Aku Mau Jadi Anak Sulung

Ayooo, siapa yang menduduki posisi anak sulung, anak tengah atau anak bungsu dalam keluarga? Atau anda justru menjadi anak satu-satunya? Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Jarak usia dengan kakak sekitar 4 tahun dan dengan adik 5 tahun. Yang saya ingat, sejak TK saya sudah harus menjaga adik, menyuapinya jam 5 sore saat teman-teman saya asik bermain kasti, petak umpet, loncat tali. Makannya diemut lama, jadi acara makan selesai ketika jam bermain juga selesai. Ahaa….serunya jadi kakak perempuan dan punya adik meskipun kadang kala saya sedih juga karena tidak bisa ikut bermain dengan teman-teman. Selain itu, saya sering jadi penengah antara kakak dan adik atau jadi humas antara kakak dengan orang tua jika ia suatu waktu ingin dibantu ’melobby’ orang tua untuk mendapatkan sesuatu, dari minta tambahan uang saku hingga keinginan beli motor.

Beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, putera bungsu saya tiba-tiba memeluk dari belakang dan berkata: “Ma, kenapa aku ga dilahirkan duluan? Aku maunya jadi Koko, jadi anak paling gede. Ga enak jadi adik.” Lho???? Saya tidak bisa menahan tawa mendengar protes si kecil. Ternyata dia merasa kurang power karena jadi anak bungsu dengan dua kakak yang berjarak usia 10 tahun dan 8 tahun. Selalu jadi anak bawang dan kerap dijahilin dan diuwel-uwel oleh kakak-kakaknya.

image_2

Urutan Kelahiran

Seberapa penting posisi urutan kelahiran dalam keluarga? Beberapa ahli percaya bahwa urutan kelahiran punya peranan penting dalam membentuk kepribadian, bagaimana kelak seseorang akan bertindak ketika dewasa. Menentukan bagaimana melihat dan menilai lingkungan, bagaimana ia ingin diperlakukan oleh lingkungannya.

Alfred Adler, psikiater (1870 – 1937), adalah orang pertama yang mengemukakan teori tentang pengaruh urutan kelahiran pada kepribadian. Kepribadian adalah cara kita menghadapi atau menangani tugas-tugas dalam hidup (tasks of life), termasuk pekerjaan, pergaulan, dan bahkan bagaimana menghibur diri sendiri.
Persepsi tentang urutan kelahiran juga akan mempengaruhi pilihan karir seseorang. Eckstein dan Kaufman melakukan studi di Polandia dan hasil penelitiannya orang cenderung percaya bahwa anak sulung akan menempati posisi pekerjaan yang bergengsi.

Selain urutan kelahiran, perlu disimak juga beberapa aspek:
– Jarak usia kelahiran anak
– Tempat tinggal (demografis)
– Status sosial
– Perubahan tatanan dalam keluarga
– Jumlah anak yang tinggal serumah

Jika jarak kelahiran lebih dari 6 tahun, nampaknya ada gap antar anak karena anda akan berhadapan dengan anak dari dua generasi. Ini berlaku juga ketika kita punya pasangan yang berbeda usia lebih dari 6 tahun. Bagaimana dua orang dari dua generasi harus beradaptasi dan hidup bersama dalam satu rumah.

Teori Adler Tentang Urutan Kelahiran

Alfred Adler mengeksplorasi pengaruh urutan kelahiran dan berapa lama seseorang hidup bersama saudara-saudaranya karena dianggap setiap urutan kelahiran memiliki sisi unik, baik dari segi positif maupun negatif.

Tabel yang disederhanakan dari teori Adler tentang urutan kelahiran:

