpikir tentang bertambahnya usia, justru membuat kita menjadi tua dalam arti yang sebenarnya. Jadi, jangan merasa kalah dan merasa kecil hati dengan usia yang bertambah.
• Bersikap realistis: Sering kali kita mematok target bahwa pada usia 40 tahun kita hendaknya sudah punya rumah, sudah punya mobil mentereng, sudah punya keluarga, sudah plesiran ke berbagai penjuru dunia. Target-target ini menjadi beban jika belum tercapai ketika menginjak usia 40 tahun. Jadi, lebih baik fokus dan menghargai apa yang sudah diperoleh hingga saat ini.
• Maksimalkan fase paruh baya. Elliott Jaques, orang yang pertama kali memperkenalkan istilah MLC, pada rentang usia 48 – 86 tahun (meninggal tahun 2003), ia menikah, menulis 12 buku, dan menjadi konsultan di Gereja Inggris dan Angkatan Darat Amerika. Jadi usia paruh baya hendaknya menjadi pemacu semangat, saatnya memikirkan hal baru, bukan justru dianggap sebagai suatu bencana yang akan dihadapi.

Comfort zone
• Kenali kecemasan anda dan apa pemicunya dan kapan munculnya.
• Perhatikan tanda-tanda yang mungkin menjadi potensi timbulnya krisis.
• Bersikap lebih asertif (tegas) dan ungkapkan apa yang membuat anda merasa tidak nyaman.
• Cari kegiatan baru yang bersifat menambah keahlian (skill) seperti memasak, berkebun, menjahit, utak-atik kendaraan bermotor, belajar dansa.
• Masa lalu telah lewat, namun jika anda masih terus berkutat dengan pikiran dan kenangan masa lalu, anda akan terjebak dalam pusaran penyesalan dan nostalgia. Ayo, simpan kembali semua nostalgia masa lalu dalam sudut hati dan move on.

Past
Masa paruh baya jangan menjadi momok dan akhirnya menenggelamkan kita dalam krisis. Nikmati setiap tahap kehidupan dengan hati lapang.

Ingin Cerai? Eiiitsss…Tunggu Dulu

Berita infotainment di tv tentang seorang selebritis lokal yang dengan santainya mengatakan ingin menceraikan isterinya karena tidak mahir memasak, sungguh membuat saya mengernyitkan dahi. Begitu sederhanakah alasan seseorang untuk sampai pada keputusan menceraikan pasangannya? Menurut saya, keputusan untuk bercerai adalah hal yang sangat kritis dan konsekuensinya akan dirasakan seumur hidup, bukan hanya oleh anda sendiri, tapi lebih pada anak-anak anda.

Beberapa teman yang curhat selama ini, mereka juga telah sampai pada keputusan ingin bercerai. Bukan hak saya untuk mencampuri keputusan mereka, tapi saya merasa perlu untuk memberikan beberapa pandangan sebelum mereka betul-betul bercerai.

Hal-hal Yang Perlu Dipertimbangkan

Perceraian menempati urutan kedua teratas dari daftar peristiwa hidup yang skor tingkat stresnya tinggi, di bawah urutan kematian pasangan. Keputusan bercerai adalah keputusan yang sangat penting untuk dipikirkan matang-matang karena semuanya akan berubah total.

Anda perlu duduk tenang dan berpikir dengan hati dan kepala dingin dan tanyakanlah pada diri anda hal-hal berikut ini:

1. Bagaimana perasaaan anda saat ini pada pasangan? Tawar, tidak perduli apapun dengan yang ia kerjakan, tidak pernah merindukannya lagi jika ia tidak berada di rumah, atau masih ada rasa khawatir jika ia pulang terlambat dan tidak ada kabar beritanya? Jika anda masih punya rasa khawatir dan masih memikirkan pasangan, artinya anda berdua hanya butuh bantuan konselor untuk introspeksi dan membuat komitmen baru mengatasi kesenjangan selama ini.

2. Apakah kondisi anda berdua saat ini seperti orang kost atau mengontrak rumah bersama dan sekedar berbagi tugas harian dan berbagi biaya hidup? Pasangan yang hubungannya ‘sehat’ akan saling berbagi rasa bahagia ataupun sedih, cita-cita, mimpi dan berusaha untuk membuat hubungan lebih baik dan saling membutuhkan, jadi bukan sekedar tinggal bersama dan berbagi tempat tidur.

