Sueerrr…..Hanya Berteman

Bisakah pria dan wanita bersahabat? Tentu bisa, kenapa tidak? Itu jawab saya. Tetapi, partner saya bilang: Tidak mungkin!  Salah satu pasti akan jatuh cinta dan segalanya menjadi kacau. Itu pengalaman pribadinya dengan beberapa teman pria.   Jadi yang benar,  bisa atau tidak? Tulisan mengenai hubungan pria dan wanita ini pernah diulas dalam satu portal nasional dan  cukup menarik untuk kita bahas ulang di sini.

guy girl friends

Entah mengapa, sejak dulu hingga sekarang, saya menikmati bersahabat dengan pria dan selalu ada sahabat pria dalam setiap fase kehidupan saya dan banyak yang masih berhubungan baik hingga  saat ini. Mungkin karena pada dasarnya saya bukan tipe wanita yang ‘girly’ atau super feminin, malah sisi ‘preman’nya lebih mendominasi, meskipun penampilan fisik tidak tomboy. Cara berpikir yang praktis, taktis dan sigap (cenderung tidak sabar juga sih) dan tidak suka bertele-tele.  BTL, kata teman-teman saya. B*t*k Tembak Langsung, hahaha….Bisa jadi sifat-sifat dasar ini menjadikan saya merasa klik  dengan pria dan cepat nyambung. Yang jelas ada rasa nyaman dan merasa cocok dengan pendapat, ide, komentar ataupun kritikan dari mereka.  Dalam banyak hal, saya butuh pandangan dari sisi pria. Cara pandang pria dan wanita, menurut saya, berbeda dan hal ini memperkaya wawasan saya dalam menilai sesuatu.

1a

Hubungan yang tidak ada unsur romantis dan seksual antara pria dan wanita dikategorikan dalam hubungan platonik. Murni berteman. Ada riset  yang menyebutkan hanya 26% dari tipe hubungan jenis ini yang berhasil bertahan sebagai teman. Jelas tidak mudah untuk mempertahankan hubungan tanpa romantisme dan indikasi seksual sama sekali.

Menurut Dr. Teesha Morgan, terapis seks dan psikolog klinis, kebanyakan pria bersedia menjalin hubungan dengan wanita karena mereka berharap suatu hari nanti hubungan itu akan berkembang menjadi hubungan romantik. Debra Macleod, konselor perkawinan, meneguhkan pendapat Morgan tersebut. Pria hanya akan menjalin  persahabatan dengan wanita yang dia anggap memiliki daya tarik seksual. Dengan tegas ia juga  menghimbau agar wanita tidak menjalin hubungan platonik ini, terlepas dari apapun kata teman pria itu kepada anda, percayalah, mereka hanya menjadikan anda sebagai ‘ban serap’ untuk calon pengganti pasangannya kelak jika hubungannya dengan orang lain tidak berhasil. Upppssss……

Dalam hasil studi yang dimuat di Journal of Social and Personal Relationships ,  para peneliti mengatakan ada potensi konsekuensi negatif  dalam hubungan platonik ini.  Pria yang masih muda cenderung merasa tertarik dengan sahabat perempuannya, dan berniat mengencaninya, tak peduli sahabatnya tersebut lajang atau tidak. Kemudian, para pria muda ini yakin bahwa sahabat perempuan mereka diam-diam suka pada mereka, padahal tidak (ini namanya ge-er!). Ahaaaa…

Di lain pihak, perempuan muda bisa saja tertarik pada sahabat prianya, bahkan mereka bisa lebih dulu merasa suka. Tetapi, mereka mendadak jadi ilfil jika tahu sahabat pria mereka sudah memiliki pasangan. Boleh jadi, para perempuan tak ingin merusak hubungan sahabat pria mereka dengan pasangannya masing-masing. Atau, menyadari bahwa sahabat pria tersebut “sudah ada yang punya” saja sudah membuat mereka tak tertarik lagi.

Pada pria dan wanita usia paruh baya umumnya merasakan kadar ketertarikan yang sama satu sama lain. Namun, ketertarikan pria paruh baya terhadap sahabat perempuan mereka jauh lebih rendah kadarnya daripada pria-pria muda. Kecuali, jika pria paruh baya tersebut masih bujangan.