POSISI SITUASI DALAM KELUARGA KARAKTERISTIK ANAK
ANAK TUNGGAL Anak yang sangat berharga dalam keluarga dan memperoleh perhatian penuh dari kedua orang tua.  Bisa menjadi  saingan dari salah satu orang tua. Cenderung dimanjakan dan orang tua  sangat protektif (over-protective). Suka menjadi pusat perhatian orang dewasa. Sering sulit untuk berbagi (sharing) dengan teman sebaya. Lebih suka bergaul dengan orang yang lebih dewasa dari dirinya dan mengikuti gaya bicara orang dewasa.
ANAK SULUNG Harus belajar berbagi karena punya saudara yang lebih muda. Harapan orang tua biasanya sangat tinggi. Sering diberi tanggungjawab lebih dan diharapkan menjadi panutan adik-adiknya. Bisa jadi otoriter, merasa paling berkuasa.  Suka membantu orang lain jika diberi dukungan atau merasa dihargai.
ANAK TENGAH Terjepit di antara kakak dan adiknya. Lebih kompetitif dan ingin mengalahkan si kakak. Bisa jadi pemberontak karena merasa dikesampingkan dan sulit mendapatkan perhatian.  Cenderung keras dan tegas: take it or leave it.
ANAK BUNGSU Punya banyak ‘ayah dan ibu’ karena kakak-kakaknya mencoba jadi mentor.  Tidak pernah ‘turun tahta’, selalu jadi raja kecil di rumah. Ingin menjadi lebih dewasa dan berkuasa dari  kakak-kakaknya.  Selalu jadi adik kecil dan dimanja.
ANAK KEMBAR Biasanya salah satu lebih aktif  dan orang tua akan membedakan mana yang dianggap sebagai kakak. Bisa timbul masalah identitas. Yang lebih kuat akan menjadi pemimpin (leader)
“ANAK HANTU” Anak yang lahir setelah kematian anak di atasnya, seperti ada ‘hantu’ di depannya. Ibu akan cendrung over-protective. Anak bisa jadi mengeksploitasi sikap ibu yang over-protective. Mungkin juga jadi pemberontak dan protes jika dibanding-bandingkan dengan anak yang sebelumnya.
ANAK ADOPSI Orang tua merasa beruntung mendapatkan anak ini dan cenderung memanjakannya. Mencoba mengkompensasi ketiadaan orang tua kandung si anak. Anak bisa menjadi sangat manja dan banyak menuntut.  Suatu ketika ia mungkin akan membenci atau justru mengidolakan orang tua kandungnya.
ANAK LAKI-LAKI SATU-SATUNYA Jika ayah tidak di rumah, ia akan selalu berada di tengah saudara-saudara perempuannya. Bisa menunjukkan kuasanya sebagai laki-laki di rumah atau juga menjadi lebih lembut dan feminin.
ANAK PEREMPUAN SATU-SATUNYA Saudara laki-laki yang lebih tua menjadi ‘pengawalnya’. Bisa menjadi sangat feminin atau tomboi dan lebih ‘hebat’ dari saudara-saudaranya.  Ingin menyenangkan ayahnya.
SEMUA ANAK LAKI-LAKI Jika ibu menginginkan anak perempuan, bisa jadi anak didandan seperti perempuan. Anak mungkin akan menurut pada peran yang ditunjuk atau memprotes keras.
SEMUA ANAK PEREMPUAN Mungkin didandan seperti laki-laki. Anak mungkin akan menurut pada peran yang ditunjuk atau memprotes keras

Sumber: http://www.adllerian.us/birthord.htm

Menurut Adler, perbedaan situasi dan karakteristik urutan kelahiran akan hilang jika sistem dalam keluarga lebih demokratis dan kooperatif, kompetisi dan juga perang kekuasaan antar anak akan berkurang.
• Situasi psikologis tiap anak dalam keluarga berbeda satu sama lain.
• Pandangan anak terhadap dirinya sendiri dan situasinya akan menentukan bagaimana ia akan bersikap.
• Jika ada kesempatan, posisi urutan kelahiran dapat ‘dikudeta’ oleh anak yang lain.
• Kompetisi akan muncul jika ada perkembangan karakter atau kepentingan lain.

Dalam tulisan ini kita akan fokus pada posisi anak sulung, anak tengah, anak bungsu dan anak tunggal. Jika dalam suatu keluarga ada 5 anak, anak kedua, ketiga dan keempat dimasukkan dalam kategori anak tengah.