3. Apakah anda ingin bercerai karena ditantang untuk bercerai oleh pasangan anda? Dan anda ingin menjawab tantangan itu untuk menunjukkan bahwa anda berani dan anda lebih hebat dari pasangan? Sungguh alasan yang naïf dan kekanak-kanakan.

4. Atau anda memilih bercerai dengan harapan pasangan akan merasa kehilangan dan kemudian meminta anda untuk kembali dan merubah sikapnya? Ini alasan yang keliru karena perceraian akan membuat masalah menjadi lebih rumit apalagi untuk tujuan agar kembali rujuk.

5. Bercerai artinya melepaskan segala kemelekatan (attachments) pada pasangan. Membuat anak-anak hidup terpisah dari saudara dan orang tuanya. Anda siap?

6. Sanggupkah anda melawan rasa bersalah terhadap anak-anak, terhadap keluarga besar, terhadap orang-orang yang selama ini mendukung anda untuk bertahan? Mungkin anda tidak punya rasa bersalah pada pasangan, tapi rasa bersalah pada orang yang berada di sekeliling anda, akan terus menghantui. Seumur hidup.

7. Dibutuhkan sikap dewasa dan matang ketika menjalani hidup setelah perceraian karena perceraian bukan berarti anda terbebas dari masalah, tapi justru anda akan menghadapi tantangan dan kendala lain yang lebih berat. Pandangan masyarakat, posisi sebagai orang tua tunggal, status sosial, kondisi finansial, dan tantangan lain yang siap menghadang. Pikirkanlah hal ini sebelum mengambil keputusan.

8. Pernahkah anda punya pikiran lebih baik pasangan anda lebih cepat dipanggil Yang Maha Kuasa dan anda akan lebih bahagia hidup sendiri? Merasa akan terbebas dari kungkungan dan kondisi emosional yang sangat menekan jika terus hidup bersama? Atau justru anda khawatir jika ia dipanggil menghadap terlebih dahulu?

011842ab5aaec5ddd5b5458a8b2a7038

9. Bagaimana dengan tujuan dan nilai-nilai yang dianut, masih sejalan atau makin banyak perbedaan atau bahkan bertolak belakang?

10. Apakah anda sudah mencoba untuk tinggal terpisah untuk sementara waktu, evaluasi hubungan selama perpisahan sementara dan kemudian mencoba rekonsiliasi? Kailen Rosenberg, konselor perkawinan, menyarankan untuk berpisah sementara waktu karena jarak membantu anda untuk berpikir lebih jernih dan menelaah kembali kondisi hubungan anda, sebelum memutuskan untuk bercerai.

11. Apakah anda sudah berbicara dengan anak-anak, telebih jika anak anda sudah remaja dan mendengar pendapat mereka? Ada anak yang lebih suka orang tuanya berpisah daripada setiap hari melihat keduanya bertengkar terus dan suasana rumah menjadi seperti neraka.

12. Pikirkan lagi dan lagi. Apakah sebenarnya anda berdua hanya butuh orang tengah untuk membantu mengurai benang kusut ?

Jika anda ingin bercerai karena kehadiran orang ketiga, baik di pihak anda ataupun di pihak pasangan, ini jelas bukan alasan yang bijak untuk suatu perceraian. Selesaikanlah urusan anda berdua dengan pasangan, sebelum masuk ke hubungan yang lain. Hubungan dengan pihak ketiga bukan menjadi jalan keluar dari masalah, tapi justru akan memperkeruh kondisi anda.

Bertahan Atau Berpisah?

Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan ini karena anda yang mengalami pasang surut hubungan selama ini. Akan tetapi ada beberapa poin yang dapat dijadikan acuan untuk mengakhiri hubungan (seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya: Cerai Atau Tidak: That Is The Question):

1. Adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik kekerasan secara fisik maupun mental (verbal abuse).
2. Ada indikasi gangguan jiwa yang serius pada pasangan.
3. Penyelewengan yang berulang
4. Pasangan terlibat tindakan kriminal.

