Body Image

Sahabat saya berkeluh kesah soal puterinya yang saat ini berusia 13 tahun dan  mulai sering melewatkan makan siang atau makan malam dengan alasan badannya sudah terlalu ‘berisi dan tebal’. Merasa tidak percaya diri  jika memakai rok pendek atau baju yang ketat dan trendy.. Si puteri selalu butuh waktu lama memilih pakaian dan bolak-balik mematut diri di depan cermin ketika akan  diajak keluar makan atau ke mal.  Ia  terobsesi memiliki tubuh yang langsing seperti model-model dalam Fashion TV, acara yang paling sering ia tonton. Ada rasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya (negative body image) dan berdampak pada rasa percaya diri ketika harus tampil di depan umum, di sekolah atau berada di antara teman-temannya.

American Psychological Association (APA) pada tahun 2007 melaporkan hasil survei mengenai body image. Faktor seksualitas remaja puteri dan wanita dewasa memberikan kontribusi besar dalam peningkatan kecemasan dan  berhubungan langsung dengan body image yang berdampak pada masalah fisik dan psikis individu. Orang dengan berat badan berlebih (overweight) dan yang terlalu kurus (underweight) cenderung memiliki body image yang negatif, terlebih lagi ketika iklan-iklan di media massa terus mempropagandakan sosok tubuh ideal.

Apa itu Body Image?

Body image adalah gambaran mental tentang bentuk tubuh, mencakup perasaan, sikap dan persepsi tentang penampilan fisik. Sejauh mana orang tersebut merasa puas dengan bentuk tubuhnya, bagaimana pentingnya menjaga penampilan fisik agar selalu tampil prima dan ukuran pakaian tidak terus bertambah. Setiap orang, tidak peduli usia maupun gender, bisa punya masalah body image. Orang dewasa ingin ramping. Remaja ingin memiliki tubuh yang lebih tinggi, lebih berotot dan tegap. Seperti keluhan seorang remaja putri, teman anak saya: Seandainya aku lebih tinggi 5 cm lagi, aku akan lebih pe de dan ga usah harus selalu mengandalkan high heels.  Padahal menurut saya, ia sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita Asia ditambah lagi dengan wajah yang menarik, cantik alami.

Memiliki body image yang positif (sehat) membuat orang senang dan puas dengan bentuk tubuh dan wajahnya. Sebaliknya body image yang negatif  (tidak sehat) membuat individu merasa tidak bahagia dan berusaha merubah bentuk tubuhnya. Untuk skala yang ekstrim akan berujung pada gangguan makan seperti anorexia nervosa, bulimia atau memaksakan diri berolahraga terlalu keras.

Body image bisa berubah-ubah sepanjang hidup kita, tergantung bagaimana rasa percaya diri dan gaya hidup yang kita jalani. Anak yang dididik untuk memiliki body image yang sehat sejak kecil akan memiliki pengertian dan sikap yang sehat tentang kondisi dan perawatan fisiknya.

Ashley Graham, model bertubuh besar, berusia 27 tahun, desainer pakaian dalam, aktivis yang giat mempropagandakan soal mencintai bentuk tubuh apa adanya, ikut serta dalam TEDx Talk di Valencia, Spanyol pada bulan April 2015. Di hadapan 450 penonton,  Graham menceritakan bagaimana ia mengatasi rasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya, dan bagaimana rasa percaya dirinya runtuh ketika tubuhnya makin melar dan bermasalah dengan selulit. Dibutuhkan penerimaan diri yang total untuk mengembalikan rasa percaya diri dengan terlebih dahulu mencintai diri sendiri.  Graham tetap menjadi model yang laris dan menjadi co-founder ALDA, koalisi untuk para model yang berukuran tubuh besar. Gerakan ini bertujuan untuk meredakan keresahan di kalangan remaja puteri, khususnya di Amerika, yang banyak dipicu oleh rongrongan media massa bahwa tubuh yang menarik adalah tubuh yang tipis dan langsing seperti para model di panggung dan di majalah.

Apa  yang Mempengaruhi Body Image Anak?

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya body image pada anak, antara lain:

  • Lingkungan keluarga: ada keluarga yang sangat menekankan pada pentingnya menjaga bentuk tubuh dan anak menjadi terbebani dengan harus diet, rajin berolahraga, mengatur pola makan.
  • Perilaku sesama remaja: membanding-bandingkan bentuk tubuhnya dengan sesama teman.
  • Iklan di media massa: yang dikategorikan cantik adalah mereka yang mempunyai bentuk wajah dan tubuh tertentu.
  • Industri fashion: model yang ditampilkan semuanya bertubuh langsing dan perut rata, tegap dan berotot untuk model pria.
  • Latar belakang kebudayaan
  • Sosial media

Body ImageRemaja  yang memiliki body image negatif selalu dihubungkan dengan berkurangnya rasa percaya diri dan akhirnya mengarah pada mood yang tidak stabil dan cenderung negatif,  mudah terjebak  mencari cara yang keliru untuk menurunkan berat badan,  menjadi anorexia dan akhirnya mengarah ke depresi.

Anak mulai bermasalah dengan body image jika menunjukkan beberapa tanda seperti di bawah ini:

  • Merasa tidak pantas, tidak nyaman dan selalu mengkritik bentuk wajah atau tubuhnya, merasa tidak cantik dan sebagainya.
  • Selalu membandingkan dirinya dengan teman-temannya.
  • Enggan ikut pergi ke manapun karena merasa tidak ada pakaian yang pantas di tubuhnya.
  • Malas melakukan aktivitas apapun atau mencoba hal baru karena punya body image negatif terhadap diri sendiri.
  • Terobsesi mengurangi berat badan, khususnya bagian tertentu, seperti: pipi terlalu tembem, paha terlalu besar, pinggang lebar.
  • Setiap kali ingin makan sesuatu, selalu dihubungkan dengan jumlah kalori dan akan membuat tubuhnya bertambah gendut.

Mengembangkan Body Image Positif

Banyak remaja merasa bingung dengan perubahan fisik yang drastis ketika masa pubertas. Sebagai orang tua, kita bisa membantu mereka dengan menjadi pendengar yang baik, dengarkan semua keluh kesah tentang tubuhnya , mengajak anak berbicara dan menerangkan dengan jelas ‘apa’ dan ‘bagaimana’ agar mereka memiliki body image positif.

Hal utama yang harus ditekankan pada semua  anggota keluarga: jangan pernah mengejek atau mengolok-ngolok kondisi fisik orang lain. Kata-kata seperti: ‘gendut loe’, ‘jelek loe’, ‘kayak cecak kering’ akan membekas dalam hati si penerima dan menghantuinya terus.