Karakteristik Umum

Alan E. Stewart, psikolog dari University of Georgia, menerangkan perbedaan karakter tiap anak dengan menggunakan kerangka Adler sebagai berikut:

Anak Sulung :

image_4

– Goal-oriented
– Agresif
– Konservatif, taat aturan, agak kaku
– Tanggungjawab
– Teratur (well-managed)
– Kompetitif
– Harga diri tinggi dan cenderung arogan
– Tegas
– Berjiwa petualang, suka mencoba hal-hal baru
– Suka membantu, melindungi atau menjadi pemimpin dalam kelompoknya.
– Ingin dipuji terus dan takut kehilangan pamor dengan hadirnya kompetitor (adik)
– Sering takut dan cemas
– Iri hati

Anak Tengah:

image_3

– Punya kepribadian yang lebih beragam.
– Bukan menjadi pusat perhatian, cenderung menjadi penghibur
– Punya perasaan tidak dimiliki (sense of not belonging), merasa diabaikan. Kalah pamor dari kakak atau adik.
– Mencari perhatian
– Sering merasa kesepian
– Menjadi mediator dalam kelompok
– Menghindari konflik agar disukai teman
– Banyak teman
– Social skills bagus dan gampang beradaptasi
– Sering merasa bingung dan tidak ada panutan. Cenderung mengikuti aliran saja.
– Pilihannya: take it or leave it

Anak Bungsu

2013-02-02 16.44.30
– Tipe penggembira
– Selalu dianggap anak bawang dan dimanja
– Tidak mandiri, akibat dimanja dalam keluarga.
– Manipulatif dan berusaha mengontrol orang lain
Bossy

Anak Tunggal

– Karakter mirip dengan anak sulung.
– Tidak ada saingan dalam keluarga untuk meraih perhatian orang tua
– Terbiasa dimanja jadi ada kemungkinan agak sulit dalam hubungan interpersonal dengan orang lain jika dewasa nanti.
– Ingin terus dilayani
– Kurang mandiri
– Bisa jadi pemberontak karena sikap over-protective orang tua dan merasa terkungkung.

Pada intinya, menurut Stewart, kita tidak perlu berkutat pada ‘nasib’ karena terlahir sebagai anak keberapa dalam keluarga. Kita tidak bisa memilih kapan kita dilahirkan, namun kita bisa merubah cara pandang pada apa dan bagaimana harus berperan dalam keluarga. Jadi tidak perlu terintimidasi oleh stereotip peran dari urutan kelahiran.

Tips Menangani Tiap Anak

Sebagai orang tua, kita tidak perlu terlalu fokus pada stereotip karakter dari urutan kelahiran tiap anak. Dengan memperhatikan perkembangan tiap anak, kita akan dapat mengenali tabiatnya dan apa yang menjadi kekuatan atau kelemahannya. Setiap anak adalah unik.

Anak Sulung :
Anak sulung biasanya lebih serius dalam menghadapi segala hal, jadi orang tua membantu meringankan dengan tidak selalu mencari kesalahannya. Jangan memojokkannya atau terlalu kritis dan menekan dengan memberikan target yang terlalu tinggi. Target dan reward bisa dibuat seimbang agar anak tidak terlalu terbebani.

Anak Tengah:
Karena merasa terjepit di antara kakak dan adiknya, cobalah lebih sering meluangkan waktu bersama anak tengah. Mereka akan merasa dihargai. Anda akan menemukan hal-hal spesial dari anak tengah. Mungkin anak tengah punya talenta berbeda dan tidak perlu ikut les musik, les menggambar atau les menari seperti kakaknya. Hindari membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya. Ia akan merasa makin kecil hati dan terpojok.

Anak Bungsu:
Pastikan anda tidak terlalu memanjakan atau menjadikannya Pangeran atau Puteri dalam keluarga. Berikan tanggung jawab dan target. Biarkan ia belajar disiplin dan wajib patuh pada aturan-aturan yang berlaku juga pada kakak-kakaknya. Tidak over-protective dan selalu dilayani karena ia anak paling kecil dan dianggap lemah.

Anak Tunggal:
Biarkan anak menikmati masa kanak-kanaknya dengan bebas tanpa membebaninya dengan harapan-harapan muluk orang tua. Tidak over-protective. Berikan kepercayaan bahwa mereka bisa belajar dari lingkungan. Biasakan anak bergabung dalam komunitas sebayanya agar ia belajar berbagi dan mengelola emosi. Memelihara binatang juga bisa membantu anak belajar menyayangi makhluk hidup lain. Sesekali izinkan anak untuk menginap di rumah saudara sepupu atau teman dekatnya.

Putera bungsu saya kembali tersenyum ketika saya katakan: “Harusnya kamu senang punya dua Koko. Mereka sayang sekali sama kamu dan kamu punya contoh bagaimana memadukan celana jins dengan kemeja atau baju kaus. Bagaimana menyelesaikan soal Matematika yang rumit, ketika Mama sendiri bingung menerangkan. Bagaimana trik bermain futsal atau cara menyusun Lego.” Dan saya kembali mendapat bonus pelukan hangat. Dipeluk erat sekali.

