Anak Anda Sulit Fokus?

Akhir minggu lalu orang tua diundang ke sekolah untuk bertemu guru kelas dan menerima laporan hasil belajar bulanan anak. Tiap anak mendapat jadwal tersendiri, jadi hanya ada tiga orang yang bertemu: guru kelas, orang tua dan anak. Ini disebut three-way conference. Pada kesempatan ini guru akan melaporkan apa dan bagaimana sikap anak dalam kelas ketika guru menerangkan, ketika diminta tampil di depan kelas, menjawab pertanyaan atau ketika bermain. Satu hal yang paling ‘menonjol’ dari putera saya, saat ini duduk di kelas 3 SD, tidak bisa diam. Tangannya terus memainkan penggaris atau pensil ketika guru menerangkan, terkadang tangannya sibuk melipat kertas (origami), atau sambil menggambar Minion, Ultraman, Power Rangers di kertas coretan. Atau juga mengobrol. Kesimpulannya: tidak bisa fokus pada apa yang sedang diajarkan guru di depan kelas. Jadi bisa ditebak, ketika dipanggil atau ditanya guru, ia tidak bisa menjawab. Langganan dihukum di kelas, tapi herannya, tidak jera juga. Duh. Ini salah satu tantangan guru di kelas, bagaimana menghadapi anak-anak yang sulit fokus dan tidak mengganggu ketenangan di kelas.

Pesawat kertas

sumber : realsimple.com

Masalah anak yang sulit fokus menjadi salah satu topik yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua dan guru karena akan menganggu prestasi anak. Pemicu kecil saja bisa membuat perhatian anak teralih dan anak akan bergerak meninggalkan tempat duduknya. Apa yang sedang dipelajari seketika menjadi buyar. Sulit fokus bukan hanya karena anak terus bergerak, tapi juga melamun, bosan, mengantuk, badan kurang fit.

 

Melamun1

sumber : gofitandfab.blogspot.com

Perhatian (attention) timbul dari ketertarikan akan sesuatu dan adanya stimulasi. Anak-anak banyak yang tertarik dengan games dan bisa fokus bermain selama beberapa jam. Bagaimana games membius anak-anak sampai betah bermain berjam-jam? Menurut para ahli, games memberikan stimulasi yang terus menerus, menyuplai dopamine, kimiawi otak yang berfungsi mengatur fokus. Games menyodorkan gerakan yang cepat, pertukaran berbagai scene, warna yang menarik dan isi permainan yang memicu adrenalin, sehingga dapat menimbulkan kecanduan.
Berhubung permainan elektronik sangat menstimulasi anak untuk fokus, saat ini banyak materi pelajaran yang dikemas dalam bentuk video games. Efek negatif dari permainan elektronik menjadikan kegiatan yang non-screen tidak menarik lagi, seperti membaca buku, menyusun lego atau puzzle, origami, dan lainnya. Ini seperti pisau bermata dua bagi orang tua dan guru karena anak-anak akan kehilangan minat pada kegiatan non-screen. Permainan non-screen dirasa membosankan, terlebih bagi anak-anak yang mengalami masalah sulit fokus.

Gejala Anak Sulit Fokus

Simptom/gejala anak-anak yang punya masalah konsentrasi dapat dilihat dari beberapa kejadian kecil dalam keseharian seperti:
– Tidak menaruh perhatian pada hal yang detil
– Ceroboh
– Perhatian cepat teralih begitu ada stimulus lain
– Terlihat tidak mendengarkan ketika kita berbicara padanya
– Kesulitan mengingat sesuatu
– Tidak mau ikut instruksi
– Mudah bosan
– Bisa mendadak meninggalkan kegiatan yang sedang dikerjakan
– Sering kehilangan alat tulis, kotak makanan, buku, mainan dan sebagainya.

Faktor Pemicu Dan Solusi

Ada 5 hal utama yang biasanya menjadi pemicu anak menjadi mudah beralih perhatian:

1. Benda yang ada di dekatnya: Anak yang sulit fokus biasanya tangan kakinya tidak bisa diam. Ada saja yang dipegang, diambil atau digoyang-goyangkannya. Apakah itu pensil yang diputar-putar di tangan, duduk sambil kursi digoyang atau diputar, kaki menendang-nendang kaki kursi depan, mengetuk-ngetukkan pulpen di meja.

