Unfriend ? Oh..No….

Kata Gede Prama, friends are the true wealth of life. Saya setuju dengan ungkapan Gede Prama ini. Teman itu aset yang berharga dan tidak bisa dinilai dengan materi. Persahabatan yang tulus tidak bisa dibeli dengan uang. Persahabatan itu seperti tanaman, kita harus rajin memelihara hubungan agar makin subur dan bernas. Tidak busuk sebelum bertunas, tidak mati karena diserang kutu.

Minggu lalu saya baru menghapus nama seorang teman di facebook. Awalnya saya pikir orang ini teman masa kecil dulu, teman SD atau SMP di kampung. Mutual friends di profilnya adalah 3 teman SD saya dan 1 teman SMA, jadi langsung saja saya terima undangannya untuk berteman. Terus terang saya tidak ingat semua teman lama, terlebih yang sejak dulu memang tidak akrab,kenal karena pernah sekelas atau satu sekolah saja.

Awalnya semua baik dan kami sempat chatting. Untuk mengembalikan ingatan saya akan si dia, saya menanyakan beberapa hal dan apakah dia masih kontak dengan teman-teman lama kami. Beberapa bagian dia skip dan tidak dijawab, tapi akhirnya saya menangkap ada kejanggalan dari ceritanya karena kebetulan 2 teman yang dia ceritakan adalah teman akrab saya dulu dan saya tahu dan ingat persis rumahnya, karakternya, di mana dia sekarang dan lain sebagainya. Wah….ketahuan ini orang mulai mengarang cerita dan dia memanfaatkan unsur ‘lupa’ saya. Entah untuk apa dia mengarang cerita, padahal saya tidak masalah jika ternyata dia bukan teman lama atau dari kampung yang sama. Harusnya dia memperkenalkan diri dengan jujur saja, karena kejujuran itu modal awal dalam membina hubungan apapun.

Saya terbuka untuk berkenalan dan berteman dengan siapa saja, lintas budaya, tidak terpagari oleh ras, agama, latar belakang, lokasi tempat tinggal, usia, maupun jenis kelamin, di dunia nyata maupun di dunia maya. Untuk relasi di dunia maya, biasanya berdasarkan ada atau tidaknya mutual friends, karena saya perlu informasi dasar tentang siapa orang ini, temannya siapa. Jika memang berniat baik untuk berteman, kita tidak perlu berbohong dan memakai ‘topeng’. Apa adanya saja karena tujuannya untuk berteman, menambah teman. Sekali anda ketahuan bohong atau memberikan alamat palsu, eh…..informasi palsu tentang diri anda, kepercayaan akan luntur dan otomatis mengurangi rasa hormat. Saya menghargai keterusterangan dan kejujuran.

Seorang teman, yang saya kenal sejak dua tahun terakhir ini, karena intensitas kontak cukup tinggi dan sering berbagi kisah (curcol) , kami sudah saling kenal karakter masing-masing. Kadang kala kita bisa mengantisipasi apa reaksi teman jika dihadapkan pada kondisi tertentu. Jadi ketika teman itu reaksinya agak ‘aneh’, saya bisa menangkap sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sikapnya itu ga dia banget deh.

Saya tahu dia berbohong dan berusaha menutupi kondisi yang sebenarnya. Dia punya alasan tertentu karena mungkin menyangkut pihak ketiga. Tidak masalah buat saya karena saya juga tidak mau kepo untuk cari tahu, jadi saya memberinya ‘ruang’.Tapi yang jelas, sikapnya itu mengurangi poin hormat saya padanya dan memperlebar jarak. Saya hanya sedikit kecewa, teman yang punya potensi menjadi sahabat jangka panjang dan kami sudah melewati banyak percobaan untuk sampai pada tahap saling percaya, terpaksa kembali saya tempatkan pada kotak ‘teman biasa’., sekedar orang yang pernah saya kenal.

Jika kita sudah mengenal seseorang dengan baik, kita tahu apa dan bagaimana menyampaikan satu hal atau jika ditanya, sudah tahu jawaban apa yang tidak akan membuatnya tersinggung. Itu yang disebut antisipasi sikap dan menjadi tanda bahwa sejauh mana kita sudah mengenal seseorang.

No relationship is a waste of time. Some friends came as blessings and some came as lessons of life….(Unknown)

Teman, keluar masuk dalam setiap fase kehidupan kita dan seperti ungkapan di atas, tidak ada hubungan yang menyia-nyiakan waktu kita. Ada yang datang sebagai karunia, ada yang menjadi pelajaran hidup untuk kita. Tidak perlu disesali telah kenal dengan seseorang, karena selalu ada ‘pesan’ dan nilai yang kita dapatkan dari tiap hubungan itu.

Dulu saya punya seorang teman, yang dikenalkan oleh teman juga, tidak lama hubungan terjalin, dia menghilang dari radar saya. Hubungan sejak awal memang tidak begitu akrab tapi dari teman ini saya mendapat pelajaran yang berharga. Jangan tertipu oleh gaya yang lemah lembut, keibuan, santun, tapi di balik itu semua itu punya daya terkam yang luar biasa. Serigala berbulu domba, kata orang. Tidak sungkan untuk memperdaya teman lain dan menjadikan tameng dirinya. Sungguh luar biasa ‘keserigalaannya’. Nampaknya dia tahu bahwa saya sudah tahu tipu muslihatnya selama ini, jadi agar tidak menjadi duri baginya, dia menghilang dari lingkaran pertemanan saya. Ironis.Dia memandang dari sisi lain yang akhirnya merugikan dirinya sendiri karena akan makin terpuruk dalam ‘keserigalaannya’.

Suka duka dalam berteman memperkaya pribadi saya, membuat saya semakin tajam dan peka dalam menilai dan mengerti kondisi orang lain. Semoga hati saya bisa seluas samudera dan tetap membuka tangan dan hati menerima teman baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s