62ee8d79d5baa49bf2d7229bc55f546c

Advertisements

Saya Ibu Yang Galak

Tahun 2011 buku yang ditulis oleh Amy Chua: Battle Hymn of the Tiger Mother, ramai dibahas di media. Buku ini menjadi best seller di New York Times dan menuai banyak reaksi dari pembaca. Saya mendapatkan buku ini dari seorang sahabat lama. Amy berbagi pengalamannya dalam mendidik kedua puterinya di lingkungan kebudayaan barat. Bersuamikan seorang Jahudi, sementara Amy adalah keturunan Tionghoa. Mereka sepakat anak-anaknya dididik ala Asia dan berbicara bahasa Mandarin, padahal Amy sendiri tidak bisa bahasa Mandarin, jadi mereka membayar seorang pengasuh anak yang fasih berbahasa Mandarin untuk mengajar anak-anaknya. Buku yang sangat menarik sebagai bahan perbandingan dengan cara kita mendidik anak-anak, terlepas dari banyaknya kontroversi dan cibiran hingga ancaman pembunuhan terhadap Amy Chua. Puteri sulungnya, Sophia Chua-Rubenfeld kemudian membuat testimoni dari sisinya sebagai anak dan dimuat secara eksklusif di Wall Street Journal, tidak lama setelah buku Amy beredar. Intinya, Sophia berterima kasih kepada ibunya karena telah mendidik dia dan adiknya, Louisa, dengan cara didik ibu Asia. Keras dan disiplin tinggi. (Artikel lengkapnya bisa dibaca di http://nypost.com/2011/01/18/why-i-love-my-strict-chinese-mom/)

Buku ini membantu saya mengevaluasi diri sebagai ibu dalam mendidik ketiga putera saya. Aturan-aturan yang saya buat di rumah mungkin hanya sepertiga dari kerasnya aturan yang diterapkan Amy pada anak-anaknya. Tidak semua poin dari cara mendidik Amy sesuai dengan ‘gaya’ saya.

Selama ini saya menganggap dan menilai diri sendiri sebagai ibu yang cukup moderat, open-minded dan demokratis, tapi beberapa waktu yang lalu putera sulung saya dengan telak mengatakan: “Mama ini kuno. Masih tipe konservatif. Cape deh.” Si bungsu, 8 tahun, juga buka suara: “Mama galak banget. Banyak aturannya. Ga kayak mamanya Naufal yang santai saja main BB, semuanya boleh. Ga tidur siang juga ga papa. Boleh naik sepeda siang-siang, boleh main sampai keluar kompleks”. Gleekkk….Jadi, maunya punya Mama seperti apa? “Aku mau punya Mama Lily saja, biarpun galak dan banyak aturan, tapi aku jadi sehat dan disiplin.” Ahaaaa….ternyata, biarpun saya galak dan sering bersuara keras, anak-anak mengerti maksud di balik semua aturan dan omelan saya.

Jadi meskipun saya juga sering dibombardir oleh kritikan dan celotehan anak-anak, saya harus tetap bebesar hati menerimanya karena saya tahu mereka sayang dan hormat pada saya. Ini salah satu efek dari cara saya mendidik mereka: bebas mengemukakan pendapat, mengkritik, mengajukan claim jika ada yang dirasa tidak sesuai deal dan boleh bernegosiasi dengan mengajukan alasan yang masuk akal. Rasanya cukup demokratis namun masih dianggap saya konservatif dan kuno. Hhhmmm….

Bagaimana Tipe Ibu Masa Kini?

Berdasarkan penelitian global yang dilakukan oleh satu perusahaan consumer care yang memproduksi aneka macam kebutuhan rumah tangga berbahan dasar kertas, terungkap enam tipe peranan ibu. Model peranan ibu ini secara luas menjelaskan perbedaan cara pengasuhan ibu secara global, termasuk persepsi mereka mengenai anak dan apa yang terbaik untuk mereka. Responden penelitian adalah lebih dari 5.000 ibu yang memiliki bayi hingga anak di bawah tiga tahun serta ibu hamil dari seluruh dunia (2.000 di antaranya adalah ibu-ibu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia).