Bagi saya, sahabat pria yang berstatus ‘sudah ada yang punya’  justru lebih ‘aman’ karena otomatis menjadi rem saya untuk tidak melompat ‘pagar’ ke ranah romantisme. Ada banyak aturan main yang saya terapkan dalam persahabatan dengan pria agar tidak ‘hanyut’ dalam romantisme, terlebih dengan teman pria yang masih lajang.

       Jika berpergian, usahakan selalu ada teman  lain yang ikut, jadi tidak berduaan saja.

       Usahakan jangan terlalu sering pergi,  apalagi berdua saja, pada jadwal kencan umum seperti malam Minggu, Valentine’s Day dan hari khusus lainnya.

       Hindari berada di tempat atau suasana yang romantis, seperti candle light dinner, nonton berduaan di rumah maupun bioskop, berlibur ke pantai atau tempat yang romantis lainnya.

       Meskipun banyak sharing  masalah pribadi dan sudah saling mengenal karakter masing-masing, hindari untuk masuk ke pembicaraan yang mengarah ke hal yang sangat private, seperti: Kamu ditawarin gaji berapa di kantor baru itu? Uangmu dibelanjain untuk apa aja sih? Kamu naksir pacarmu itu karena apanya? Biarkan sahabat itu yang membuka sendiri hal pribadi seperti itu, jika ia merasa ingin berbagi atau ingin tahu pendapat anda.

       Jika sahabat anda telah memiliki pasangan, usahakan untuk tidak memberi penilaian apapun terhadap pasangannya. Bukan hak anda untuk menilai hubungannya dengan pihak lain. Jika ia berbagi cerita tentang pasangannya, dengarkan saja.

       Minimalisir kontak fisik seperti berjalan bergandengan tangan, duduk saling menempel, menyandarkan tubuh, dan lain sebagainya yang dianggap umum.

Memang tidak mudah untuk bersikap netral dan tetap berada di jalur persahabatan dengan lawan jenis, namun bukan hal yang mustahil untuk dijalankan. Hanya saja, jika salah satu pihak sudah mulai jatuh cinta pada pihak lainnya,  mungkin hubungan harus dipertimbangkan lagi, apakah mau terus berlanjut sebagai sahabat atau disudahi saja karena sulit untuk menahan perasaan dan bersikap seolah-olah tidak ada ‘rasa’. Chemistry pasti ada sejak awal hubungan karena chemistry ini yang menjadi perekat dan sebagai tanda kecocokan satu sama lain. Tapi jika chemistry makin berkembang dan lama-kelamaan menjadi cinta romantik, nah…ini yang menjadi dilemma. Tergantung bagaimana kedua individu itu untuk menyikapi perasaan cinta yang timbul.

Ada satu kondisi yang bisa menjadi perekat hubungan jangka panjang antara pria dan wanita, yakni jika keduanya adalah sahabat sejak kecil, tumbuh di lingkungan yang sama dan mempunyai banyak kenangan masa kecil bersama . Hubungan seperti ini akan berkembang ke arah persaudaraan, bukan sekedar persahabatan lagi.

Well,  telepas dari apapun pendapat para ahli dan anda mengenai hubungan platonik ini, saya tetap akan berada di jalur persahabatan dengan pria. Saya merasa beruntung punya beberapa sahabat pria yang masih berhubungan baik dan sangat membantu dan mendukung saya. Ada satu film produksi tahun 1989 yang mengisahkan hubungan dua sahabat, sangat berkesan dan diperankan dengan apik oleh Meg Ryan dan Billy Crystal : When Harry Met Sally. Nonton lagi yuuukk….

Advertisements

Mengatasi Cemas Pada Anak

Pada tulisan sebelumnya, sudah dibahas tentang kecemasan secara umum. Bukan hanya orang dewasa yang mengalami kecemasan, tetapi anak juga mengalaminya. Mari kita telaah lebih lanjut mengenai kecemasan pada anak.

