Ingin Cerai? Eiiitsss…Tunggu Dulu

Berita infotainment di tv tentang seorang selebritis lokal yang dengan santainya mengatakan ingin menceraikan isterinya karena tidak mahir memasak, sungguh membuat saya mengernyitkan dahi. Begitu sederhanakah alasan seseorang untuk sampai pada keputusan menceraikan pasangannya? Menurut saya, keputusan untuk bercerai adalah hal yang sangat kritis dan konsekuensinya akan dirasakan seumur hidup, bukan hanya oleh anda sendiri, tapi lebih pada anak-anak anda.

Beberapa teman yang curhat selama ini, mereka juga telah sampai pada keputusan ingin bercerai. Bukan hak saya untuk mencampuri keputusan mereka, tapi saya merasa perlu untuk memberikan beberapa pandangan sebelum mereka betul-betul bercerai.

Hal-hal Yang Perlu Dipertimbangkan

Perceraian menempati urutan kedua teratas dari daftar peristiwa hidup yang skor tingkat stresnya tinggi, di bawah urutan kematian pasangan. Keputusan bercerai adalah keputusan yang sangat penting untuk dipikirkan matang-matang karena semuanya akan berubah total.

Anda perlu duduk tenang dan berpikir dengan hati dan kepala dingin dan tanyakanlah pada diri anda hal-hal berikut ini:

1. Bagaimana perasaaan anda saat ini pada pasangan? Tawar, tidak perduli apapun dengan yang ia kerjakan, tidak pernah merindukannya lagi jika ia tidak berada di rumah, atau masih ada rasa khawatir jika ia pulang terlambat dan tidak ada kabar beritanya? Jika anda masih punya rasa khawatir dan masih memikirkan pasangan, artinya anda berdua hanya butuh bantuan konselor untuk introspeksi dan membuat komitmen baru mengatasi kesenjangan selama ini.

2. Apakah kondisi anda berdua saat ini seperti orang kost atau mengontrak rumah bersama dan sekedar berbagi tugas harian dan berbagi biaya hidup? Pasangan yang hubungannya ‘sehat’ akan saling berbagi rasa bahagia ataupun sedih, cita-cita, mimpi dan berusaha untuk membuat hubungan lebih baik dan saling membutuhkan, jadi bukan sekedar tinggal bersama dan berbagi tempat tidur.

3. Apakah anda ingin bercerai karena ditantang untuk bercerai oleh pasangan anda? Dan anda ingin menjawab tantangan itu untuk menunjukkan bahwa anda berani dan anda lebih hebat dari pasangan? Sungguh alasan yang naïf dan kekanak-kanakan.

4. Atau anda memilih bercerai dengan harapan pasangan akan merasa kehilangan dan kemudian meminta anda untuk kembali dan merubah sikapnya? Ini alasan yang keliru karena perceraian akan membuat masalah menjadi lebih rumit apalagi untuk tujuan agar kembali rujuk.

5. Bercerai artinya melepaskan segala kemelekatan (attachments) pada pasangan. Membuat anak-anak hidup terpisah dari saudara dan orang tuanya. Anda siap?

6. Sanggupkah anda melawan rasa bersalah terhadap anak-anak, terhadap keluarga besar, terhadap orang-orang yang selama ini mendukung anda untuk bertahan? Mungkin anda tidak punya rasa bersalah pada pasangan, tapi rasa bersalah pada orang yang berada di sekeliling anda, akan terus menghantui. Seumur hidup.

7. Dibutuhkan sikap dewasa dan matang ketika menjalani hidup setelah perceraian karena perceraian bukan berarti anda terbebas dari masalah, tapi justru anda akan menghadapi tantangan dan kendala lain yang lebih berat. Pandangan masyarakat, posisi sebagai orang tua tunggal, status sosial, kondisi finansial, dan tantangan lain yang siap menghadang. Pikirkanlah hal ini sebelum mengambil keputusan.

8. Pernahkah anda punya pikiran lebih baik pasangan anda lebih cepat dipanggil Yang Maha Kuasa dan anda akan lebih bahagia hidup sendiri? Merasa akan terbebas dari kungkungan dan kondisi emosional yang sangat menekan jika terus hidup bersama? Atau justru anda khawatir jika ia dipanggil menghadap terlebih dahulu?

011842ab5aaec5ddd5b5458a8b2a7038

9. Bagaimana dengan tujuan dan nilai-nilai yang dianut, masih sejalan atau makin banyak perbedaan atau bahkan bertolak belakang?

10. Apakah anda sudah mencoba untuk tinggal terpisah untuk sementara waktu, evaluasi hubungan selama perpisahan sementara dan kemudian mencoba rekonsiliasi? Kailen Rosenberg, konselor perkawinan, menyarankan untuk berpisah sementara waktu karena jarak membantu anda untuk berpikir lebih jernih dan menelaah kembali kondisi hubungan anda, sebelum memutuskan untuk bercerai.

