Sueerrr…..Hanya Berteman

Bisakah pria dan wanita bersahabat? Tentu bisa, kenapa tidak? Itu jawab saya. Tetapi, partner saya bilang: Tidak mungkin!  Salah satu pasti akan jatuh cinta dan segalanya menjadi kacau. Itu pengalaman pribadinya dengan beberapa teman pria.   Jadi yang benar,  bisa atau tidak? Tulisan mengenai hubungan pria dan wanita ini pernah diulas dalam satu portal nasional dan  cukup menarik untuk kita bahas ulang di sini.

guy girl friends

Entah mengapa, sejak dulu hingga sekarang, saya menikmati bersahabat dengan pria dan selalu ada sahabat pria dalam setiap fase kehidupan saya dan banyak yang masih berhubungan baik hingga  saat ini. Mungkin karena pada dasarnya saya bukan tipe wanita yang ‘girly’ atau super feminin, malah sisi ‘preman’nya lebih mendominasi, meskipun penampilan fisik tidak tomboy. Cara berpikir yang praktis, taktis dan sigap (cenderung tidak sabar juga sih) dan tidak suka bertele-tele.  BTL, kata teman-teman saya. B*t*k Tembak Langsung, hahaha….Bisa jadi sifat-sifat dasar ini menjadikan saya merasa klik  dengan pria dan cepat nyambung. Yang jelas ada rasa nyaman dan merasa cocok dengan pendapat, ide, komentar ataupun kritikan dari mereka.  Dalam banyak hal, saya butuh pandangan dari sisi pria. Cara pandang pria dan wanita, menurut saya, berbeda dan hal ini memperkaya wawasan saya dalam menilai sesuatu.

1a

Hubungan yang tidak ada unsur romantis dan seksual antara pria dan wanita dikategorikan dalam hubungan platonik. Murni berteman. Ada riset  yang menyebutkan hanya 26% dari tipe hubungan jenis ini yang berhasil bertahan sebagai teman. Jelas tidak mudah untuk mempertahankan hubungan tanpa romantisme dan indikasi seksual sama sekali.

Menurut Dr. Teesha Morgan, terapis seks dan psikolog klinis, kebanyakan pria bersedia menjalin hubungan dengan wanita karena mereka berharap suatu hari nanti hubungan itu akan berkembang menjadi hubungan romantik. Debra Macleod, konselor perkawinan, meneguhkan pendapat Morgan tersebut. Pria hanya akan menjalin  persahabatan dengan wanita yang dia anggap memiliki daya tarik seksual. Dengan tegas ia juga  menghimbau agar wanita tidak menjalin hubungan platonik ini, terlepas dari apapun kata teman pria itu kepada anda, percayalah, mereka hanya menjadikan anda sebagai ‘ban serap’ untuk calon pengganti pasangannya kelak jika hubungannya dengan orang lain tidak berhasil. Upppssss……

Dalam hasil studi yang dimuat di Journal of Social and Personal Relationships ,  para peneliti mengatakan ada potensi konsekuensi negatif  dalam hubungan platonik ini.  Pria yang masih muda cenderung merasa tertarik dengan sahabat perempuannya, dan berniat mengencaninya, tak peduli sahabatnya tersebut lajang atau tidak. Kemudian, para pria muda ini yakin bahwa sahabat perempuan mereka diam-diam suka pada mereka, padahal tidak (ini namanya ge-er!). Ahaaaa…

Di lain pihak, perempuan muda bisa saja tertarik pada sahabat prianya, bahkan mereka bisa lebih dulu merasa suka. Tetapi, mereka mendadak jadi ilfil jika tahu sahabat pria mereka sudah memiliki pasangan. Boleh jadi, para perempuan tak ingin merusak hubungan sahabat pria mereka dengan pasangannya masing-masing. Atau, menyadari bahwa sahabat pria tersebut “sudah ada yang punya” saja sudah membuat mereka tak tertarik lagi.