Lebaran tahun lalu, saya membujuk putera bungsu, 7 tahun, untuk berangkat naik pesawat sendiri ke Jakarta agar ia bisa berlibur lebih lama di sana. Butuh waktu beberapa minggu untuk mempersiapkan mentalnya sebelum hari keberangkatan. Ini kali pertama ia berangkat sendiri, tanpa ditemani. Saya tahu ia cemas dan hampir setiap hari bertanya hal yang sama. Aku harus bayar di mana tiketnya, Ma? Aku harus tulis namaku ga? Aku ga bisa tanda tangan lho Ma. Nanti sesudah dapat nomor kursi, aku nunggu di mana? Aku harus bilang apa sama Tante pramugari itu kalau ditanyain mamanya mana? Gimana caranya ambil barangku yang di bagasi pesawat? Trus nanti  kalau aku ga bisa buka penutup makanan yang dibagikan di pesawat,  gimana?  Bla bla bla…segudang pertanyaan yang harus saya jawab dengan sabar agar ia tidak gamang.  Satu malam sebelum hari keberangkatannya, ia gelisah dan tidak bisa tidur. Pada hari H, ia bolak balik ke toilet di ruang tunggu bandara hingga saatnya dijemput  staf airline untuk naik pesawat. Dengan dikalungi kertas bertuliskan Unaccompanied Minor, jagoan saya akhirnya berangkat dan berhasil mengatasi rasa cemasnya terbang sendiri. Untuk keberangkatan kedua, ketiga dan seterusnya, ia pe de sekali dan sangat bangga karena berani berangkat sendiri.

Jenis-jenis Kecemasan Pada Anak

10-20% anak usia sekolah mengalami kecemasan. Angka itu meningkat terus dengan makin banyaknya tekanan dan tuntutan terhadap anak-anak masa kini. Saat musim ujian, maju presentasi di depan kelas, mengisi acara di sekolah, atau pindah sekolah, akan memicu kecemasan pada anak. Akan timbul banyak kekhawatiran dalam pikirannya:

          Gimana kalau aku lupa teksnya di panggung?

          Gimana kalau aku ga keburu menyelesaikan kelimapuluh soal ujian itu?

          Gimana kalau aku belum hafal perkalian?

          Gimana kalau aku jatuh dari sepeda dan semua orang menertawakanku?

          Gimana kalau teman-teman di sekolah baru itu tidak mau berteman dengan aku?

          Gimana kalau mama tidak datang menjemputku?

          Gimana kalau anjing itu menggigitku?

          Gimana kalau papa mama meninggal?

Kecemasan pada anak kurang lebih sama dengan yang dialami oleh orang dewasa, namun ada beberapa tipe kecemasan yang lebih sering kita temui pada anak:

Separation Anxiety Disorder

Anak usia delapan belas bulan hingga usia pra sekolah biasanya akan menangis dan ketakutan bila ditinggalkan sendiri atau berada di lingkungan yang asing. Jika ketakutan  itu terus muncul hingga usia 7 – 9 tahun, baru dikategorikan dalam gangguan kecemasan berpisah (separation anxiety disorder). Gejalanya termasuk tidak mau ke sekolah, enggan ikut acara outing sekolah, tidak mau diajak menginap di rumah orang lain jika tidak ditemani oleh yang biasa momong, enggan bepergian sendiri.

Post-traumatic Stress Disorder (PTSD)

Anak yang pernah mengalami trauma, akan sering merasa cemas dan takut, menjadikannya mudah marah, mudah mengamuk, diam seribu bahasa atau selalu menghindari tempat  atau orang yang dapat mengingatkannya pada trauma tersebut. Contohnya anak yang pernah melihat ibunya dipukul oleh ayah,  kakaknya dipukul dengan bertubi-tubi, kecelakaan lalu lintas, melihat anjingnya kesakitan karena tertabrak kendaraan, dan lain sebagainya.

Social Anxiety Disorder

Gangguan kecemasan sosial disebut juga dengan istilah fobia sosial. Gejalanya adalah takut maju ke depan kelas untuk presentasi, menyanyi atau dites lisan, atau cemas bagaimana harus memulai pembicaraan dengan teman baru dan grogi berada di lingkungan baru.

Selective Mutism

Kadang-kadang anak mendadak menjalankan aksi diam, membisu, jika dihadapkan pada suatu situasi. Kondisi ini disebut selective mutism. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, menghindari kontak mata, memainkan ujung rambutnya, memalingkah wajah, cenderung  menyendiri untuk menghindari percakapan.