Solusi: Berikan suatu benda dalam kantong baju/celananya. Anak diminta duduk dengan tangan dalam kantong dan memegang benda dalam kantong itu. Mengunyah permen karet juga dapat membantu anak lebih tenang dan fokus.

2. Suara dering telepon: Sulit untuk membedakan suara mana yang lebih penting untuk didengarkan, suara guru atau suara dering telpon.

Solusi: Jauhkan pesawat telepon dari ruang belajar anak agar tidak mengganggu konsentrasi atau atur volume dering menjadi mute ketika anak sedang mengerjakan satu kegiatan yang membutuhkan konsentrasi atau sedang belajar.

3. Pakaian yang menimbulkan rasa gatal di kulit atau label pakaian yang sering mengganggu kenyamanan di bagian tengkuk atau sisi tubuh (care label). Anak yang sensitif dengan indera peraba, akan cepat bereaksi jika ada yang dirasakan tidak nyaman pada kulit tubuhnya. Badan akan terasa gatal, digaruk-garuk atau menggeliat terus.

Solusi: Berikan anak pakaian yang halus dan nyaman dipakai. Guntinglah semua label pakaian agar tidak mengganggu.

4. Orang yang lalu lalang di dekat pintu atau jendela. Anak yang sulit fokus sangat sensitif dengan bayangan gerakan yang melintas, bahkan hanya dari sudut matanya.

Solusi: Jauhkan posisi duduk anak yang sedang fokus mengerjakan sesuatu dari jendela atau pintu, terlebih di tempat yang banyak orang lalu lalang.

5. Pikirannya sendiri: Anak yang sulit fokus bukan hanya terganggu oleh faktor eksternal, namun juga dari dirinya sendiri. Ia bisa tiba-tiba terpikir suatu hal lain ketika asik mengerjakan sesuatu dan langsung bergerak atau beralih perhatian. Terlalu banyak ‘rencana’ yang melintas dalam pikirannya.

Solusi: Pilah tugas menjadi beberapa bagian agar anak tidak terlalu lama berkutat karena concentration span (rentang konsentrasi) yang terlalu besar membuat anak cenderung cepat capek. Beri jeda waktu setelah melakukan satu bagian tugas. Musik yang lembut dan penggunaan timer juga dapat membantu anak untuk diam lebih lama, hingga timer berbunyi.

Diharapkan dengan mengontrol kondisi-kondisi di atas, anak bisa memperpanjang concentration span dan lebih fokus pada apa yang sedang dikerjakan .
Anda dapat mencoba cara lain untuk mmbuat anak lebih konsentrasi dan fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Menyusun lego, puzzle atau menggambar atau bahkan bermain games juga dapat dijadikan latihan karena membutuhkan konsentrasi. Seorang teman pernah menerapi anaknya yang sulit fokus dengan beberapa games di laptop dan Ipad. Games yang dipilih semuanya membutuhkan konsentrasi untuk koordinasi kecepatan tangan dan mata dan bukan jenis games yang memacu adrenalin seperti tembak-tembakan atau perkelahian (fighting). Games yang dipilih jenis penyusunan blocks, kecepatan penyajian makanan di restoran, penataan rambut atau busana, mencari barang yang hilang. Hasilnya, anak bisa duduk diam untuk beberapa saat dan konsentrasi pada permainan. Makin lama jangka waktu konsentrasi anak bertambah sedikit demi sedikit dengan pelatihan melalui games ini.

Advertisements

Superaktif Atau Hiperaktif?

Ketiga putera saya termasuk anak-anak yang aktif sejak kecil dan kerap diberi label lasak, tidak bisa diam, kayak cacing, dan bahkan disebut bandel oleh banyak orang yang gregetan melihat kaki, tangan dan mulut tidak bisa diam. Ada saja barang yang dipegang, dibolak-balik, digoyangkan, dikomentari atau ditanyakan. Jarang sekali terlihat duduk manis dan diam lebih dari 10 menit. Hiperaktif? Eiittss….belum tentu setiap anak yang terlihat aktif langsung dikategorikan hiperaktif. Bisa jadi mereka kelebihan energi dan ‘hanya’ superaktif. Benarkah? Yang jelas, memang saya cukup kewalahan menghadapi anak-anak yang aktifnya melebihi ‘takaran biasa’ dan membuat saya harus lebih kreatif menghadapi mereka.