Sikap positif dapat dipupuk dengan cara sebagai berikut:

  • Biasakan makan makanan sehat dalam keluarga
  • Jadikan kegiatan fisik sebagai rutinitas sehari-hari misalnya olah raga ringan, mengurus tanaman  atau membersihkan rumah. Tanamkan pada diri anak-anak bahwa berolah raga dan beraktivitas bukan hanya bertujuan untuk menjadikan tubuh lebih kurus, tapi agar tubuh sehat.
  • Melatih diri untuk bangga pada kelebihan yang dimiliki di luar faktor fisik misalnya punya selera humor yang baik dan disenangi oleh teman-teman.
  • Menghargai orang lain apa adanya tanpa melihat faktor fisiknya.
  • Tidak memberi komentar negatif tentang penampilan orang lain. Lihat tuh orang, sudahlah pendek, masak pakai coat panjang gitu. Jadi tenggelam deh.
  • Mengenali kondisi fisik yang membutuhkan operasi karena faktor estetika yang berkaitan dengan kesehatan, misalnya bibir sumbing, bekas luka bakar.
  • Tanamkan pada anak-anak bahwa setiap orang memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Fokus pada kemampuan tubuh kita, bukan pada bentuk tubuh. Jadikan tubuh yang sehat sebagai prioritas utama.

Ada kalanya komentar bernada positif bisa menjadi bumerang juga. Hey, kamu dah kurusan ya? Bagusan gini deh, kamu terlihat lebih cantik dan lebih tinggi. Komentar seperti ini akan diterima oleh bawah sadar bahwa untuk terlihat cantik dan kesan tubuh lebih tinggi, kita harus menguruskan badan.

Seperti kata Cameron Russel, mantan model yang dulu sering muncul di majalah Vogue, catwalk, dan menjadi model aneka produk papan atas, dalam suatu talkshow:  Looks aren’t everything. Believe me. I’m a model. Semua foto dan klip iklan yang kita lihat adalah hasil konstruksi, hasil kolaborasi sekelompok profesional dari penata rias, penata rambut, penata gaya, fotografer, ahli tata cahaya, dan semuanya palsu. Kecantikan palsu yang ditampilkan dalam selubung konstruksi. Itulah yang dilihat oleh awam dan dijadikan acuan dalam membentuk body image pribadi. Acuan semu.

Untuk memiliki body image positif kita tidak harus punya bentuk tubuh atau wajah sempurna bak model. Intinya  bukan pada penampilan luar kita tapi pada bagaimana kita menilai penampilan kita sendiri dan menyikapi bagaimana kita pikir orang lain menilai kita. Memiliki body image yang positif artinya kita merasa nyaman dengan tubuh kita sendiri, mencintai diri kita sendiri apa adanya, mengetahui bahwa nilai diri kita adalah pada ‘siapa saya’ dan bukan pada ‘bagaimana tampilan fisik saya’.

Kapan Butuh Terapi?

 

Seorang teman beberapa kali mencoba menyakinkan diri apakah saya benar bisa dipercaya dan bisa memegang rahasia yang akan ia ceritakan. Ia merasa sangat butuh diterapi. Semakin sulit tidur dan sering mimpi buruk. Tiba-tiba sedih dan menangis. Akhirnya ia merasa seperti sudah mau gila karena tidak dapat konsentrasi pada pekerjaan sehari-hari dan tidak bersemangat menjalani hari-harinya karena terbebani oleh masalah yang sedang dihadapi. Menjadi semakin murung, menutup diri dari pergaulan dan merasa semua mata memandangnya dengan aneh dan curiga. Ada apa sebenarnya?

Nampaknya dalam pemahaman umum, orang yang sudah nyaris hilang ingatan baru membutuhkan terapi dan penanganan profesional. Benarkah? Anda tidak perlu harus menunggu sampai nyaris ‘gila’ baru mencari psikolog, psikiater atau terapis. Di lain pihak, anda juga tidak perlu diterapi jika yang dihadapi hanya masalah sederhana atau jika memiliki lingkaran teman yang dapat diandalkan untuk memberikan dukungan tiap kali anda sedang galau. Jadi, kapan sebenarnya terapi oleh profesional diperlukan?

Ada beberapa pertanda yang dapat dijadikan acuan tentang kapan anda butuh terapi atau bantuan profesional:

  1. Ketika merasa sedih berkepanjangan, marah yang meledak tidak terkendali dan seperti bukan diri sendiri lagi. Pernah merasakan hal seperti ini? Anda sampai tidak mengerti mengapa anda merespons sesuatu hal dengan cara yang ‘aneh’ dan tidak terkontrol. Makan atau tidur lebih banyak atau sedikit dari biasanya, menarik diri dari pergaulan, merasa terasing. Anda akhirnya sampai pada pertanyaan: “Untuk apa aku hidup kalau begini terus? Lebih baik mati saja”.
  2. Mulai beralih pada alkohol, obat-obatan, makan berlebihan atau seks bebas untuk mengalihkan pikiran dari masalah yang sedang dihadapi.
  3. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang penting dan sangat berpengaruh dalam hidup anda. Rasa sedih karena kehilangan pasangan atau orang yang sangat dicintai, duka berkepanjangan, kehilangan pekerjaan utama, perceraian yang menyakitkan atau perasaan sulit melepaskan anak yang akan melanjutkan sekolah atau berkeluarga dan tinggal terpisah.
  4. Ada peristiwa yang menjadi trauma bagi anda, terus membayangi dan mengganggu keseharian. Misalnya kecelakaan lalu lintas, menjadi korban kejahatan seperti perampokan, penculikan, pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya, bencana alam, sakit parah atau kronis.
  5. Anda tidak mampu lagi mengerjakan tugas atau kegiatan reguler seperti biasa. Takut bertemu orang, takut berbicara dengan orang lain. Ketika diajak reuni atau sekedar kumpul-kumpul dengan teman kantor atau teman lama, anda merasa terancam atau tidak punya keberanian untuk tampil.
  6. Semakin sulit tidur dan sering dihadang mimpi buruk. Akhirnya takut untuk tidur karena takut mimpi buruk itu akan muncul lagi dalam tidur anda.

Pernahkah anda mengalami satu atau lebih tanda-tanda yang disebutkan di atas? Bukan hanya orang yang nyaris kehilangan akal sehat saja yang perlu diterapi. Lampu merah sudah menyala jika anda mengalami salah satu dari poin yang disebutkan di atas. Jika tidak ada teman atau anggota keluarga yang bisa menjadi tempat curhat anda dan membuat anda lega atau merasa aman, inilah saatnya anda menghubungi profesional untuk mendapatkan bantuan.