1. The Playful Mother

Spontan, tidak banyak pikiran, suka bereksperimen, trendi, dan hangat. Ia menginginkan anaknya menjadi selalu ingin tahu, ceria, aktif, suka bereksplorasi, penuh kejutan. Senang menciptakan lingkungan yang merangsang perkembangan kognitif anak-anaknya.
Di Asia Tenggara terdapat 18,1 persen ibu dengan tipe ini.

Playful Mom

2. The Natural Mother

Ceria, pintar, penuh kasih sayang, dan penyayang.
Ia menginginkan anaknya menjadi bahagia, mandiri, terbuka. Menggunakan pendekatan yang santai dalam membesarkan anak-anaknya dan menempatkan diri sebagai teman dan juga ibu. Mendorong anak-anaknya agar bisa lebih mandiri dengan membentuk lingkungan yang mendukung. Di Asia ada 22,9% ibu tipe ini.

3. The Protective Mother

Berhati-hati, rajin, mengabdi, lembut, konservatif, tidak suka resiko. Ia menginginkan anak-anaknya menjadi innocent, lembut, berharga, terlindungi. Anak adalah segalanya baginya dan membuat lingkungan senyaman mungkin. Menurut survei ada 15,7 % ibu tipe ini di Asia Tenggara.

4. The Independent Mother

Aktif, suka berpetualang (adventurous), berani, mandiri.
Ia menginginkan anaknya menjadi enerjik, sehat, mandiri, selalu ingin tahu, seseorang yang suka berpetualang, kompetitif dan fokus pada perkembangan intlektual anaknya. Menjadi ibu baginya adalah petualangan yang benar-benar ia nikmati.
Menurut survei ada 12,3 % independent mother di Asia Tenggara.

5. The Ambitious Mother

Berorientasi pada tujuan, sukses, gaya, suka menuntut, menginginkan anaknya menjadi lebih hebat dan lebih baik dari anak orang lain. Disiplin. Ia mengarahkan impian yang besar dan bekerja keras untuk menyalurkan bakat anak agar sukses di masa depan. Ibu dengan tipe ini ada 16,2 % di Asia Tenggara.

6. The Competent Mother

Bertanggung jawab, rasional, berpikiran jernih, teliti, dan selalu memiliki informasi terkini. Ia menginginkan anaknya dibesarkan dengan baik, bersih, dapat tampil, dan menguasai banyak keterampilan dan terencana dengan baik. Ibu di Asia Tenggara lebih memfokuskan perhatian pada intensitas bermain, sementara di negara lain ibu tipe ini lebih fokus terhadap perkembangan intelektual.

Selain keenam tipe ibu yang disebutkan di atas, ada juga sebutan ibu helikopter (helicopter mom), tiger mom dan mommabear. Helicopter mom digambarkan sebagai ibu yang super protektif. Mereka tidak membolehkan anaknya berbuat kesalahan, mengambil keputusan atau menghadapi tantangan sendiri. Bahkan juga ikut campur dalam memilihkan teman untuk anak-anaknya. Tiger mom adalah tipe ibu yang keras dan sangat disiplin dan fokus pada prestasi akademis anak-anaknya. Sedangkan mommabear bisa jadi tipe ibu idaman karena sangat perhatian, lembut namun tegas dan akrab dengan anak-anaknya.

themomalog

sumber : themomalog.com

Saya tidak meng-claim diri termasuk tipe ibu yang bagaimana, namun saya menerapkan beberapa aturan dasar yang harus ditaati anak-anak, dari urusan cuci tangan, baju yang dipakai, jam tidur siang dan malam, membuat pe er, merapikan buku, aturan keluar rumah, laporan pergi ke mana, dengan siapa dan acara apa, makan di rumah atau tidak, dan banyak hal keseharian lainnya. Ada SOP (Standard Operating Procedure) yang berlaku dan harus dipatuhi. Anak-anak sudah hafal bagaimana saya akan bersikap dan bereaksi jika mereka tidak patuh pada aturan dasar. Mereka boleh mengajukan usul atau negosiasi untuk mendapatkan kelonggaran dalam aturan. Akan ada deal yang disepakati bersama dan mereka wajib menepati. Jam tidur siang, jam bermain, jam belajar, dan lainnya dapat dinegosiasikan, termasuk jenis hukuman atau hadiah (rewards).