Superaktif vs Hiperaktif

Dalam keseharian kita lebih sering menemukan anak laki-laki yang lebih aktif dari anak perempuan. Tidak bisa duduk tenang, kaki dan tangan bergerak terus, tidak mengikuti instruksi, atau spontan berkomentar dan mengemukakan pendapat. Sering kali dicap sebagai pembuat onar (troublemaker) dan tidak disiplin karena akan memancing teman-teman lainnya untuk ikut beraksi.

Sejauh mana tindakan anak dianggap masih normal atau sudah masuk kategori hiperaktif? Anak superaktif adalah anak yang kelebihan energi, tidak memiliki gangguan dalam perilaku dan dalam hal konsentrasi. Ia bisa duduk diam beberapa jam ketika melakukan sesuatu yang ia minati seperti menyusun Lego atau puzzle, bermain game dan beberapa aktivitas lainnya.

image_4

Sementara anak hiperaktif memiliki ciri gangguan konsentrasi dengan hiperaktivitas. Coba perhatikan, anak yang hiperaktif akan terus melakukan kegiatan berulang-ulang tanpa ada maksud dan tujuan pasti, seperti: membuka dan menutup pintu berulang kali, menggerakkan kaki dan menendang barang di depannya, atau tangannya akan terus bergerak. Atau melakukan kegiatan A, B dan C tanpa satupun yang terselesaikan dengan baik. Yang satu belum selesai, sudah berpindah ke kegiatan lain. Anak superaktif justru bertindak sebaliknya. Gerakan atau kegiatan yang dilakukan memiliki tujuan dan maksud tertentu atau bahkan sudah direncanakan. Meskipun terlihat tidak bisa diam, namun ia bisa berkonsentrasi dan biasanya inteligensia juga lebih tinggi dari anak yang hiperaktif.
Gejala awal hiperaktif timbul sebelum usia sekolah, yakni sebelum usia 7 tahun. Awalnya memang sulit membedakan apakah perilaku anak masih dikatakan normal (superaktif) atau hiperaktif. Prinsipnya, jika anda menemukan hanya beberapa dari ciri hiperaktif pada anak dan timbul hanya sesekali saja, kemungkinan anak anda hanya superaktif.

image_3

Hiperaktif

Anak hiperaktif lebih sering menjadi problem bagi orang tua dan guru karena tindakannya mengganggu ketenangan lingkungan. Biasanya juga berdampak pada prestasi di sekolah, sering mendapat hukuman karena dianggap tidak tertib, sulit berteman ( tidak disukai oleh teman-temannya), bahkan bisa jadi target bully, karena dianggap mengganggu, akhirnya ia yang dibully sebagai tindakan balasan dari teman-temannya.

Simptom/gejala anak hiperaktif:

– Gelisah dan tampak tidak nyaman
– Sering meninggalkan tempat duduknya ketika diminta untuk duduk diam
– Terus bergerak dan suka berkeliling ruangan
– Suka berlari atau memanjat
– Sulit bermain dengan tenang dan rileks
– Bicaranya berapi-api
– Tampak terus ‘on’, tidak ada capeknya
– Cepat marah dan emosi

image_2

Selama ini, hal-hal yang dicurigai menjadi penyebab timbulnya hiperaktivitas pada anak, yakni:
– Tidak cocok pada makanan tertentu (food intolerance)
– Kadar gula darah yang rendah (hypoglycemia)
– Alergi
– Hipertiroid
– Masalah gizi
– Gangguan otak
– Kurang disiplin
– Kondisi dalam keluarga yang tidak kondusif (cekcok terus)
– Kecemasan
– Depresi
– Kurang tidur
– Obat-obatan
– Gangguan belajar.