Bertahan dalam perkawinan yang pincang dan amburadul sama beratnya dengan bercerai. Seperti kata teman saya, ini rasanya seperti kaki yang harus diamputasi. Amputasi kaki kiri atau kaki kanan, sama sakitnya, sama sulitnya untuk berjalan, sama galaunya. Jadi, pikirkanlah baik-baik dan sematang mungkin sebelum mengambil keputusan. Jika memang masih bisa bertahan dan anda masih punya harapan dan energi, bertahanlah. Jika rasanya seperti sudah menjadi orang lain, yang anda sendiri tidak kenal lagi, lebih terpuruk jika terus bertahan, ayoooo…langkahkan kaki dan keluarlah dari lingkaran setan itu.

Aku Dan Kau Memang Berbeda

Men Are From Mars, Women Are From Venus. Mungkin beberapa dari anda sudah membaca buku yang ditulis John Gray ini, diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Harper Collins tahun 1992, hingga kini terus menjadi best seller dan telah beberapa kali dicetak ulang dan diterjemahkan dalam beberapa bahasa.

Inti dari buku yang ditulis John Gray: Pria dan wanita itu berbeda dalam banyak hal, dari hubungan interpersonal, cara berkomunikasi, cara berpikir , cara menyelesaikan masalah. Perbedaan itu diulas dalam 13 bab dengan beberapa contoh nyata yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sangat menarik untuk dibaca dan dibahas bersama.

Sejak kecil, pria dan wanita sudah dikelompokkan dalam stereotip-stereotip umum seperti anak laki-laki tidak boleh menangis meskipun jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah, tidak boleh cengeng, sementara anak perempuan sah-sah saja menangis, boleh saja merengek minta sesuatu.

Perbedaan dalam pergaulan sehari-hari sudah terlihat sejak masa kanak-kanak , seperti:

–  Anak laki-laki biasanya bermain dalam kelompok yang besar, sementara anak perempuan dalam kelompok yang lebih kecil.

–  Anak laki-laki memilih jenis permainan kompetitif seperti main sepeda, main kelereng, yang mementingkan unsur menang atau kalah. Sementara anak perempuan lebih pada koneksi antar teman, jadi antri bermain dan menanti giliran seperti dalam permainan lompat tali, main boneka, main masak-masakan.

–  Anak laki-laki lebih suka menghabiskan waktu dengan mengerjakan sesuatu seperti menyusun puzzle, bermain lego, menggambar. Sementara anak perempuan menghabiskan waktu menonton tv atau mengobrol panjang lebar tentang banyak hal dengan temannya.

–  Anak laki-laki cenderung berkomunikasi dengan temannya jika ada keperluan saja. Pernah saya tanya pada putera saya setelah melihat dia ngobrol dengan seorang teman yang baru dia kenal. “Sudah kelas berapa dan sekolah di mana temanmu itu?” Jawabnya: “Ga tau ya Ma. Aku ga tanya. Tadi aku cuma tanya bagaimana dia bisa dapat skor tinggi main game itu.” Jadi tidak penting baginya untuk tahu detil tentang teman itu. Dia mengajak teman itu berbicara hanya untuk dapat trik bagaimana memainkan game itu.

Baru-baru ini saya diprotes oleh putera sulung yang sudah remaja ketika saya bertanya terlalu banyak pada temannya. “Mama bawel amat sih. Koq tanyanya dari A – Z, seperti polisi aja. Semua ditanyain, dikomentarin.” Haahahaha…..mungkin karena sudah menjadi kebiasaan saya jika bertanya cenderung mendetil, jadi terkesan interogatif, padahal temannya itu (wanita) menjawab dengan santai dan tampak menikmati pembicaraan kami.

Dalam beberapa tulisan, memang disebutkan bahwa pria cenderung berkomunikasi dengan teman jika sedang ada keperluan saja, jadi tidak heran jika mereka bisa berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tidak saling kontak jika tidak ada keperluan. Beda dengan wanita yang senang menanyakan kabar atau bertukar cerita tentang kejadian sehari-hari yang lucu, sedih atau membuat marah. Itu sebabnya kelihatannya wanita lebih bawel dari pria dan kadang pria tidak suka dan tidak sabar mendengarkan celotehan wanita yang dianggap tidak penting.