Sebuah studi tahun 2001 yang diberitakan dalam Journal of Counseling Psychology menyebutkan bahwa kebanyakan orang merasa lega dan menjadi lebih baik setelah 7 – 10 kali pertemuan dengan profesional. Studi lainnya yang dipublikasikan tahun 2006 dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology, 88 % dari orang yang mendapatkan terapi profesional dilaporkan mengalami kemajuan setelah satu sesi terapi.

Untuk individu yang memiliki kasus kompleks dan ‘berat’, biasanya butuh lebih banyak pertemuan untuk menggali di mana akar permasalahannya dan juga tergantung pada sejauh mana klien berani ‘terbuka’ dan percaya pada terapis. Jadi sejauh mana efek terapi dan berapa sesi yang dibutuhkan, akan berbeda pada tiap klien. Banyak hal yang mempengaruhi efektifitas dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk konsultasi atau terapi. Intinya adalah semakin dini anda menyadari bahwa anda membutuhkan bantuan profesional, semakin efektif penanganannya dan semakin cepat anda dapat kembali menikmati hidup seperti sebelumnya.

Ingin Berhenti Merokok?

“Saya ingin berhenti merokok, sedang berusaha, tapi tidak akan bisa langsung sekaligus.” Susi Pudjiastuti (m.tribunnews.com)

Ahaaa….partner saya khsusus menulis status di laman facebook-nya, sangat terharu dengan pernyataan di atas dan share artikel berita Ibu Susi Pudjiastuti yang menyatakan keinginannya untuk berhenti merokok. Beberapa minggu terakhir ini Ibu Susi menjadi topik hangat di media sosial karena menyorot dirinya sebagai menteri wanita yang perokok. Fotonya yang sedang merokok di halaman istana negara, menuai banyak komentar dari berbagai kalangan.

Terlalu lebaykah soal seseorang yang menyatakan keinginanya untuk berhenti merokok? Oh..jelas tidak. Bagi saya, niat untuk berhenti merokok dan membebaskan diri dari kungkungan lingkaran kecanduan rokok, patut diacungkan jempol. Ini merupakan langkah pertama yang paling penting. Niat. Ya, NIAT.

livinggreeandfrugallydot

Picture from livinggreenandfrugally.com

Bagaimana kondisi anda saat ini?

Masih merokok, tapi ingin berhenti?
Sudah berhenti merokok, namun mulai merokok lagi?
Sudah meninggalkan rokok, tapi keinginan untuk merokok kembali masih kuat?

Anda punya seribu alasan untuk tetap merokok. Saya masih sibuk dan butuh rokok untuk membuat mata melek biar kuat lembur. Saya hanya merokok beberapa batang sehari koq. Keluarga juga tidak keberatan saya merokok. Saya stres, lagi down. Bosen.Teman-teman juga merokok.

Mencari alasan untuk tidak perlu berhenti merokok. Saya menikmati koq. Saya akan berhenti merokok kalau waktunya tiba. Saya sudah merokok puluhan tahun dan sejauh ini baik-baik saja, tidak ada keluhan apapun. Kakek saya perokok berat, seperti lokomotif, tapi hidup sehat hingga 98 tahun.

Seperti kata teman saya yang sudah berteman dengan rokok sejak kelas 5 SD, segala bentuk rasionalisasi soal rokok, seperti: merokok itu tidak sehat, dihantui kanker paru-paru, membuat arteri tersumbat, merangsang batuk, umur pendek dan lainnya, tidak mempan dan tidak mampu menyiutkan nyali perokok. Ga merokok, cepat atau lambat, juga game over koq hahah….Tau ga sih, Li, merokok itu nikmatnya tidak terlukiskan dan membuat pikiran rileks.

Alasan yang mereka ajukan lebih kuat dari bahaya yang dihadapi. Merokok sudah menjadi kebiasaan (habit). Setelah makan, merokok. Menunggu atau antri di manapun, daripada nganggur atau salah tingkah, merokok. Di kamar mandi ketika panggilan alam menyapa, sambil merokok juga. Jadi sudah menjadi satu paket dari kegiatan harian. Ketika kegitan merokok dihilangkan, terasa ada yang janggal. Ada bagian yang kurang.

Lain lagi cerita isteri teman saya. Suaminya selalu butuh rokok saat ia akan bertemu dengan pelanggan, akan presentasi di depan audiens atau akan menghadiri rapat penting. Rokok menjadi penyalur dan penetral rasa gugupnya. Bagaimana dengan anda?

Apakah (Memang) Sulit Berhenti Merokok?

“Saya betul-betul ingin berhenti merokok kali ini, apalagi di kantor sudah menerapkan kebijakan no-smoking zone. Tapi koq sulit ya? Pernah berhenti merokok setahun yang lalu, seminggu saja, terus balik merokok lagi. Duh…apa mungkin betul-betul bisa berhenti?”

Itu inti dari curhat salah satu klien yang datang dan meminta bantuan untuk diterapi agar bisa lepas dari kecanduan rokok.

Keinginan untuk berhenti merokok menjadi satu tantangan tersendiri. Seberapa jauh tingkat kesulitannya, tergantung pada beberapa faktor, seperti:

Jumlah konsumsi rokok per hari
Siapa saja yang menjadi partner merokok (orang tua, teman, rekan kerja)
Alasan merokok: untuk pergaulan sosial, menjaga berat badan, ajakan lingkungan, untuk mengatasi rasa gugup ketika berada dalam suatu situasi, dan sebagainya.

Beberapa cara yang dapat membantu anda berhenti merokok:

Keinginan sendiri. Murni timbul dari diri sendiri, tanpa terapi apapun, tanpa obat, tanpa kondisi eksternal yang mengharuskan untuk berhenti. Keadaan ini disebut cold turkey. Menurut penelitian, hanya 10% dari total perokok yang memiliki keinginan berhenti merokok seperti ini. Beberapa teman saya berhenti merokok dengan mudah dan langsung stop saat ia memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan rokok.
Terapi perilaku (behavioral therapy). Cari terapis dan anda akan dibantu untuk mengidentifikasi apa yang menjadi dasar utama anda butuh rokok dan bagaimana mengatasi rasa ingin merokok.
Terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy) – NRT. Ada dalam bentuk plester, inhaler, semprotan (spray), permen karet, lozenges.
Terapi kombinasi, seperti memakai plester pengganti nikotin dan juga mengikuti terapi perilaku.
Hipnoterapi. Hingga kini masih ada pro dan kontra tentang efektifitas hipnoterapi dalam penanganan kasus klien yang ingin berhenti merokok, namun banyak yang berhasil lepas dari kecanduan rokok dalam 2 – 4 sesi hipnoterapi. Poin utama dalam keberhasilan hipnoterapi adalah adanya keinginan yang kuat dari klien itu sendiri.