Pada tempat atau situasi lain yang dirasakan nyaman baginya,  anak akan ceria seperti biasanya. Asik bercerita, tertawa dan aktif bergerak. Orang tua pasti bingung ketika dilaporkan guru soal anaknya yang selalu diam, tidak mau menjawab pertanyaan apapun di kelas. Gangguan kecemasan jenis ini biasa ditemui pada anak usia 4 – 8 tahun.

Sebulan yang lalu saya dipanggil menghadap guru Bahasa Inggris putera bungsu saya. Kasusnya karena ia tidak mengerjakan ulangan mingguan, tidak mau maju ke depan kelas untuk tes lisan, tidak mau menjawab apapun ketika ditanya guru. Padahal  pelajaran Bahasa Inggris adalah favoritnya dan biasanya aktif tunjuk tangan dan selalu menjadi yang pertama untuk maju ke depan kelas. Menjadi pe er buat saya waktu itu untuk menggali apa yang menjadi latar belakang sikap ’mogoknya’.

Specific Phobias

Anak memiliki fobia yang spesifik seperti  takut meloncat dari tempat yang tinggi, takut masuk air, takut petir, takut melihat darah, takut kegelapan, takut dikejar anjing, takut duduk di pasir dan banyak lagi.

Tips Mengatasi Kecemasan Pada Anak

1.    Dorong anak untuk menghadapi kecemasan/ketakutannya.

Ajak anak untuk menuliskan di kertas apa yang dia cemaskan saat itu dan berikan penjelasan logis jika poin-poin kecemasannya tidak rasional. Kemudian ajak anak untuk ‘menantang’ hal-hal yang membuatnya cemas dan melihat apakah betul apa yang dicemaskan itu sejelek yang ia pikirkan?

 2.    Katakan pada anak bahwa sekali-kali mendapat nilai jelek adalah hal yang biasa.

Anak sering merasa terbebani karena harus mendapat  nilai sempurna dan menonjol di lingkungannya. Takut dimarahi orang tuanya jika hasil ulangan kali ini tidak mencapai nilai minimal kelulusan (KKM) dan harus remedial.

 3.    Ajak anak untuk ikut kegiatan yang menyenangkan seperti naik sepeda, main bola di taman, ikut kelas memasak, melukis dan lainnya. Kegiatan yang menyenangkan  akan membantu anak menjadi rileks dan lepas sejenak dari rutinitasnya.

 4.    Berikan reward  setiap kali anak berhasil mengatasi kecemasan/rasa takutnya. Dipuji, dipeluk atau diberi hadiah kecil akan membuatnya senang dan merasa bangga karena ternyata ia berani. Putera saya sangat bangga setiap kali ada yang memuji betapa beraninya ia naik pesawat sendiri, tanpa ditemani mama atau papanya.

5.    Tentukan jadwal tidur yang teratur. Tidur pada waktu yang sudah ditetapkan setiap harinya dan ciptakan ritual sebelum tidur. Saya membiasakan anak-anak  untuk membaca buku sebelum tidur dan harus tidur sebelum jam sepuluh malam pada hari-hari sekolah. Anak akan terkondisi pada jadwal yang teratur dan tidak sulit untuk tidur jika sudah terbiasa. Jadwal yang teratur akan membuatnya rileks dan mengurangi kecemasannya.

6.    Pretend Play  (Bermain Simbolis)

Untuk mengurangi kecemasan seperti takut ke dokter atau ke rumah sakit untuk periksa kesehatan, anak bisa diajak bermain simbolis sebelumnya. Misalnya bermain dokter-dokteran, anda seolah-olah menjadi dokter giginya, anak menjadi pasien. Perkenalkan cara-cara dan langkah yang biasa dilakukan dokter gigi pada waktu memeriksa pasien. Bisa juga diawali dengan membeli buku atau mengajak anak nonton dvd tentang suasana di ruangan dokter ketika dilakukan pemeriksaan. Setidaknya anak sudah punya bayangan bagaimana dan apa yang akan dilakukan dokter terhadapnya. Beberapa penelitian membuktikan efektivitas dari bermain simbolis ini dalam mengurangi kecemasan anak.