11. Apakah anda sudah berbicara dengan anak-anak, telebih jika anak anda sudah remaja dan mendengar pendapat mereka? Ada anak yang lebih suka orang tuanya berpisah daripada setiap hari melihat keduanya bertengkar terus dan suasana rumah menjadi seperti neraka.

12. Pikirkan lagi dan lagi. Apakah sebenarnya anda berdua hanya butuh orang tengah untuk membantu mengurai benang kusut ?

Jika anda ingin bercerai karena kehadiran orang ketiga, baik di pihak anda ataupun di pihak pasangan, ini jelas bukan alasan yang bijak untuk suatu perceraian. Selesaikanlah urusan anda berdua dengan pasangan, sebelum masuk ke hubungan yang lain. Hubungan dengan pihak ketiga bukan menjadi jalan keluar dari masalah, tapi justru akan memperkeruh kondisi anda.

Bertahan Atau Berpisah?

Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan ini karena anda yang mengalami pasang surut hubungan selama ini. Akan tetapi ada beberapa poin yang dapat dijadikan acuan untuk mengakhiri hubungan (seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya: Cerai Atau Tidak: That Is The Question):

1. Adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik kekerasan secara fisik maupun mental (verbal abuse).
2. Ada indikasi gangguan jiwa yang serius pada pasangan.
3. Penyelewengan yang berulang
4. Pasangan terlibat tindakan kriminal.

Bertahan dalam perkawinan yang pincang dan amburadul sama beratnya dengan bercerai. Seperti kata teman saya, ini rasanya seperti kaki yang harus diamputasi. Amputasi kaki kiri atau kaki kanan, sama sakitnya, sama sulitnya untuk berjalan, sama galaunya. Jadi, pikirkanlah baik-baik dan sematang mungkin sebelum mengambil keputusan. Jika memang masih bisa bertahan dan anda masih punya harapan dan energi, bertahanlah. Jika rasanya seperti sudah menjadi orang lain, yang anda sendiri tidak kenal lagi, lebih terpuruk jika terus bertahan, ayoooo…langkahkan kaki dan keluarlah dari lingkaran setan itu.

Advertisements

Si Tukang Bully

Kali ini saya akan mengulas bullying dari sisi pelaku bully itu sendiri. Apa yang membuat orang suka mem-bully? Jawaban yang sederhana adalah karena bullying menjadi langkah yang mudah, jalan pintas untuk mengatasi problem sosial mereka. Lebih mudah daripada mengontrol emosi atau mencoba memahami orang lain, menekan rasa iri atau problem lainnya.

Tidak hanya anak-anak atau remaja saja yang berpotensi menjadi pelaku bully, tapi juga orang dewasa. Pernahkah anda perhatikan seorang suami yang mempunyai ‘hobby’ memukul, membentak isteri atau anak-anaknya? Ia menunjukkan kekuasaan dengan sikap agresif, suara keras dan kata-kata kasar dan pada saat suasana mencekam seperti itu ia merasa menang dan dominan. Mungkin ada rekan kerja anda di kantor yang punya kebiasaan menyebar gosip, ‘menusuk’ dari belakang dengan menjelek-jelekkan orang lain, menyerang rekan dalam suatu rapat besar, memojokkan atau dengan sengaja mencari-cari kesalahan orang. Itu juga termasuk bullying.

Bagaimana Perilaku Bullying Terbentuk?

Seorang anak yang sejak kecil melihat atau mengalami bullying di rumah, misalnya sering dibentak, dilecehkan, diolok-olok, akan menyimpan semua ingatan kejadian itu dalam pikiran bawah sadar yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya. Sikap bullying akan menjadi contoh bahwa kekerasan dapat membuat seseorang merasa lebih berkuasa apalagi jika pihak yang dibully itu menjadi takut dan tidak berani melawan. Mem’bully’ dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi problem sosial. Cukup dengan menakut-nakuti orang lain, berbicara dengan nada tinggi dan kasar, ia akan disegani orang dan dapat mengontrol orang lain. Ini jelas perilaku yang sangat keliru untuk dicontoh dan seperti kita ketahui, anak-anak adalah peniru yang handal. Mereka akan meniru orang tuanya atau orang dewasa yang hadir dalam masa kanak-kanaknya.

Ada juga anak yang tidak pernah dididik cara mengelola emosi seperti menahan amarah dan mengatasi rasa frustrasi atau kecewa sehingga ketika merasa tidak aman dan terpojok, mereka akan menjadi agresif.