Beberapa teman saya mengeluh soal pasangannya yang dianggap tidak perhatian lagi karena sekarang jarang telepon dan chat juga sesekali saja, tidak seperti saat awal hubungan dulu. Dulunya, sehari bisa beberapa kali menyapa, lebih sering dari jadwal makan obat yang tiga kali per hari. Padahal, mungkin bukan karena tidak perhatian lagi, tapi bisa jadi bagi pria sekarang tidak perlu harus wajib lapor lagi setiap kali tiba di kantor, makan siang apa dan di mana atau pulang kantor jam berapa, sudah sampai di mana, nanti mau ke mana, sama siapa. Nanti kalau bertemu toh bisa cerita, jadi tidak harus on the spot atau live streaming terus. Sementara bagi wanita, bila dilibatkan dalam setiap momen, dirasa sebagai seseorang yang memang spesial bagi pria itu.

Saya sering memperhatikan tingkah laku ketiga putera saya sejak kecil hingga kini, bagaimana pola interaksinya dengan teman dan apa yang mereka obrolkan jika sedang bersama. Ini hal yang baru buat saya dan saya belajar banyak dari mereka karena berbeda dengan yang saya lakukan dulu ketika seusia mereka. Menarik bagi saya karena melihat mereka tumbuh dan bagaimana kepribadiannya terbentuk dan kelak menjadi pria dewasa.

Pria cenderung berkompetisi, untuk membuktikan siapa yang lebih baik, lebih hebat, lebih up-to-date dan tahu berita terakhir di dunia politik, bisnis, ekonomi dan sebagainya. Wanita lebih sering bertanya, ada-ada saja yang ditanyakan, dari hal sepele hingga yang rumit. Bagi wanita, banyak bertanya otomatis menjadikan percakapan terus bergulir. Sementara bagi pria, bertanya seolah-olah menunjukkan mereka inferior. Ada seorang teman pria saya yang mengatakan begini: “Aku jarang bertanya sama orang. Kalo ga ngerti, ya cari sendiri aja di Google.” Betul-betul bertolak belakang dengan saya, yang merasa lebih praktis bertanya saja pada orang yang saya anggap lebih tahu jika kurang jelas atau kurang mengerti sesuatu hal. Jika masih dirasa kurang memuaskan atau untuk memastikan bahwa jawaban itu valid (apalagi untuk bahan pendukung tulisan), saya akan cek ulang di web untuk mendapatkan gambaran yang lengkap.

Selain itu, wanita lebih sering mengajukan pertanyaan dalam suasana pribadi (one-to-one interaction), sementara pria banyak bertanya pada suasana formal atau di ruang publik.

Berikut ini beberapa pengalaman saya dan curhat teman wanita selama berinteraksi dengan pria:

1. Saya sering kesal melihat pasangan yang jarang sekali mau turun dari kendaraannya dan bertanya pada orang setempat ketika mencari alamat. Dia tetap ngotot mencari tahu sendiri dari peta, coba belok kiri, kemudian kanan, dan rela untuk menghabiskan lebih banyak waktu karena tersesat daripada turun dan bertanya arah yang jelas . Menurut saya, dengan bertanya dua atau tiga kalimat dan meminta bantuan orang lain, bisa menyelesaikan masalah lebih cepat daripada berputar-putar kebingungan.

2. Ketika sedang menyetir, pria nampaknya kurang suka jika wanita yang duduk di sebelahnya menjadi sok tahu dan mengaturnya harus lewat jalan mana untuk menghindari macet. Jadi, lebih baik diam saja dan jadi penumpang yang manis. Biarkan pak supir melaksanakan tugasnya dan menepuk keningnya sendiri jika salah jalan dan akhirnya terjebak macet yang lebih parah.

3. Jika pria sudah duduk menonton acara balap MotoGP, Formula 1, Thomas Cup atau sepak bola di tv, jangan harap anda akan didengarkan. Anda perlu memanggilnya paling tidak sampai tiga kali dengan suara yang makin ditinggikan nadanya, baru ia akan merespons.

4. Pria yang gemar dan pandai memasak memang keren dan seksi, tapi jika setelah memasak, dapur berubah menjadi kapal pecah, lebih baik tidak usah memasak deh. Rasa kesal melihat dapur yang berantakan lebih mendominasi daripada kenikmatan rasa masakannya. Lebih baik ajarkan saja saya memasak dengan resep cespleng itu.