Pada pria dan wanita usia paruh baya umumnya merasakan kadar ketertarikan yang sama satu sama lain. Namun, ketertarikan pria paruh baya terhadap sahabat perempuan mereka jauh lebih rendah kadarnya daripada pria-pria muda. Kecuali, jika pria paruh baya tersebut masih bujangan.

Bagi saya, sahabat pria yang berstatus ‘sudah ada yang punya’  justru lebih ‘aman’ karena otomatis menjadi rem saya untuk tidak melompat ‘pagar’ ke ranah romantisme. Ada banyak aturan main yang saya terapkan dalam persahabatan dengan pria agar tidak ‘hanyut’ dalam romantisme, terlebih dengan teman pria yang masih lajang.

       Jika berpergian, usahakan selalu ada teman  lain yang ikut, jadi tidak berduaan saja.

       Usahakan jangan terlalu sering pergi,  apalagi berdua saja, pada jadwal kencan umum seperti malam Minggu, Valentine’s Day dan hari khusus lainnya.

       Hindari berada di tempat atau suasana yang romantis, seperti candle light dinner, nonton berduaan di rumah maupun bioskop, berlibur ke pantai atau tempat yang romantis lainnya.

       Meskipun banyak sharing  masalah pribadi dan sudah saling mengenal karakter masing-masing, hindari untuk masuk ke pembicaraan yang mengarah ke hal yang sangat private, seperti: Kamu ditawarin gaji berapa di kantor baru itu? Uangmu dibelanjain untuk apa aja sih? Kamu naksir pacarmu itu karena apanya? Biarkan sahabat itu yang membuka sendiri hal pribadi seperti itu, jika ia merasa ingin berbagi atau ingin tahu pendapat anda.

       Jika sahabat anda telah memiliki pasangan, usahakan untuk tidak memberi penilaian apapun terhadap pasangannya. Bukan hak anda untuk menilai hubungannya dengan pihak lain. Jika ia berbagi cerita tentang pasangannya, dengarkan saja.

       Minimalisir kontak fisik seperti berjalan bergandengan tangan, duduk saling menempel, menyandarkan tubuh, dan lain sebagainya yang dianggap umum.

Memang tidak mudah untuk bersikap netral dan tetap berada di jalur persahabatan dengan lawan jenis, namun bukan hal yang mustahil untuk dijalankan. Hanya saja, jika salah satu pihak sudah mulai jatuh cinta pada pihak lainnya,  mungkin hubungan harus dipertimbangkan lagi, apakah mau terus berlanjut sebagai sahabat atau disudahi saja karena sulit untuk menahan perasaan dan bersikap seolah-olah tidak ada ‘rasa’. Chemistry pasti ada sejak awal hubungan karena chemistry ini yang menjadi perekat dan sebagai tanda kecocokan satu sama lain. Tapi jika chemistry makin berkembang dan lama-kelamaan menjadi cinta romantik, nah…ini yang menjadi dilemma. Tergantung bagaimana kedua individu itu untuk menyikapi perasaan cinta yang timbul.

Ada satu kondisi yang bisa menjadi perekat hubungan jangka panjang antara pria dan wanita, yakni jika keduanya adalah sahabat sejak kecil, tumbuh di lingkungan yang sama dan mempunyai banyak kenangan masa kecil bersama . Hubungan seperti ini akan berkembang ke arah persaudaraan, bukan sekedar persahabatan lagi.

Well,  telepas dari apapun pendapat para ahli dan anda mengenai hubungan platonik ini, saya tetap akan berada di jalur persahabatan dengan pria. Saya merasa beruntung punya beberapa sahabat pria yang masih berhubungan baik dan sangat membantu dan mendukung saya. Ada satu film produksi tahun 1989 yang mengisahkan hubungan dua sahabat, sangat berkesan dan diperankan dengan apik oleh Meg Ryan dan Billy Crystal : When Harry Met Sally. Nonton lagi yuuukk….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s