Perhatikanlah kondisi anak jika terlihat sangat aktif dan tidak bisa diam. Bilamana gejalanya makin intens dan muncul pada setiap situasi: di rumah, di sekolah, di jalan, di mal, pada saat bermain, sebaiknya bawa anak untuk diperiksa lebih lanjut oleh profesional yang qualified dan berpengalaman. Terapis akan mendiagnosa sejauh mana tingkat keaktifan anak karena beberapa kasus bisa jadi mengarah ke Attention Deficit and Hiperactive Disorder (ADHD).

Ingin Berhenti Merokok?

“Saya ingin berhenti merokok, sedang berusaha, tapi tidak akan bisa langsung sekaligus.” Susi Pudjiastuti (m.tribunnews.com)

Ahaaa….partner saya khsusus menulis status di laman facebook-nya, sangat terharu dengan pernyataan di atas dan share artikel berita Ibu Susi Pudjiastuti yang menyatakan keinginannya untuk berhenti merokok. Beberapa minggu terakhir ini Ibu Susi menjadi topik hangat di media sosial karena menyorot dirinya sebagai menteri wanita yang perokok. Fotonya yang sedang merokok di halaman istana negara, menuai banyak komentar dari berbagai kalangan.

Terlalu lebaykah soal seseorang yang menyatakan keinginanya untuk berhenti merokok? Oh..jelas tidak. Bagi saya, niat untuk berhenti merokok dan membebaskan diri dari kungkungan lingkaran kecanduan rokok, patut diacungkan jempol. Ini merupakan langkah pertama yang paling penting. Niat. Ya, NIAT.

livinggreeandfrugallydot

Picture from livinggreenandfrugally.com

Bagaimana kondisi anda saat ini?

Masih merokok, tapi ingin berhenti?
Sudah berhenti merokok, namun mulai merokok lagi?
Sudah meninggalkan rokok, tapi keinginan untuk merokok kembali masih kuat?

Anda punya seribu alasan untuk tetap merokok. Saya masih sibuk dan butuh rokok untuk membuat mata melek biar kuat lembur. Saya hanya merokok beberapa batang sehari koq. Keluarga juga tidak keberatan saya merokok. Saya stres, lagi down. Bosen.Teman-teman juga merokok.

Mencari alasan untuk tidak perlu berhenti merokok. Saya menikmati koq. Saya akan berhenti merokok kalau waktunya tiba. Saya sudah merokok puluhan tahun dan sejauh ini baik-baik saja, tidak ada keluhan apapun. Kakek saya perokok berat, seperti lokomotif, tapi hidup sehat hingga 98 tahun.

Seperti kata teman saya yang sudah berteman dengan rokok sejak kelas 5 SD, segala bentuk rasionalisasi soal rokok, seperti: merokok itu tidak sehat, dihantui kanker paru-paru, membuat arteri tersumbat, merangsang batuk, umur pendek dan lainnya, tidak mempan dan tidak mampu menyiutkan nyali perokok. Ga merokok, cepat atau lambat, juga game over koq hahah….Tau ga sih, Li, merokok itu nikmatnya tidak terlukiskan dan membuat pikiran rileks.

Alasan yang mereka ajukan lebih kuat dari bahaya yang dihadapi. Merokok sudah menjadi kebiasaan (habit). Setelah makan, merokok. Menunggu atau antri di manapun, daripada nganggur atau salah tingkah, merokok. Di kamar mandi ketika panggilan alam menyapa, sambil merokok juga. Jadi sudah menjadi satu paket dari kegiatan harian. Ketika kegitan merokok dihilangkan, terasa ada yang janggal. Ada bagian yang kurang.

Lain lagi cerita isteri teman saya. Suaminya selalu butuh rokok saat ia akan bertemu dengan pelanggan, akan presentasi di depan audiens atau akan menghadiri rapat penting. Rokok menjadi penyalur dan penetral rasa gugupnya. Bagaimana dengan anda?

Apakah (Memang) Sulit Berhenti Merokok?

“Saya betul-betul ingin berhenti merokok kali ini, apalagi di kantor sudah menerapkan kebijakan no-smoking zone. Tapi koq sulit ya? Pernah berhenti merokok setahun yang lalu, seminggu saja, terus balik merokok lagi. Duh…apa mungkin betul-betul bisa berhenti?”