5. Alasan sibuk sehingga tidak sempat telepon mengabarkan malam ini pulang telat dan tidak makan di rumah, itu hal yang bisa memancing pertengkaran. Sesibuk itukah sampai tidak ingat sama sekali untuk memberi kabar? Mungkin bagi pria tidak penting-penting sekali untuk laporan, yang penting dia malam itu tetap makan di rumah, jam berapapun dia tiba.

6. ‘Yaaa begitu deh’ atau ‘Terserah kamu aja lah’ atau ‘No comment’ , itu jawaban yang menyebalkan. Saya bertanya karena ingin mendapatkan alternatif jawaban yang lebih baik dari yang ada di kepala saya saat itu. Kalau tahu jawabannya bakal seperti itu, lebih baik tidak usah tanya pendapatnya.

7. Jika mencari barang, cobalah dicari dulu dengan seksama, jangan cuma sibuk tanya ini di mana, itu di mana tanpa usaha untuk mencari sendiri apalagi jika saya sedang sibuk mengerjakan sesuatu dan terus dipanggil dan ditanya di mana lokasi barang yang dicari.

8. Pria hanya mendengarkan dengan penuh konsentrasi jika hal yang disampaikan itu memang perlu untuk kepentingannya, jadi jangan kecewa jika pasangan anda sering bilang sori, aku lupa. Beberapa hal yang bagi dia tidak penting, sering tidak menempel dengan baik di kepalanya.

9. Pria tidak begitu perhatian pada hal-hal detil. Berbeda dengan wanita, yang akan hafal warna rambut, model pakaian, sepatu bahkan warna kuteks yang dipakai seseorang ketika bertemu di suatu pesta.

10. Ketika menonton film, pria hanya fokus pada jalan ceritanya saja, tapi wanita juga memperhatikan pernak-pernik yang dipakai si aktor atau aktris atau isi dialognya.

11. Saya bisa menangis sampai hidung mampat saat menonton film yang menguras emosi. Selama ini belum pernah saya lihat teman pria saya meneteskan air mata ketika nonton film.

12. Pria fokus pada mencari solusi jika timbul suatu masalah sementara wanita masih sibuk berkutat pada sebab musabab terjadinya hal yang tidak menyenangkan itu.

13. Jika sedang dilanda masalah, pria butuh waktu untuk menyendiri untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Wanita merasa lebih lega jika sudah sharing masalah yang sedang dihadapi dengan orang dekatnya. Namun dalam kenyataannya, wanita justru lebih rentan terkena depresi dan sulit tidur (insomnia) atau maag kambuh sebagai gejala awalnya. Ini yang sedang dialami teman wanita saya yang terus dihantui oleh kekhawatiran berlebihan sehingga memperburuk masalah yang sedang dihadapi.

14. Tingkat kepekaan pria lebih rendah dari wanita. Jadi wanita yang tidak berani terbuka untuk menyampaikan keinginannya, akan sering kecewa dan kesal karena menunggu pasangannya mengerti sendiri apa yang diinginkannya. Seperti cerita ini: “Masak dia ga ngerti sih kalo aku juga pengen diperiksa dokter. Begitu dia sudah kelar, langsung ajak pulang, bukannya nawarin aku sekalian untuk ikut check up.” Ini cerita suami isteri yang sedang periksa kesehatan di negara tetangga. Isteri enggan memberitahu suaminya jika dia juga ingin sekalian periksa kesehatan. Jadi menanti sang suami menawarkan. Saya geleng-geleng kepala mendengar teman mengeluh soal ini. Mengapa tidak katakan terus terang sejak sebelum berangkat, jadi bisa diatur waktunya untuk sama-sama check up ke dokter. Mungkin saja suaminya menganggap kondisi pasangannya OK karena isterinya sama sekali tidak mengajukan ‘proposal’ untuk ikut periksa kesehatan.

15. Jika melakukan kesalahan, jarang sekali pria akan spontan minta maaf. Tapi gerak-gerik atau bahasa tubuhnya sudah menyiratkan pernyataan maafnya, misalnya ketika dia tidak lagi adu argumen, melakukan apa yang disarankan oleh pasangannya, atau sekedar menggenggam erat tangan atau memeluk kita. Itu sudah cukup. Jadi tidak usah berharap dia minta maaf terang-terangan dengan mengatakan: Sori ya, memang aku yang salah.