Dalam kejadian sehari-hari ada kalanya kita berjumpa dengan orang tua yang justru terlihat senang ketika anaknya mem-bully anak lain. Kisah berikut ini adalah pengalaman sahabat saya. Suatu sore ketika puteranya ingin bermain perosotan di taman, ada anak lain yang dengan sengaja menyerobot dan menghalangi. Putranya pindah mencari perosotan lain, eh…anak itu terus mengikutinya dan menghadang lagi. Ketika ditegur sahabat saya, si anak dengan tanpa rasa bersalah tetap tidak mau mengalah. Sementara itu, ibu si anak malah tersenyum bangga dengan kelakuan anaknya yang berhasil menyerobot. Heran!! Mungkin ia bangga karena melihat anaknya lebih berkuasa dan sukses menunjukkan gigi dan meraih apa yang diinginkan meskipun dengan cara yang tidak terpuji. Jelas tindakan anaknya sudah termasuk bullying tapi dibiarkan saja oleh orang tuanya. Bisa dibayangkan, si anak akan terbiasa menggunakan teknik bullying dalam pergaulan selanjutnya.
Anak-anak yang suka mem- bully, biasanya tidak banyak teman dan terlihat menyendiri karena ia tidak tahu bagaimana cara bergaul yang baik. Tidak ikut bermain di halaman sekolah, tidak ikut kumpul-kumpul dengan teman di kantin atau bahkan berbagi bekal sekolah.

Jangan Mem-bully

Anak sebaiknya diberitahu tentang apa yang dimaksud dengan bullying sejak dini.

Bullying itu memukul,menjambak, mendorong teman.
Bullying itu memaksa orang lain melakukan apa yang mereka tidak suka lakukan.
Bullying itu mengambil dengan paksa atau merusak barang milik orang lain.
Bullying itu mengolok-olok teman, memanggilnya dengan nama julukan yang buruk dan membuat teman malu.
Bullying itu menjelek-jelekkan teman.
Bullying itu meminta uang dengan paksa pada teman.
Bullying itu berbicara dengan suara keras dan membentak-bentak teman.
Dan contoh-contoh perilaku bullying lainnya.

f01ee30aec9e44388edff7c3964abe6c

Tekankan pada anak bahwa semua perilaku bullying itu tidak baik, tidak terpuji dan tidak boleh dilakukan. Perlakukan temanmu dengan baik, jika teman tidak mau bermain denganmu atau meminjamkan mainannya, jangan dipaksa, dimarahin atau dimusuhin.

Anak harus belajar menerima keadaan yang tidak sesuai dengan kemauannya.
Pernah ada satu kejadian yang cukup merepotkan saya, dipanggil menghadap guru karena putera saya mengganggu temannya dan telah dua kali menusuk ujung jari temannya dengan pensil. Ketika itu ia masih di TK Besar. Ditegur baik-baik di rumah ternyata tidak mempan, akhirnya suatu kali saya ambil pensil dan saya tusukkan ke ujung jarinya. Ternyata, setelah merasakan bagaimana sakitnya ditusuk pensil, akhirnya ia mengerti mengapa temannya menangis dan takut. Sejak itu ia tidak pernah mengganggu lagi dan bahkan dengan tulus meminta maaf pada temannya itu.

Ajarkan sikap bertanggungjawab dalam segala hal dan bersedia menerima konsekuensi jika melalaikan tanggung jawab. Tidak mau bangun lebih pagi, ia akan terlambat sampai di sekolah dan harus bersedia dihukum berdiri di depan gerbang atau mendapat sanksi harus piket kelas dan pulang lebih telat 30 menit dari teman-temannya. Jika pe er belum dikerjakan, ia tidak boleh bermain sepeda atau menonton acara tv favoritnya. Putera saya juga pernah dihukum tidak dapat bonus bermain game saat pelajaran komputer di sekolah karena ia tidak tertib dan asik ngobrol ketika mengerjakan tugas komputer. Didik anak mempunyai sifat bertanggungjawab, disiplin dan bisa mengontrol diri.

Ajarkan juga untuk berbagi. Jika ia ingin merasakan isi bekal yang dibawa temannya, ia harus menawarkan bekal yang ia bawa. Jadi tidak merebut atau meminta paksa bekal temannya. Atau jika ia tidak membawa uang jajan, ia boleh pinjam uang temannya dan berjanji untuk menggantinya, bukannya memalak teman. Keahlian sosial (social skills) seperti ini perlu diajarkan pada anak sejak dini.

Perhatikanlah, anak yang mem-bully temannya, cenderung merasa perbuatannya itu tidak salah. Mereka akan membela diri dengan mengatakan temannya yang salah dan layak untuk di-bully. Biasanya mereka suka melaporkan tingkah laku temannya yang ia rasa merugikannya. Di sinilah tugas orang tua atau guru untuk meluruskan kekeliruan pandangannya.

Orang tua perlu selalu menjalin komunikasi yang baik dengan guru di sekolah atau guru di tempat les agar tingkah laku anak senantiasa terpantau. Jika ada perilaku yang mengarah pada bullying, segera dapat ditangani sebelum menjadi suatu kebiasaan yang akan terus dilakukan hingga dewasa.

Bully Di Internet

Apakah anda seorang tukang bully tapi tak menyadarinya? Ingatlah, anda tak menjadi besar dengan mengecilkan orang lain. Klik gambar di bawah ini untuk melihat lebih jelas. Mari kita memeriksa diri sendiri dan menjadi orang yang lebih baik lagi.

 f306b875aa4bab0e3fbdcacef6926013