Itu inti dari curhat salah satu klien yang datang dan meminta bantuan untuk diterapi agar bisa lepas dari kecanduan rokok.

Keinginan untuk berhenti merokok menjadi satu tantangan tersendiri. Seberapa jauh tingkat kesulitannya, tergantung pada beberapa faktor, seperti:

Jumlah konsumsi rokok per hari
Siapa saja yang menjadi partner merokok (orang tua, teman, rekan kerja)
Alasan merokok: untuk pergaulan sosial, menjaga berat badan, ajakan lingkungan, untuk mengatasi rasa gugup ketika berada dalam suatu situasi, dan sebagainya.

Beberapa cara yang dapat membantu anda berhenti merokok:

Keinginan sendiri. Murni timbul dari diri sendiri, tanpa terapi apapun, tanpa obat, tanpa kondisi eksternal yang mengharuskan untuk berhenti. Keadaan ini disebut cold turkey. Menurut penelitian, hanya 10% dari total perokok yang memiliki keinginan berhenti merokok seperti ini. Beberapa teman saya berhenti merokok dengan mudah dan langsung stop saat ia memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan rokok.
Terapi perilaku (behavioral therapy). Cari terapis dan anda akan dibantu untuk mengidentifikasi apa yang menjadi dasar utama anda butuh rokok dan bagaimana mengatasi rasa ingin merokok.
Terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy) – NRT. Ada dalam bentuk plester, inhaler, semprotan (spray), permen karet, lozenges.
Terapi kombinasi, seperti memakai plester pengganti nikotin dan juga mengikuti terapi perilaku.
Hipnoterapi. Hingga kini masih ada pro dan kontra tentang efektifitas hipnoterapi dalam penanganan kasus klien yang ingin berhenti merokok, namun banyak yang berhasil lepas dari kecanduan rokok dalam 2 – 4 sesi hipnoterapi. Poin utama dalam keberhasilan hipnoterapi adalah adanya keinginan yang kuat dari klien itu sendiri.

43a431a0e5588e79b004d695cc4b6875

Menurut cerita seorang klien yang berhasil meninggalkan rokok dengan hipnoterapi, hal terberat bukan pada menahan keinginan merokok, tapi pada apa yang harus dilakukan sebagai pengganti kebiasaan dari saat-saat yang dulunya diisi dengan merokok. Jadi misalnya, dulu setiap selesai makan, ia harus merokok. Jadi ada jeda waktu yang dirasakan aneh jika sekarang ia tidak merokok setiap habis makan. Keinginan untuk merokok memang sudah mereda karena sugesti yang ditanamkan dalam dirinya membuat ia tidak lagi merasakan nikmatnya merokok. Jadi setelah hipnoterapi, butuh terapi lanjutan untuk mempertahankan keberhasilan klien meninggalkan rokok. Bicarakanlah dengan terapis hal apa saja yang anda rasakan setelah tidak merokok.

Setelah berhasil mengatasi kecanduan merokok, ada beberapa hal yang harus diingat dan ditanamkan dalam diri anda:

Kenali apa yang selalu menjadi pemicu anda merokok dan hindarilah.
Ingat, beberapa hari pertama adalah hari yang paling sengsara setelah anda lepas dari rokok. Cobalah untuk menjauhkan diri dari rentetan kebiasaan yang biasanya diisi dengan merokok. Misalnya, setelah makan, sibukkan diri dengan membaca koran, menonton tv, membereskan meja, memotong buah untuk penutup acara makan, dan lain-lain.
Perbanyak kegiatan bersama teman-teman yang tidak merokok.
Jangan kecil hati ketika diejek oleh lingkungan perokok karena anda tidak lagi ikut menyalakan dan menikmati rokok.

Jadi, masih ada alasan untuk tidak berhenti merokok? Langkah pertama adalah niat. Langkah berikutnya, wujudkan niat anda. Anda merasa sehat jiwa dan raga? Percayalah, anda akan lebih sehat lagi setelah setelah berpisah dengan rokok.

529b801fdeb245f6bd22d4ffd191f635