16. Untuk mengatasi kegalauan hati, kekecewaan, patah hati atau sejenisnya, pria cenderung melampiaskannya dengan menyibukkan diri dan tenggelam dalam pekerjaannya atau menambah porsi olah raga agar pikiran dan perasaannya teralihkan. Berbeda dengan wanita, kondisi seperti itu justru memicu terjadinya depresi karena wanita lebih emosional dan menjadikannya sulit berkonsentrasi pada urusan profesional.

Daftarnya akan panjang jika saya tuliskan semuanya. Jadi, kesimpulannya memang pria dan wanita itu berbeda, bukan hanya dari segi fisik saja, tapi keseluruhan ‘paket’ sebagai individu. Untuk mengurangi friksi dalam interaksi, ada baiknya kita kenali karakter-karakter dasar pasangan kita dan menyesuaikan diri dengan mencari win-win solution agar perasaan negatif tidak menumpuk.

2119d59246d343772da35be2acee68f7

Alone But Not Lonely

Akhir Februari lalu ada satu email  masuk ke inbox saya,  dari mailing list  HR Department, berisi link artikel berjudul: Kesepian Lebih Mematikan Daripada Kegemukan. Judul yang menggoda untuk segera dibaca, bukan? Ada apakah dengan kesepian? Sebegitu hebatkah dampak kesepian bagi seseorang?

Artikel itu merujuk pada riset yang dilakukan pada lebih dari 2000 responden berusia di atas 50 tahun.  Hasilnya menunjukkan bahwa kesepian bisa dua kali lebih tidak menyehatkan dari obesitas, hampir dua kali lebih mematikan dibandingkan dengan  individu yang tidak kesepian.

Apa Makna Kesepian?

Putera kedua saya,  kini berusia 16 tahun, baru-baru ini curhat soal kegundahannya dulu, yang dikarenakan sewaktu SD dia harus pindah sekolah sampai tiga kali:  “Aku ga mau pindah sekolah lagi ah.  Aku kesepian karena tidak punya teman setiap kali pindah sekolah baru. Waktu dulu –dulu itu, sebenarnya aku sedih lho, Ma”.

Kesepian sifatnya kompleks dan unik. Tiap individu punya ‘rasa’ yang berbeda ketika mengalami kesepian.  Kesepian yang dialami putera saya setiap kali pindah sekolah dulu, berbeda dengan kesepian yang dirasakan oleh orang yang ditinggal pergi pasangan untuk selamanya. Berbeda juga dengan kesepian yang dialami orang tua ketika harus menunggui rumah seharian karena anak-anaknya berangkat kerja sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah setelah hari gelap. Situasi yang jamak kita temui bagi yang tinggal di Botabek dan berkantor di Jakarta.

Definisi umum dari kesepian adalah ‘sendirian’, tidak ada yang menemani (alone).  Sebenarnya, kesepian bukan sekedar kondisi ‘sendiri’, tapi lebih condong ke ‘rasa’. Perasaan kosong, sendiri, tidak diinginkan. Orang yang kesepian merasa ‘rindu’ untuk berinteraksi dengan orang lain. Jadi kesepian (loneliness) itu berbeda dengan kesendirian (being alone). Seseorang bisa saja memilih untuk (hidup) sendiri tanpa banyak kontak dengan orang lain dan bahagia dengan kondisi kesendiriannya itu. Atau ada juga orang yang punya banyak teman, punya pasangan, punya keluarga, namun tetap merasa kesepian.

Bagi orang timur, yang terbiasa dengan suasana kumpul-kumpul keluarga atau hang out dengan teman-teman, kesepian menjadi terasa lebih berat. Tidak ada teman ngobrol, teman untuk berhaha-hihi atau sekedar leyeh-leyeh bersama. Saya mulai merasa kesepian ketika lepas dari bangku sekolah. Begitu memasuki dunia kerja, suasana pergaulan sudah berbeda,  serba formal dan jaim (jaga image). Kehangatan pergaulan juga berbeda. Mungkin karena unsur kompetisi dalam dunia kerja dan sempitnya waktu untuk bersosialisasi, tenggelam dalam kesibukan kerja dan tuntutan tenggat waktu pekerjaan atau urusan rumah tangga masing-masing.