43a431a0e5588e79b004d695cc4b6875

Menurut cerita seorang klien yang berhasil meninggalkan rokok dengan hipnoterapi, hal terberat bukan pada menahan keinginan merokok, tapi pada apa yang harus dilakukan sebagai pengganti kebiasaan dari saat-saat yang dulunya diisi dengan merokok. Jadi misalnya, dulu setiap selesai makan, ia harus merokok. Jadi ada jeda waktu yang dirasakan aneh jika sekarang ia tidak merokok setiap habis makan. Keinginan untuk merokok memang sudah mereda karena sugesti yang ditanamkan dalam dirinya membuat ia tidak lagi merasakan nikmatnya merokok. Jadi setelah hipnoterapi, butuh terapi lanjutan untuk mempertahankan keberhasilan klien meninggalkan rokok. Bicarakanlah dengan terapis hal apa saja yang anda rasakan setelah tidak merokok.

Setelah berhasil mengatasi kecanduan merokok, ada beberapa hal yang harus diingat dan ditanamkan dalam diri anda:

Kenali apa yang selalu menjadi pemicu anda merokok dan hindarilah.
Ingat, beberapa hari pertama adalah hari yang paling sengsara setelah anda lepas dari rokok. Cobalah untuk menjauhkan diri dari rentetan kebiasaan yang biasanya diisi dengan merokok. Misalnya, setelah makan, sibukkan diri dengan membaca koran, menonton tv, membereskan meja, memotong buah untuk penutup acara makan, dan lain-lain.
Perbanyak kegiatan bersama teman-teman yang tidak merokok.
Jangan kecil hati ketika diejek oleh lingkungan perokok karena anda tidak lagi ikut menyalakan dan menikmati rokok.

Jadi, masih ada alasan untuk tidak berhenti merokok? Langkah pertama adalah niat. Langkah berikutnya, wujudkan niat anda. Anda merasa sehat jiwa dan raga? Percayalah, anda akan lebih sehat lagi setelah setelah berpisah dengan rokok.

529b801fdeb245f6bd22d4ffd191f635

Saya Masih Trauma

“Saya masih trauma.” Ini kalimat yang sering kita dengar dalam pergaulan sehari-hari, atau mungkin kita sendiri yang memiliki trauma dan pernah mengucapkan kalimat itu. Apa sih trauma itu?

Kata ‘trauma’ berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘luka’. Trauma merupakan suatu peristiwa yang sangat menakutkan atau menekan – menimbulkan ‘luka batin’, membuat seseorang mengalami kesulitan beradaptasi dan menjalani kehidupan normal sehari-hari.

Peristiwa Yang Menimbulkan Trauma

Reaksi tiap orang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama. Suatu peristiwa bisa jadi dianggap biasa oleh si A, namun bagi si B bisa menjadi sangat mencekam dan mengancam kenyamanan dirinya. Seberapa besar dampak suatu peristiwa yang menimbulkan trauma pada seseorang tergantung dari kondisi kesehatan mental dan fisiknya, seberapa besar dukungan yang ada saat kejadian, pengalaman masa lalu dan kemampuan adaptasi diri.

Ada beberapa situasi atau kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma pada seseorang :
• Menjadi korban kejahatan atau kekerasan seperti dirampok, ditodong, diculik.
• Bencana alam: gempa bumi, gunung meletus, banjir.
• Perkosaan dan pelecehan seksual lainnya
• Anggota keluarga atau teman dekat yang bunuh diri.
• Kecelakaan ketika naik kendaraan.
• Kecelakaan di tempat kerja.
• Korban peperangan atau tawuran.
• Diserang oleh hewan tertentu.
• Dikhianati pasangan.
• Kekerasan dalam rumah tangga.
• Bullying, fisik maupun verbal.
• Penipuan
• Kemiskinan
• Menyaksikan kejadian pembunuhan.

Beberapa teori menyebutkan bahwa peristiwa traumatis yang dialami pada masa kanak-kanak meningkatkan resiko gangguan psikologis pada masa yang akan datang. Kejadian traumatis itu cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih berat dibandingkan dengan trauma lainnya. Trauma itu akan berdampak jangka panjang karena terjadi pada masa yang paling sensitif yaitu pada tahap perkembangan yang krusial.

Tanda-tanda Trauma

Tanda-tanda atau gejala trauma dapat timbul dalam bentuk fisik, kognitif (pikiran), perubahan perilaku atau emosi.

Physical (Fisik)

• Waspada berlebihan (‘parno’)
• Jantung berdegub kencang
• Letih berkepanjangan
• Gangguan tidur
• Pegal-pegal, otot tegang

Cognitive (Pikiran)

• Kejadian traumatis selalu muncul dalam pikiran
• Pikiran ‘blank’ (kosong)
• Mimpi buruk
• Sulit berkonsentrasi
• Disorientasi
• Bingung

Behavioural (Kelakuan)

• Menghindari tempat atau hal-hal yang memicu ingatan akan peristiwa traumatis itu
• Menarik diri dari pergaulan dan cenderung mengisolasi diri
• Tidak bersemangat dan enggan melaksanakan kegiatan rutin

Emotional (Emosi)

• Takut
• Mati rasa (numbness)
• Depresi
• Perasaaan bersalah
• Marah
• Cemas dan panik

Gejala-gejala yang dijabarkan di atas adalah reaksi normal terhadap trauma, selama tidak berlangsung lama dan bertambah berat. Ada perbedaan respons antara trauma yang timbul dari kejadian masa sekarang dengan trauma dari masa lalu yang telah terkubur dalam bawah sadar, seperti pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.

Mengatasi Trauma

Beberapa tips di bawah ini dapat dilakukan untuk mengatasi trauma dan mempercepat penyembuhan.

  • Kenali apa peristiwa yang menjadi trauma bagi anda.
  • Jangan mengurung diri. Isolasi membuat anda semakin terpuruk. Berbagi cerita dan membuka  diri tentang hal yang traumatis akan lebih melegakan.
  • Memiliki trauma bukan berarti anda abnormal. Yakinkan diri bahwa anda dapat mengatasinya.
  • Jauhkan diri dari alkohol atau obat-obatan sebagai pelarian dari rasa takut, panik, dan gelisah karena trauma itu.
  • Lakukan relaksasi, meditasi atau berdoa.
  • Usahakan tetap melakukan kegiatan rutin.
  •  Isi waktu dengan aktif di komunitas, membaca, ikut kursus, bermain dengan anak atau binatang peliharaan.
  • Jika ‘tayangan’ peristiwa traumatis itu kembali muncul dalam pikiran, coba latih diri anda untuk menerima kondisi itu sebagai suatu kejadian yang telah terjadi dan ikhlas menerima. Penerimaan merupakan suatu proses penyembuhan.
  • Selalu jaga kesehatan dengan tidur yang cukup, makanan bernutrisi dan olah raga teratur. Kondisi tubuh yang tidak fit membuat gejala trauma memburuk dan menyulitkan anda menjaga kestabilan emosi. Usahakan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap harinya.
  • Jika gejala yang dialami makin memburuk, sebaiknya anda mencari bantuan professional.