Menurut saya, ada beberapa kesalahan yang harus dialami sendiri oleh anak agar ia dapat belajar dari tindakannya itu. Bermain sepeda misalnya. Sejak awal sudah saya ingatkan, jangan ngebut, hati-hati di tikungan, perlambat laju sepeda jika ada polisi tidur. Jadi ketika anak tidak mengindahkan dan suatu sore pulang ke rumah dengan kedua lutut berdarah, sepeda lecet dan stang bengkok karena terjun ke got, saya hanya tersenyum sambil membersihkan lukanya. Mereka akan belajar banyak dari kasus jatuh dari sepeda ini. Kasus lain, lupa membawa pe er atau seragam olah raga ke sekolah. Saya tidak selalu mengantarkan buku atau seragam yang ketinggalan itu ketika ditelpon si anak dari sekolah, agar mereka bertanggungjawab atas’ lupa’ dan kelalaiannya sendiri.

Untuk urusan akademis, saya tidak mengharuskan anak-anak harus mendapatkan nilai excellent atau straight A untuk semua mata pelajaran, tapi saya selalu menekankan pada poin memaksimalkan talenta yang dimiliki. Jika berbakat pada bidang bahasa, artinya nilai bahasa harus bagus. Jika punya minat pada bidang eksak, mereka harus fokus dan maksimalkan hasilnya. Jadi saya tidak akan marah jika nilai mengarang, menggambar atau untuk mata pelajaran lain yang anak kurang berminat, hanya mencapai nilai minimal untuk lulus (KKM). Bagi saya, social skills tidak kalah penting untuk dipelajari anak-anak, selain urusan akademis semata. Mereka juga harus belajar bagaimana membina hubungan yang sehat, bertoleransi, menekan ego, menahan emosi, berbagi, berdiskusi, menerima pandangan orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah majalah wanita di Indonesia mengelompokkan tipe ibu berdasarkan perilakunya di media sosial sebagai berikut:

1. The Every-Milestone-Ever Mom: Tipe ibu yang mengabadikan apapun yang dilakukan buah hatinya. Mulai dari gigi pertama yang tumbuh hingga buah pertama yang dimakan si kecil. Tipe ibu ini tak ingin kehilangan momen berharga sang anak dan ingin memberitahu seluruh dunia. Jadi tidak heran jika anda akan melihat banyak postingan di media sosialnya yang berisi laporan lengkap perkembangan dan kegiatan anak-anaknya.

2. The Favor-Seeker: Mengakses media sosial saat ia membutuhkan bantuan, misalnya mencari info tempat menjual popok murah atau rekomendasi sekolah untuk bayi. Tipe ibu ini biasanya juga memiliki banyak informasi. Jadi jangan segan bertanya pada orang-orang seperti mereka.

3. Let’s Make a Deal Mom: Gemar berburu diskon dan berbelanja online. Jika Anda punya teman seperti tipe ibu ini, jadikan mereka tempat bertanya diskon dan belanja murah. Siap-siap saja timeline anda dipenuhi dengan aneka promo belanja dari mereka.

4. The Crusader: Tipe ibu ini suka membaca semua berita terkini tentang masalah kesehatan dan pengasuhan anak. Singkatnya, sangat update tentang tren terbaru.

5. The Complainer: Kalau tipe ibu yang satu ini suka membanjiri timeline dengan keluhan-keluhan, entah itu tentang sang anak maupun kehidupan rumah tangganya. Punya teman yang seperti ini?

Nah, silahkan pilih, anda termasuk tipe ibu yang bagaimana. Yang paling penting, jadilah ibu favorit dalam keluarga, setidaknya bagi anak-anak sendiri. Bagi saya, menjadi ibu merupakan prestasi terbesar yang saya capai dalam hidup. Bayaran yang saya terima melebihi apapun juga ketika anak-anak memeluk dan mencium saya dengan hangat, duduk di sebelah saya, glendotan sambil bercerita panjang lebar, memijat lembut pundak saya atau menyodorkan secangkir kopi hangat ketika saya tiba di rumah dengan wajah kusut karena ketinggalan pesawat. Suatu hari ketika membahas topik apa dan bagaimana ‘bahagia’ itu, salah satu putera saya berkata: “Bahagia itu adalah melihat Mama tersenyum.” Hati saya meleleh dan mata berbinar-binar. Jadi jangan heran melihat senyuman saya sering terpateri di wajah.

Being Mom

Selamat Hari Ibu. (LG)