Tapi tak lama setelah itu, booming media sosial membuat saya terhubung kembali dengan teman-teman lama yang sudah tersebar di segala penjuru bumi. Hal ini mengurangi rasa sepi meskipun hanya bertemu di dunia maya. Berbagi cerita keseharian atau minta pendapat teman untuk suatu masalah yang sedang dihadapi, melegakan hati dan pikiran karena sudah saling kenal sebelumnya sehingga tidak canggung lagi untuk curhat.

Seorang sahabat meminta pendapat saya mengenai keinginan ayahnya untuk merasakan tinggal di rumah jompo. Sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, sang ayah, saat ini 73 tahun, tinggal berdua dengan adik lelakinya yang masih lajang . Bisa dibayangkan bagaimana keseharian beliau: nonton tv, baca koran, makan dan tidur. Sendiri, dari pagi hingga malam, menanti anaknya pulang kerja. Sementara dua anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Saya mendukung ide untuk tinggal di rumah jompo karena di sana para penghuni akan disibukkan dengan beraneka macam kegiatan dan pastinya banyak teman. Mereka bisa ngobrol, menonton, atau sekedar duduk menikmati teh bersama. Teman saya khawatir dengan pandangan orang jika orang tua tinggal di rumah jompo. Kesannya seolah-olah anak-anaknya tidak berbakti, tidak mau mengurus orang tuanya, tidak perduli, dan segala label  negatif yang mungkin akan menjadi topik hangat dalam keluarga besarnya kelak atau di lingkungan.

Apa Yang Menyebabkan  Kesepian?

Menurut riset yang dilakukan John Cacioppo, psikolog dari University of Chicago, kesepian berhubungan erat dengan genetik. Suatu survei tentang kesepian pada anak kembar, menunjukkan bahwa anak kembar cenderung kurang merasa kesepian dari yang tidak memiliki saudara kembar. Selain itu, kondisi lingkungan  dan perubahan situasi seperti pindah ke kota lain, kematian pasangan hidup, perceraian, anak-anak yang telah dewasa dan meninggalkan rumah, dapat menjadi dasar timbulnya kesepian.

Orang yang kurang percaya diri sering menganggap dirinya tidak layak untuk mendapat perhatian orang lain dan cenderung menjadi minder. Situasi ini akan menjadikannya terisolasi dari pergaulan dan lama kelamaan menjadi (kesepian) kronis.

776a6445923b8172ae6321332d8f2ee6

Tingkat kesepian yang tinggi diasosiasikan dengan kondisi fisik seseorang: tinggal sendiri, jejaring pergaulan yang terbatas dan kualitas relasi  kurang baik. Kelompok individu yang memiliki penghasilan serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yang menikah atau memiliki pasangan,  cenderung jauh dari kesepian. Bukan banyak atau tidaknya jumlah teman  yang dapat menghalau kesepian, tapi kualitas relasi dengan orang lain. Jadi meskipun teman hanya segelintir, namun akrab dan solid, kita cenderung jauh dari kesepian karena selalu ada teman yang dapat diajak ngobrol atau melakukan aktivitas bersama.

Dampak Kesepian

Beberapa studi menunjukkan adanya kaitan antara kesepian dan isolasi dari kehidupan sosial dengan beragam macam penyakit fisik, dari kanker, penyakit jantung, peradangan hingga gangguan daya tahan tubuh. Kesepian membuat level cortisol dan tekanan darah menjadi kacau dan memicu reaksi berlebihan yang menimbulkan stres.

John Cacioppo juga mengatakan bahwa orang dewasa yang kesepian cenderung mengkonsumsi alkohol lebih banyak, kurang berolahraga, kualitas tidur kurang baik, mudah merasa lelah, lebih sering makan makanan tinggi lemak serta mengalami penuaan dini (premature aging).

Dampak negatif kesepian akan lebih besar pada anak-anak remaja dibandingkan dengan yang paruh baya. Itu sebabnya mengapa sering kita jumpai remaja yang merasa down  dan bahkan depresi ketika mereka tersisihkan dari kelompoknya, karena tidak ada yang mau satu grup dengannya jika ada tugas kelompok dari guru, tidak diajak hang out di mal atau tidak diundang ke acara-acara tertentu. Seorang ibu muda yang harus bed rest beberapa minggu karena kehamilannya  yang rentan, bisa juga dilanda kesepian, terlebih jika sebelumnya ia adalah wanita karir yang super sibuk. Jika kesepian tidak ditangani, tentu akan mengganggu kondisi fisik dan psikologis sang ibu.