Terapi Trauma

Trauma merusak keseimbangan alami tubuh, membuat seseorang selalu merasa ketakutan dan gelisah. Jadi penanganan kasus trauma difokuskan pada mengembalikan keseimbangan dan membentuk kembali rasa aman (sense of safety). Kecemasan maupun ketakutan yang dirasakan setelah suatu kejadian yang traumatis dan gejalanya terus muncul hingga beberapa waktu kemudian, diklasifikasikan dalam Post-Traumatic-Stress Disorder (PTSD). 

Penyembuhan trauma diawali dengan memberanikan diri untuk menghadapi dan merasakan perasaaan takut, ngeri, seram yang berkaitan dengan peristiwa traumatis itu dan memunculkan kembali semua detil memori. Jika selalu mencoba melupakan atau menghindari tempat atau hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa tersebut, justru akan membuat kejadian tersebut muncul terus dalam pikiran, seperti tayangan film, semakin sulit dikontrol. Jadi semakin dihindari, akan semakin kuat (trauma) menghantui.

Dalam proses treatment, terapis akan membantu klien:

  • Memproses memori tentang kejadian traumatis dengan perasaan.
  • Melepaskan energi yang terpendam untuk fight or flight.
  • Belajar mengatasi emosi yang meluap.
  • Membangun kembali kepercayaan pada orang lain.

Jenis terapi yang paling sering digunakan dalam mengatasi trauma adalah:
Cognitive-behavioral therapy
• Somatic experiencing
• Eye Movement Desensitization Reprocessing(EMDR)
• Hypnotherapy
• Emotional Freedom Therapy (EFT)

Individu yang berhasil mengatasi trauma dengan baik, pribadinya akan menjadi lebih kuat dan hubungan interpersonal dengan orang lain akan lebih baik. Orang yang berada di sekelilingnya juga akan merasakan perubahan ini. Pengalaman traumatis layaknya seperti tulang yang patah, jiwa yang terluka. Jika tidak ditangani dengan baik, akan menjadi semakin rapuh dan rasanya seperti ada lubang permanen, luka yang terus terasa perih dan anda akan menjadi semakin lemah.

Pada proses penyembuhan, individu memformat ulang diri dan nilai yang selama ini ada dengan cara yang berbeda. Melihat suatu peristiwa dari sisi lain dan menata ulang. Pada tahap ini ada kemungkinan timbul suatu persepsi baru tentang makna kehidupan, membuat hidup lebih berarti dan berharga.

 

Depresi Bukan Sih?

Baru-baru ini ada kabar tentang seorang teman yang sudah lama putus kontak dengan saya. Lama tidak ada kabar beritanya, tidak pernah muncul dalam acara reuni atau kumpul-kumpul sambil ngopi bersama, tidak lagi pernah menyapa di media sosial. Tiba-tiba saja kabar yang sampai ke telinga saya, teman ini sedang menjalani terapi dengan psikiater karena dideteksi mengalami depresi.

Perhatikanlah, setiap kali terlontar kata depresi, orang akan mengernyitkan dahi dan berkomentar miring karena depresi bermakna negatif. Sementara yang mengalami depresi sering mengabaikan tanda-tanda yang muncul dan cenderung menyangkal. .Apa sih sebenarnya depresi itu?

Ibu-ibu yang baru melahirkan mengalami situasi yang sangat tidak kondusif dan terasa menekan. Bisa muncul sehari setelah melahirkan atau bahkan dua tahun kemudian. Sang ibu akan menjaga jarak dan membenci bayinya karena merasa kelahiran bayi ini membuatnya terkungkung atau merasa sangat tidak nyaman dengan diri sendiri atau mengganggu kegiatan normalnya. Ini kondisi yang termasuk dalam kategori depresi (postnatal depression).

Depresi merupakan gangguan mental yang mempengaruhi fisik, mood dan pikiran. Bukan sekedar perasaan sedih biasa yang kita rasakan jika ada kejadian yang menyesakkan atau mengecewakan atau perubahan mood saja. Perasaan sedih pada orang depresi akan lebih dalam hingga mengganggu kegiatan hariannya. Ada yang merasa seolah-olah semua orang memusuhinya, merasa tidak berguna lagi, hidup kosong, hilang semangat dan akhirnya berkurung di kamar saja. Tidak percaya diri bertemu dengan orang lain, apalagi menyapa atau berbicara. Menjadi apatis.

Penyebab Depresi

Penyebab depresi pada tiap orang bisa bervariasi, dipicu oleh beberapa sebab dan merupakan kombinasi dari faktor fisik, psikis maupun emosional.

– Kejadian besar yang mengguncang seperti kematian orang dekat, perceraian, diputuskan pacar, pindah rumah, kehilangan pekerjaan, dirampok.

– Perubahan fase kehidupan seperti memasuki masa pensiun atau anak-anak beranjak dewasa dan meninggalkan rumah.

– Peristiwa traumatik seperti pernah dilecehkan, termasuk pelecehan seksual, sering menerima perlakuan kasar baik secara verbal maupun fisik di masa lalu.

– Beberapa kondisi fisik juga dapat memicu timbulnya depresi seperti perubahan hormon pada masa remaja atau menopause, gangguan tidur, menderita sakit yang serius dan perlu pengobatan jangka panjang dan mahal, alkoholisme, ketergantungan obat-obatan dan sebagainya.

Gejala Umum Depresi

Untuk mendeteksi apakah kondisi yang anda alami sudah termasuk dalam kategori depresi atau tidak, ada beberapa gejala umum yang muncul :

– Perasaan dan pikiran
– Tidak bersemangat
– Mudah menangis, marah, mengamuk
– Merasa tidak berguna, kosong, tidak punya harapan
– Selalu berpikiran negatif, cenderung tidak realistis
– Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan
– Sulit mengingat sesuatu, menjadi pelupa.
– Hilang hasrat untuk berhubungan seks
– Terus dikejar rasa bersalah yang berkepanjangan
– Tidak percaya diri
– Ada keinginan untuk bunuh diri.