cb0b93d8be0a79fcd50c257b27519572

 Saat pertama kali mengajak putera saya untuk cabut geraham susunya ke dokter gigi, saya menyiapkan mentalnya dengan berbagai cerita teman sebayanya yang tidak takut cabut gigi. Dokter akan mengoleskan obat anti sakit dulu, jadi waktu dicabut akan berasa sakit sedikit saja, bla bla bla. Setahun sebelumnya, ia pernah bermain peran menjadi dokter gigi di Kidzania dan menggunakan alat-alat yang mirip dengan aslinya. Ternyata pengalaman bermain  peran saat itu sangat membantu mengatasi rasa takutnya saat ia benar-benar harus duduk jadi pasien.

 7.    Katakan pada anak untuk selalu terbuka dan berbagi rasa takut atau cemasnya agar orang tua dapat membantu mengatasi rasa cemas itu.

 8.    Tunjukkan sikap tenang. Anak cenderung untuk meniru sikap orang tua dalam menghadapi ketakutan atau kecemasannya. Perlihatkan bahwa anda tidak panik dan gelisah meskipun ada masalah.

 9.    Latih anak untuk relaksasi. Tarik nafas panjang, hembuskan. Lakukan beberapa kali hingga terasa nyaman dan tenang. Anak bisa dilatih untuk relaksasi visual seperti: Pejamkan matamu, Nak. Bayangkan sedang berada di tempat bermain, taman yang luas atau pantai yang indah. Dengarkan suara debur ombak. Sesuaikan dengan apa kesenangan si anak. Relaksasi visual dapat meredakan ketegangan.

 10.Ajarkan juga doa pendek yang dapat ia ucapkan setiap kali timbul rasa cemas/takut.

 11.Anak perlu diyakinkan bahwa apa yang ia cemaskan itu tidak sejelek yang ia pikirkan. Biasanya mereka akan berulang kali menanyakan hal yang sama sampai mereka yakin dan berani, seperti:

          Mama pasti datang jemput  aku kan? (beritahukan juga alternatif bagaimana harus bersikap seandainya anda telat atau karena sesuatu hal tidak dapat menjemputnya)

          Petir itu tidak akan datang lagi?

          Apakah teman-teman baru itu mau berteman dengan aku?

          Mama ga marah kalau nanti nilaiku cuma 70?

Ada anak yang menggunakan teknik menghindar (avoidance) dari sumber rasa cemas/takutnya. Sikap menghindar  kadang-kadang membantu anak untuk mengatasi rasa cemasnya. Misalnya, takut melihat anjing yang beringas, anak akan berusaha menghindari anjing itu. Tidak berada di dekat anjing atau objek yang membuatnya takut. Takut tidak dapat mengerjakan ulangan, ia akan pura-pura sakit perut dan tidak mau ke sekolah. Takut suara petir, ia akan pura-pura tidur sambil menutup telinga dengan bantal. Akan tetapi jika anak selalu menggunakan teknik menghindar, anak tidak akan terlatih untuk mengontrol emosinya sendiri.  Tujuan utama dari pembahasan soal kecemasan pada anak adalah bagaimana kita membantu anak untuk mengelola emosinya, mengelola rasa cemas atau rasa takutnya.

261eee2f44905a952ca2d90764af3ccd

 

Sejauh Mana Kecemasan Itu Wajar?

patahtumbuh

ditulis oleh : Lilian Gunawan

Ibu terlihat gelisah, tiap sebentar melihat jam di dinding dan tidak konsentrasi pada acara tv yang sedang ditontonnya, padahal itu acara favorit yang selalu dinanti tiap malam. Saya tahu, beliau sedang menanti kabar dari kakak saya yang belum juga tiba di rumah dan telepon selulernya tidak bisa dihubungi sejak tadi sore. Malam sudah larut dan hujan deras disertai angin kencang. Wajar jika beliau merasa cemas karena biasanya perjalanan dari luar kota itu hanya memakan waktu paling lama 5 jam, itupun jika jalanan ramai atau pas hari pekan di daerah. Tetapi, begitu telepon berdering, dari kakak, mengabarkan sudah di batas kota, jadi sekitar setengah jam lagi akan tiba di rumah, barulah beliau kelihatan lega dan bisa konsentrasi menonton acara tv.