Ada banyak situasi yang dapat menimbulkan kesepian dan dampaknya berbeda bagi tiap orang.

Tips Mengatasi Kesepian

Tidak ada orang yang ingin merasakan kesepian atau dengan sengaja mengisolasi diri dari lingkungan . Namun kadang tanpa disadari, kita tenggelam dalam kesepian. Apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal kesepian?

468b5f7ae60b11362ae46ba36905657f

  1. Tingkatkan rasa percaya diri . Setiap orang pernah merasakan kesepian, jadi bukan hanya anda. Tidak ada yang salah dengan diri anda jika suatu saat anda merasa kesepian, jadi  tidak perlu merasa minder.
  2. Bergabung dengan beberapa kegiatan dalam komunitas, seperti berolahraga di klub kebugaran, menjadi relawan dalam kegiatan sosial, ikut kelas menari, melukis dan sebagainya.
  3. Berteman dengan orang yang punya sikap dan menganut nilai yang sejalan dengan anda. Hal ini akan mengurangi friksi dan lebih cepat terjalin chemistry. Teman yang punya hobi sama dengan anda akan lebih menyenangkan karena banyak hal yang bisa dibahas bersama.
  4. Belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Jika anda hanya sibuk berbicara tentang kehebatan diri sendiri, lawan bicara akan merasa kurang nyaman karena tidak ada kesempatan untuk bertukar cerita. Hubungan interpersonal akan terjalin dengan baik jika ada in dan out yang seimbang.
  5. Keluarlah dari kamar dan lakukan kegiatan di ruang publik meskipun tidak ada teman yang bisa menemani saat itu. Pergi menonton di bioskop, menghadiri pameran, ke gym, nonton konser musik, naik sepeda mengitari kompleks tempat tinggal anda,  ke toko buku,  atau sekedar window shopping  di mal.  Meskipun dilakukan sendiri, hal ini akan lebih baik daripada mengurung diri seharian di kamar dan hanya memandang tembok kosong kamar anda. Pasti lebih bête, kan. Kegiatan di ruang publik membuka peluang  anda untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain.
  6. Kadang kala kita merasa rindu bukan dengan orangnya saja tapi juga dengan kegiatan yang dilakukan bersama orang tersebut. Contohnya: ada  restoran yang dulu sering anda kunjungi bersama seseorang, atau setiap makan makanan tertentu, mengingatkan anda pada X, ada lagu yang menjadi favorit si Y,  buku karangan penulis Z punya kesan yang dalam karena anda punya memori di dalamnya. Jadi ketika mulai merasa kesepian, lakukanlah hal-hal yang mengingatkan anda pada seseorang (meskipun tanpa kehadiran orang tersebut) atau pada suatu situasi. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi setelah itu anda akan terhibur oleh kenangan yang menempel pada objek atau kegiatan tersebut.
  7. Miliki binatang peliharaan. Sepupu saya kuliah di tempat yang jauh dari tanah air, memutuskan untuk memelihara anjing di apartemennya, meskipun itu berarti dia menjadi lebih sibuk karena harus mengurus makan, memandikan,  membawa jalan keluar rumah setiap pagi dan sore atau mencarikan tempat penitipan anjing setiap kali dia pulang berlibur. Katanya, mendengar suara si Oki melompat kegirangan ketika diberi makanan atau sekedar menuntun anjingnya di taman sekitar apartemen, sudah sangat menghibur.
  8. Sediakan waktu untuk keluarga, apakah itu dengan pasangan, anak, orang tua, kakak, adik, keponakan atau anggota keluarga besar lainnya. Selalu ada kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama.
  9. Bergabung dengan komunitas di dunia maya (online). Memiliki teman baru atau ikut dalam forum diskusi di dunia maya, kadang dapat membantu menghilangkan kesepian karena ada aktivitas yang mengisi waktu.
  10. Pergunakan waktu luang anda untuk mempelajari keahlian baru, seperti:  memainkan alat musik, melukis, menjahit, kursus masak, menari ataupun belajar bahasa  asing.

Tidak ada yang bisa menjamin anda terhindar dari jeratan kesepian, karena semua tergantung pada bagaimana anda mengelola pikiran dan emosi anda sendiri. Apakah betul kesepian lebih mematikan daripada kegemukan? Bisa jadi!

lone