Tugas yang biasanya ringan dan sederhana, sekarang terasa sulit dan membingungkan.

Malu bertemu orang lain dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Sulit memulai pembicaraan atau sekedar basa basi.

Gejala fisik

Tidak dapat tidur atau terlalu banyak tidur
Hilang nafsu makan atau malah menjadi rakus
Mulai mengkonsumsi lebih banyak alkohol/rokok dari biasanya
Semakin sering timbul keluhan fisik seperti pegal-pegal, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut.
Gerakan menjadi lebih lambat
Mudah lelah

Semakin banyak gejala yang anda alami, semakin besar kecenderungan anda mengalami depresi. Ingat, depresi adalah faktor utama mengapa orang ingin bunuh diri. Kekecewaan yang mendalam dan perasaan tidak berharga membuat bunuh diri seolah-olah menjadi satu-satunya jalan keluar dari masalah yang dihadapi.Ini dampak yang paling parah dari kondisi depresi, jadi jangan anggap sepele setiap kali keluar ucapan ingin bunuh diri, sering menulis status yang bertendensi pada kematian atau tanda-tanda mencurigakan lain yang mengarah pada keinginan bunuh diri. Indikasi yang sangat serius dan menjadi gong utama yang harus menyadarkan kita bahwa orang ini butuh bantuan segera.

Tips Penanganan
Perhatikan tanda-tanda yang muncul pada orang tersebut. Pelajari juga apakah depresi itu dipicu oleh faktor fisik atau psikis.

Hubungi dan kunjungi psikolog atau psikiater untuk mengetahui sejauh mana tingkat depresinya.

Treatment tergantung pada seberapa berat kondisi depresi yang dialami dan terapis akan menentukan apakah perlu diberikan obat-obatan antidepresan atau tidak.

Olah raga, merubah gaya hidup, makanan yang bergizi, juga dapat membantu meringankan kondisi depresi.

Butuh dukungan sosial untuk penyembuhan. Bergabung dengan komunitas, menambah teman baru, curhat pada teman.

Penanganan depresi butuh waktu dan kesabaran untuk mengembalikan rasa percaya diri dan semangat hidup si korban depresi. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat sangat diperlukan.

Tidur yang cukup. Jika waktu tidur tidak cukup, depresi akan semakin memburuk karena kurang tidur membuat mood gonjang-ganjing dan letih yang berkepanjangan.

Tetap Muda Di Usia Tua

Umur berapa seseorang dikategorikan tua? Putera bungsu saya, 8 tahun, sering mengatakan begini: “Mama sudah tua sih, makanya jadi pelupa.” Lha, saya belum meniup lilin ulang tahun emas, tapi sudah dikatakan tua. Jelas saya menyangkal dan tidak terima dikatakan tua hanya karena sekali waktu saya mendadak jadi pelupa. Lupa kacamata ditaruh di mana, lupa kalau besok anak harus bawa pianika, lupa ambil laundry, lupa tadi parkir di lot berapa dan macam-macam lupa yang lain.

Tapi sejujurnya, 30 tahun yang lalu ketika masih remaja, saya juga menganggap orang yang berumur 40 tahun ke atas sudah tua. Belum terbayangkan apa yang akan saya lakukan jika kelak berada di usia kepala 4. Waktu terbang bagai angin dan sekarang saya sudah di posisi 40-tahunan tapi koq tidak rela dimasukkan ke dalam kelompok tua? Walahhhhh…

Menurut hasil penelitian, sebagian besar orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun cenderung merasa setidaknya 10 tahun lebih muda dari usia aktualnya. Sepertiga dari yang berusia antara 65 – 74 tahun merasa 10 – 19 tahun lebih muda dan seperenam dari yang berusia 75 tahun merasa 20 tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Nah loooo. Jadi kapan orang dikategorikan masuk dalam kelompok tua? Sebagian responden dalam penelitian itu menyebutkan angka 68. Orang disebut tua jika telah menapaki usia 68 tahun. Di Amerika, para senior yang mendapatkan pelayanan diskon manula, menganggap kategori tua itu jika sudah mencapai usia 75 tahun.

Dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di kota-kota besar, orang cenderung kurang senang jika dikatakan sudah tua atau lebih parah lagi jika dikomentari terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Orang berlomba-lomba untuk tampil lebih muda dari usia fisiologisnya, awet muda dan tetap gaya. Pada kenyataannya kita memang lebih suka melihat orang yang sudah berumur tapi masih sehat, segar, aktif dan penampilan rapi dan chic.

Complain

Apa sih sebenarnya yang membuat orang cemas menghadapi usia tua?

Beberapa teman curhat soal sikap orang tuanya yang makin hari makin ‘aneh’ dan mulai dirasa mengganggu. Ada yang kelakuannya seperti anak kecil, bisa tiba-tiba merengek dan menangis jika tidak dituruti keinginannya, ada yang jadi galak, bawel, makin perfeksionis, semua yang dikerjakan oleh orang lain salah dan dikomentari miring, ada yang jadi manja dan ingin dilayani terus, ada yang jadi curiga orang lain berniat jahat padanya, takut ditinggalkan, semakin pendiam dan mengurung diri di kamar. Tidak mau diajak keluar rumah, tidak mau bertemu dengan orang lain. Setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda sehingga ketika menjadi tua, perilaku juga berbeda satu orang tua dengan yang lain.

Ada beberapa pengamatan, hal-hal yang mungkin menjadikan orang cemas akan bertambahnya usia, antara lain:

  1. Usia tua cenderung diindentikkan dengan kondisi tidak berdaya karena fisik yang makin lemah sehingga menghambat aktivitas seperti berkurangnya ketajaman penglihatan, kemunduran pendengaran, daya ingat yang makin menurun, dan reflek yang berkurang. Jadi bukan hanya masalah takut keriput, kulit tidak elastis lagi, massa otot berkurang, metabolisme menurun, tubuh menjadi tambah gemuk, dan sebagainya.
  2. Rasa percaya diri berkurang karena kondisi fisik yang menurun menjadikan kita kurang mandiri dan membutuhkan bantuan orang. Hal ini mempengaruhi emosi dan mood seseorang.
  3. Takut terisolasi dan kesepian karena anak-anak akan meninggalkan rumah untuk sekolah atau bekerja dan kemudian berumahtangga.
  4. Melihat teman yang mulai sakit-sakitan atau mengurus orang tua yang sakit dan akhirnya meninggal, menjadikan kita merasa cemas memasuki usia tua karena takut sakit, takut pada kematian. Kita berusaha untuk tetap ‘muda’. Menurut pengamatan Shetwin Nuland, M.D., seorang dokter bedah, generasi Baby Boomers, yang lahir di rentang tahun 1946 – 1964, memiliki kepedulian besar terhadap usia dan kematian.