Cuplikan kejadian di atas termasuk hal yang normal dan sering kita alami setiap kali ada kejadian yang di luar kebiasaan. Kecemasan (anxiety) adalah reaksi…

View original post 891 more words

Yang Nun Jauh Di Sana

Hubungan jarak jauh mungkinkah dijalani? Berat, kata sahabat saya yang sejak 5 tahun terakhir hidup terpisah dari suami dan anak karena dia dipromosikan menjadi Regional Manager untuk Asia Tenggara dan harus berkantor di negara tetangga. Renumerasi yang ditawarkan jelas menggiurkan dengan berbagai fasilitas premium. Hal seperti ini menjadi dilema bagi pasangan yang sudah berkeluarga atau yang sedang menjalin hubungan serius dengan pasangannya. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap keputusan yang diambil.

Menjaga hubungan yang dipisahkan oleh jarak, jelas bukan hal yang mudah. Realitanya, memiliki pasangan yang satu kota saja, sering memicu rasa curiga, apalagi berjauhan. Dibutuhkan lebih banyak energi, hati yang ekstra luas untuk menampik semua rasa curiga, rasa percaya yang penuh dan bulat terhadap pasangan dan tentu saja ekstra dana untuk biaya perjalanan pulang pergi jika tiba waktunya untuk melepas rindu. Awalnya teman saya itu nyaris setiap akhir minggu kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan pasangan dan mengurus rumah, menyiapkan ransum makanan untuk jatah seminggu. Selalu ada rasa bersalah yang terselip karena tidak dapat menyiapkan makanan atau mengurus keluarga di hari-hari biasa, tidak bisa selalu hadir dalam setiap acara keluarga  karena dipisahkan oleh jarak.

ldr3

Saya pernah menjalankan hubungan jarak jauh antar pulau selama 4 tahun dan harus saya akui, berat. Tetapi, bagi anda yang kini sedang menjalani hubungan jarak jauh, jangan langsung pesimis. Selalu ada cara untuk mengatasi masalah jarak ini. Semoga uraian berikut dapat melapangkan hati dan pikiran anda.

ldr

Tinggal sekota dengan pasangan, memungkinkan anda berdua lebih sering bertemu, bukan hanya di akhir minggu tapi juga di hari-hari kerja. Lebih banyak kesempatan untuk melakukan berbagai hal bersama-sama dan membuat keterikatan atau rasa ketergantungan yang lebih besar karena segalanya menjadi berlabel ‘kita’. Namun, dipihak lain, juga menimbulkan peluang untuk lebih banyak bertengkar. Jika tinggal berjauhan, ketika kesempatan bertemu sangat terbatas,  rasanya ‘eman-eman’ untuk bertengkar atau meributkan hal-hal sepele. Itu testimoni sahabat pria saya ketika berbagi cerita tentang pacaran jarak jauh yang dia jalankan 20 tahun yang lalu. Jarak Jakarta – Jogjakarta terasa jauh karena butuh dua malam perjalanan pulang pergi dengan kereta api demi bertemu sang kekasih.

ldr2

Hubungan jarak jauh, menuntut anda dan pasangan untuk mandiri dalam segala hal, terlebih jika sudah  berkeluarga. Dari urusan anak, rumah, acara keluarga, asisten rumah tangga yang bertingkah, mengurus atap yang bocor, mencari tukang sampai urusan membawa mobil ke bengkel, dan sebagainya. Kondisi sehari-hari menuntut anda menjadi serba bisa dan sigap, mahir ‘jumpalitan’ dan merangkap peran. Ini salah satu sisi positif yang akan melekat pada diri anda, meskipun dalam prakteknya sungguh merepotkan dan membuat nafas sering tersengal karena urusan dari A-Z harus ditangani sendiri.

Ada banyak cerita tentang kegagalan hubungan karena faktor jarak. Menurut Dr. Greg Guldner, Direktur Center for the Study of Long-Distance Relationships, yang membedaan antara pasangan yang berhasil dan tidak berhasil menjalani LDR adalah: peraturan dasar. Dr. Guldner menjelaskan, sekitar 70% pasangan LDR yang tidak mengatur perjanjian sejak awal, rata-rata putus hubungan setelah 6 bulan.