See beauty

Stephan Rechtschaffen, MD, seorang praktisi pengobatan holistik, menjadi penggerak Omega Institute, semacam aliran baru yang bertujuan membuka pikiran untuk menerima proses dan kondisi menjadi tua sebagai sesuatu yang alamiah. Butuh cara berpikir yang berbeda bahwa menjadi tua itu bukan sesuatu yang menakutkan dan menjadi tua bukan berarti tidak berguna lagi.

Nampaknya pandangan negatif tentang ketakutan menjadi tua, juga dipicu oleh pengaruh persuasi media bahwa cantik itu adalah yang muda, kulit putih, mulus tanpa kerutan, rambut tebal, bentuk tubuh sempurna. Jadi tidak heran jika dalam dua dekade terakhir ini, bisnis kecantikan dari urusan facelifts, antiaging creams, totok wajah, laser, sedot lemak, dan lainnya, maju pesat.

Semakin kuat pengingkaran kondisi menjadi tua,  semakin tinggi tingkat stres yang akan timbul dan akhirnya mempengaruhi perilaku sehari-hari. Itu sebabnya ada orang tua yang jadi lebih sensitif, gampang tersinggung, temperamental, mudah menangis atau menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Anda tahu Christy Turlington, wanita cantik yang menjadi model produk Calvin Klein sejak 25 tahun yang lalu hingga kini? Saat ini ia berusia 45 tahun, ibu dari dua orang anak, dan baru-baru ini dalam wawancara dengan salah satu majalah mode, ia katakan seperti ini: “Setiap orang koq menjadi takut tua, (tapi) saya tidak ingin terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya. Wajah kita adalah peta kehidupan, semakin banyak (guratan) semakin baik.” Pendapat yang cukup bijaksana menurut saya. Padahal kita tahu, kecantikan adalah modal utamanya dalam bekerja, namun baginya ia tidak harus selalu tampil muda dengan segala macam operasi plastik atau tindakan peremajaan kulit dan tubuh yang berlebihan.

Tips Menikmati Bertambahnya Usia

Menjalani dan menikmati bertambahnya usia secara alami bukan berarti tidak berbuat apapun dan hanya duduk menghitung hari. Dari segi fisik, selalu disarankan untuk menjaga kesehatan agar kondisi tetap prima dengan makan makanan yang bergizi, tidur yang cukup, berolahraga teratur, menjaga kulit dari sengatan matahari. Rajin mengoleskan body lotion untuk menjaga elastisitas kulit, memakai krim tabir surya, krim malam, dan berbagai aturan dasar pemeliharaan wajah dan tubuh.

  1. Menjaga penampilan agar tetap terlihat segar, enak dilihat, dan memancarkan semangat hidup.
  2. Buat daftar apa yang ingin ada lakukan ketika menginjak usia 50, 60, maupun 70 tahun. Dengan adanya daftar dan target yang ingin dicapai, membuat anda lebih fokus dan bersemangat.
  3. Tetap aktif dalam komunitas karena kontak dengan orang lain akan membuat hidup lebih berwarna, menghalau kesepian, merasa diri tetap berguna. Jadi relawan untuk berbagai kegiatan sosial, jadi mentor bagi yang lebih muda dengan berbagi pengalaman dan ilmu. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa tetap aktif dalam kegiatan sosial membuat pikiran tetap sehat dan terasah sehingga mengurangi kondisi cepat lupa. Lagipula, hidup akan terasa lebih berarti jika kita masih dapat membantu dan berbagi.
  4. Aktif dalam media sosial meskipun hanya sekedar menyapa atau ikut dalam pembahasan topik tertentu. Kita juga bisa mendapatkan teman-teman baru di media sosial.
  5. Kembali menekuni hobi yang dulu sempat terhambat karena kesibukan mengurus keluarga atau mengejar karir, seperti berkebun, menjahit, melukis, kursus bahasa asing, menulis, atau mengikuti kelas tari.
  6. Usahakan tetap update dengan berita di koran maupun tv, tentang fashion, musik, gadget, atau berita yang sedang hangat dibicarakan, sehingga nyambung dalam setiap pembicaraan dalam pergaulan.
  7. Traveling/plesiran membuat anda menemukan banyak hal baru dan menyegarkan karena bertemu dengan orang baru, situasi baru, mengenal kebudayaan yang berbeda dengan yang biasa kita jumpai.

Kunci utamanya bukan hanya menjaga fisik tetap muda tapi juga pikiran dan hati yang bening. Young at heart. Masih banyak yang bisa dikerjakan seiring dengan bertambahnya usia, membuat kita merasa tetap berguna, selalu optimis dan banyak bersyukur. Jadi daripada menghabiskan banyak uang untuk mengelabui usia dengan tampilan yang ‘terlihat’ muda, lebih baik berkonsentrasi pada peningkatan kualitas diri. Menjadi lebih bijaksana, lebih sabar, lebih rileks meskipun kerutan dan uban sudah menjadi aksesoris tambahan.

Heart - old

//

Life Detoxing

Bulan Desember selalu menyisakan satu pe er buat saya untuk refleksi apa yang sudah saya lakukan sepanjang tahun ini. Pelajaran apa yang saya dapat, siapa teman baru yang masuk daftar sahabat,  teman mana yang akhirnya menjadi musuh, prestasi apa yang saya raih, berapa harga yang harus saya bayar untuk mendapatkan satu pelajaran hidup,  berapa banyak air mata yang terkuras dan lain sebagainya. Selain itu, ada beberapa peristiwa yang menjadi kenangan manis di bulan Desember, yang selalu melekat di hati dan membuat  saya mengulum senyum setiap kali Desember tiba.Yang pasti, ini adalah saatnya untuk detoks, bukan hanya detoks fisik tapi juga pikiran dan jiwa.

Nuansa Desember selalu dipenuhi oleh Sinterklas, Natal, hadiah dan liburan apalagi sejak pertengahan November, dekorasi di mal-mal besar sudah memajang aneka hiasan Natal. Yang paling menggoda, tentulah suasana liburan, padahal setiap Desember, kerjaan menumpuk karena harus stock opname, kejar target dan tutup buku.

Untuk tahun 2013, saya tidak punya target muluk-muluk untuk dicapai, tapi yang jelas, ada beberapa pelajaran hidup yang saya peroleh baik dari pergaulan maupun pekerjaan.  Dari yang menciutkan hati,yang  membuat air mata mengalir sedih ketika kehilangan sahabat,  merasakan bagaimana saya dipojokkan, dituding sebagai pengacau tanpa diberi kesempatan membela diri, tersipu-sipu dan terharu saat ada yang mengutarakan isi hatinya, memasang senyum selebar mungkin karena ternyata di usia menjelang tengah baya masih ada yang tanya: “Kamu pengen hadiah apa untuk ulang tahunmu?”. Ahaaaa.…penuh warna kan.

Langkah-langkah Detoks                                         

Kondisi fisik dan psikis yang amburadul sepanjang tahun setelah diterpa aneka macam peristiwa, tentu mengendapkan banyak racun karena emosi negatif juga terpicu, menggerogoti pikiran dan jiwa. Bukan itu saja, daya tahan tubuhpun menurun dan beberapa kali terkapar dan terpaksa istirahat di rumah ketika fisik melemah.

Letting go

Langkah pertama yang paling efektif adalah letting go, melepaskan semua  hal yang memberatkan pikiran, seperti:

          Stres membagi waktu antara keluarga dan tuntutan pekerjaan di kantor

          Pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion

          Tingkah laku pasangan atau anak-anak yang menyebalkan

          Pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai, rumah berantakan terus

          Asisten rumah tangga yang keluar masuk atau yang kerjanya tidak sesuai standar

          Sikap perfeksionis yang menghantui diri, semua maunya serba sempurna, rapi, bersih setiap waktu

          Selalu khawatir ini itu.

let go

Balancing

Setelah semua hal-hal yang menjadi racun pikiran dilepaskan,  pikiran pasti menjadi lebih ringan dan bersih, seperti ruangan yang baru dirapikan dan siap ditata ulang. Ini saatnya memilah-milah mana yang masih perlu dipertahankan, mana yang harus dimasukkan ke gudang dan tidak perlu dipikirkan lagi, mana yang akan dipoles ulang agar menjadi booster dan vitamin kehidupan.

1.      Susun ulang semua to-do list berdasarkan prioritas mana yang lebih penting dikerjakan terlebih dahulu.

2.      Jangan terlalu terpaku pada tenggat waktu yang kaku agar anda tidak menjadi terbebani oleh waktu yang mengikat. Berikan toleransi penyelesaian pekerjaan.

3.      Delegasikan pekerjaan, misalnya di rumah, anak-anak bisa diberi tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan rumah yang sederhana seperti mengangkat jemuran, melipat pakaian, merapikan kamar tidur sendiri, membuang sampah, dan bahkan menyapu halaman. Jadi ketika asisten rumah tangga tidak masuk, anda tidak kelabakan karena sudah punya tim pengganti. Pekerjaan di kantor didelegasikan ke bawahan agar meringankan pekerjaan anda. Anda bisa mengajarkan bawahan untuk operasional yang menyita banyak waktu sehingga anda tinggal mengontrol atau mengoles finishing touch. Menghemat banyak waktu yang bisa anda gunakan untuk melakukan hal lain.

4.      Sisihkan waktu untuk istirahat di tengah kesibukan, jangan terus bekerja berjam-jam tanpa jeda. Beristirahatlah sejenak setelah satu sesi dan berjalan ke luar dari kubikel, atau minum secangkir kopi sambil chat sebentar dengan teman, angkat telepon dan berbicara sebentar dengan, misalnya, Ibu anda, kemudian mulai bekerja lagi.

5.      Secara berkala, sediakan me-time apakah untuk sekedar creambath di salon, pijat, hang out dengan teman, membaca novel, menonton dvd atau melukis tanpa diganggu oleh siapapun.

6.      Sediakan quality time dengan pasangan ataupun anak anda. Keluar rumah berdua saja, tanpa anggota keluarga lain. Dengan berkencan seperti  ini kita punya kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati.

7.      Perluas lingkup pertemanan, baik di lingkungan nyata maupun teman di dunia maya. Teman, apalagi yang betul-betul baik dan klop, selalu menjadi penyemangat. Ketika pikiran mandeg, sharing dengan teman sering kali membuahkan ide yang baru, kadang yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya.  Dukungan dari sahabat sangat berperan dan menambah rasa percaya diri kita.

 balancing

Cherishing

Langkah berikutnya adalah bersyukur atas apa yang sudah kita miliki dan tidak iri dengan milik orang lain. Tidak sekedar take for granted, tapi betul-betul mensyukuri.

·         Bersyukur memiliki keluarga yang rukun, bisa melihat anak-anak tumbuh dari hari ke hari. Merasakan pelukan hangat pasangan dan anak-anak kita, ikut bahagia ketika mereka terpilih menjadi wakil sekolah untuk suatu perlombaan, melihat hasil karyanya dan lain sebagainya.

·         Bersyukur karena dikelilingi oleh sahabat yang siap mendukung kita dan menyejukkan hati  setiap kali kita sharing.

·         Syukuri setiap hari bisa kita lalui dengan baik, pergi pulang kantor dengan selamat, dijauhkan dari yang jahat.

·         Syukuri iman yang masih kuat dan tidak tergoda untuk berpaling , tidak tergoda untuk berbuat curang.

·         Syukuri umur panjang dan kesehatan yang diberikan pada orang tua kita sehingga mereka masih berada di tengah keluarga.

·         Syukuri kemampuan menahan emosi, amarah, dan menjadi individu yang lebih sabar dan dewasa dari waktu ke waktu

·         Syukuri setiap pertambahan usia dan setiap helai uban yang muncul karena itu menandakan sudah sejauh ini kita berjalan. Jalan masih panjang dan kita harus tegar.

·         Syukuri setiap rezeki yang datang dan keinginan untuk berbagi rezeki  dengan sesama.

·         Dan yang paling penting, bersyukur atas harta yang tidak ternilai, kesehatan kita. Dengan tubuh yang masih sehat, banyak hal yang dapat kita lakukan dan nikmati. Masih banyak tempat yang menanti untuk dijelajahi, masih banyak kesempatan yang terbuka untuk memaksimalkan bakat dan talenta yang kita miliki.

cherish

Desember sebentar lagi berlalu, marilah kita duduk dan merefleksikan apa saja yang sudah kita kerjakan dan sejauh mana jalan yang sudah kita tempuh. Berapa banyak persimpangan, tanjakan, turunan dan titian yang membuat gamang ketika berjalan dan ternyata bisa dilewati juga. This too will pass. Kutipan yang selalu menjadi penyemangat diri saya karena seberat apapun cobaan yang akan dihadapi, pasti bisa dilalui. Dan yang membuat senyum saya masih mekar sampai saat ini, karena dua minggu yang lalu saya diberi pe er baru untuk memikirkan jawaban: “Kamu mau hadiah apa untuk Natal tahun ini?”

detox1