Jadi, ada baiknya sebelum anda berdua memutuskan untuk menjalani hubungan jarak jauh, duduklah dan bicarakan beberapa hal berikut ini:

1.    Tentukan parameter

Kapan dan bagaimana pengaturan jadwal pertemuan. Bagaimana dengan urusan anak-anak, apa saja yang boleh diputuskan sendiri, termasuk juga bagaimana aturan main dalam bergaul. Apakah harus selalu memberi laporan jika pergi dengan teman, ke mana dan / atau dengan siapa.

2.     Jangka waktu hubungan jarak jauh

Apakah kondisi hubungan jarak jauh ini akan berlangsung dua tahun, lima tahun atau untuk waktu yang tidak dapat dipastikan? Bersediakah menjalani hubungan seperti ini untuk jangka waktu tertentu? Ada pasangan yang harus tinggal terpisah karena urusan pekerjaan, ada juga yang karena tugas belajar, kewajiban menjaga orang tua di kota lain, dan alasan lain.

3.    Diskusikan rencana masa depan

Dalam konteks hidup berjauhan, apa rencana anda berdua untuk setahun ke depan atau lima tahun ke depan? Siapa yang akan mengalah dan melepaskan kehidupan di kota A dan ikut pindah ke kota B tempat pasangan tinggal saat ini atau apakah akan tetap menjalani kondisi hidup terpisah?

4.    Komunikasi Harian

Bicarakan juga bagaimana komunikasi sehari-hari akan dilakukan, apakah dengan  telepon, chatting via bbm , email atau media lainnya, karena meskipun berjauhan, anda dan pasangan sebaiknya tetap tahu jadwal harian masing-masing, berbagi cerita tentang apa yang terjadi di rumah, sekolah anak ataupun di kantor. Selalu ada kejadian konyol atau kocak yang kita temui setiap hari. Berbagi cerita akan membuat anda berdua merasa tetap dekat, sehingga ketika ada kesempatan bertemu, anda tidak merasa seperti sedang bertemu dengan orang asing.

5.    Pentingnya pertemuan face-to-face

Meskipun berbicara di telepon atau chatting rutin setiap hari dapat mengikis rasa rindu satu sama lain, pertemuan face-to-face tetap harus dilakukan dalam interval waktu tertentu, sesuai kesepakatan. Saling berkunjung akan memberikan atmosfir yang berbeda bagi kedua belah pihak.

6.    Saling terbuka

Faktor curiga dan cemburu menjadi dua pengganjal utama dalam hubungan jarak jauh. Butuh transparansi  untuk semua hal yang menyangkut urusan bersama. Menekan rasa curiga bagi pasangan yang tinggal  berjauhan akan terasa lebih berat. Begitu tahu ada  hal yang dirahasiakan oleh satu pihak, percikan rasa curiga akan muncul dan terakumulasi.

7.    Usahakan hadir pada setiap acara khusus

Meskipun mungkin pasangan anda akan mengatakan: ‘Ga datang juga ga apa, aku bisa koq mengatasinya sendiri”, percayalah, kehadiran anda akan punya arti dan memberikan dukungan mental baginya. Usahakan selalu hadir pada acara khusus seperti: ulang tahun, pesta pernikahan keluarga dekat, pengambilan rapor, wisuda, atau suasana duka, jadwal operasi, dan acara khusus lainnya. Tunjukkan bahwa anda punya perhatian dan siap mendukung dengan tulus.

Dr. Guldner berpendapat, umumnya kegagalan LDR disebabkan  kesalahpahaman. Pasangan bisa putus hubungan karena banyak hal. Menurut hasil dari 10 tahun riset yang dilakukannya, jarak bukan salah satu penyebab utama retaknya hubungan. Malah jarak bisa membuat hati semakin dekat karena saling merindu. Seorang pakar hubungan yang kerap tampil dalam Oprah Winfrey Show, Dr. Phil, mengatakan bahwa jika memang benar-benar mencintai seseorang, anda akan rela mengarungi segalanya untuk bisa bersama dan akan tetap setia meskipun jarak menjadi kendala. Yang menjadi masalah bukanlah jarak yang memisahkan, tapi hubungan anda berdua.

 ldr1