Life Detoxing

Bulan Desember selalu menyisakan satu pe er buat saya untuk refleksi apa yang sudah saya lakukan sepanjang tahun ini. Pelajaran apa yang saya dapat, siapa teman baru yang masuk daftar sahabat,  teman mana yang akhirnya menjadi musuh, prestasi apa yang saya raih, berapa harga yang harus saya bayar untuk mendapatkan satu pelajaran hidup,  berapa banyak air mata yang terkuras dan lain sebagainya. Selain itu, ada beberapa peristiwa yang menjadi kenangan manis di bulan Desember, yang selalu melekat di hati dan membuat  saya mengulum senyum setiap kali Desember tiba.Yang pasti, ini adalah saatnya untuk detoks, bukan hanya detoks fisik tapi juga pikiran dan jiwa.

Nuansa Desember selalu dipenuhi oleh Sinterklas, Natal, hadiah dan liburan apalagi sejak pertengahan November, dekorasi di mal-mal besar sudah memajang aneka hiasan Natal. Yang paling menggoda, tentulah suasana liburan, padahal setiap Desember, kerjaan menumpuk karena harus stock opname, kejar target dan tutup buku.

Untuk tahun 2013, saya tidak punya target muluk-muluk untuk dicapai, tapi yang jelas, ada beberapa pelajaran hidup yang saya peroleh baik dari pergaulan maupun pekerjaan.  Dari yang menciutkan hati,yang  membuat air mata mengalir sedih ketika kehilangan sahabat,  merasakan bagaimana saya dipojokkan, dituding sebagai pengacau tanpa diberi kesempatan membela diri, tersipu-sipu dan terharu saat ada yang mengutarakan isi hatinya, memasang senyum selebar mungkin karena ternyata di usia menjelang tengah baya masih ada yang tanya: “Kamu pengen hadiah apa untuk ulang tahunmu?”. Ahaaaa.…penuh warna kan.

Langkah-langkah Detoks                                         

Kondisi fisik dan psikis yang amburadul sepanjang tahun setelah diterpa aneka macam peristiwa, tentu mengendapkan banyak racun karena emosi negatif juga terpicu, menggerogoti pikiran dan jiwa. Bukan itu saja, daya tahan tubuhpun menurun dan beberapa kali terkapar dan terpaksa istirahat di rumah ketika fisik melemah.

Letting go

Langkah pertama yang paling efektif adalah letting go, melepaskan semua  hal yang memberatkan pikiran, seperti:

          Stres membagi waktu antara keluarga dan tuntutan pekerjaan di kantor

          Pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion

          Tingkah laku pasangan atau anak-anak yang menyebalkan

          Pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai, rumah berantakan terus

          Asisten rumah tangga yang keluar masuk atau yang kerjanya tidak sesuai standar

          Sikap perfeksionis yang menghantui diri, semua maunya serba sempurna, rapi, bersih setiap waktu

          Selalu khawatir ini itu.

let go

Balancing

Setelah semua hal-hal yang menjadi racun pikiran dilepaskan,  pikiran pasti menjadi lebih ringan dan bersih, seperti ruangan yang baru dirapikan dan siap ditata ulang. Ini saatnya memilah-milah mana yang masih perlu dipertahankan, mana yang harus dimasukkan ke gudang dan tidak perlu dipikirkan lagi, mana yang akan dipoles ulang agar menjadi booster dan vitamin kehidupan.

1.      Susun ulang semua to-do list berdasarkan prioritas mana yang lebih penting dikerjakan terlebih dahulu.

2.      Jangan terlalu terpaku pada tenggat waktu yang kaku agar anda tidak menjadi terbebani oleh waktu yang mengikat. Berikan toleransi penyelesaian pekerjaan.

3.      Delegasikan pekerjaan, misalnya di rumah, anak-anak bisa diberi tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan rumah yang sederhana seperti mengangkat jemuran, melipat pakaian, merapikan kamar tidur sendiri, membuang sampah, dan bahkan menyapu halaman. Jadi ketika asisten rumah tangga tidak masuk, anda tidak kelabakan karena sudah punya tim pengganti. Pekerjaan di kantor didelegasikan ke bawahan agar meringankan pekerjaan anda. Anda bisa mengajarkan bawahan untuk operasional yang menyita banyak waktu sehingga anda tinggal mengontrol atau mengoles finishing touch. Menghemat banyak waktu yang bisa anda gunakan untuk melakukan hal lain.

4.      Sisihkan waktu untuk istirahat di tengah kesibukan, jangan terus bekerja berjam-jam tanpa jeda. Beristirahatlah sejenak setelah satu sesi dan berjalan ke luar dari kubikel, atau minum secangkir kopi sambil chat sebentar dengan teman, angkat telepon dan berbicara sebentar dengan, misalnya, Ibu anda, kemudian mulai bekerja lagi.

5.      Secara berkala, sediakan me-time apakah untuk sekedar creambath di salon, pijat, hang out dengan teman, membaca novel, menonton dvd atau melukis tanpa diganggu oleh siapapun.

6.      Sediakan quality time dengan pasangan ataupun anak anda. Keluar rumah berdua saja, tanpa anggota keluarga lain. Dengan berkencan seperti  ini kita punya kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati.

7.      Perluas lingkup pertemanan, baik di lingkungan nyata maupun teman di dunia maya. Teman, apalagi yang betul-betul baik dan klop, selalu menjadi penyemangat. Ketika pikiran mandeg, sharing dengan teman sering kali membuahkan ide yang baru, kadang yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya.  Dukungan dari sahabat sangat berperan dan menambah rasa percaya diri kita.

 balancing

Cherishing

Langkah berikutnya adalah bersyukur atas apa yang sudah kita miliki dan tidak iri dengan milik orang lain. Tidak sekedar take for granted, tapi betul-betul mensyukuri.

·         Bersyukur memiliki keluarga yang rukun, bisa melihat anak-anak tumbuh dari hari ke hari. Merasakan pelukan hangat pasangan dan anak-anak kita, ikut bahagia ketika mereka terpilih menjadi wakil sekolah untuk suatu perlombaan, melihat hasil karyanya dan lain sebagainya.

·         Bersyukur karena dikelilingi oleh sahabat yang siap mendukung kita dan menyejukkan hati  setiap kali kita sharing.

·         Syukuri setiap hari bisa kita lalui dengan baik, pergi pulang kantor dengan selamat, dijauhkan dari yang jahat.

·         Syukuri iman yang masih kuat dan tidak tergoda untuk berpaling , tidak tergoda untuk berbuat curang.

·         Syukuri umur panjang dan kesehatan yang diberikan pada orang tua kita sehingga mereka masih berada di tengah keluarga.

·         Syukuri kemampuan menahan emosi, amarah, dan menjadi individu yang lebih sabar dan dewasa dari waktu ke waktu

·         Syukuri setiap pertambahan usia dan setiap helai uban yang muncul karena itu menandakan sudah sejauh ini kita berjalan. Jalan masih panjang dan kita harus tegar.

·         Syukuri setiap rezeki yang datang dan keinginan untuk berbagi rezeki  dengan sesama.

·         Dan yang paling penting, bersyukur atas harta yang tidak ternilai, kesehatan kita. Dengan tubuh yang masih sehat, banyak hal yang dapat kita lakukan dan nikmati. Masih banyak tempat yang menanti untuk dijelajahi, masih banyak kesempatan yang terbuka untuk memaksimalkan bakat dan talenta yang kita miliki.

cherish

Desember sebentar lagi berlalu, marilah kita duduk dan merefleksikan apa saja yang sudah kita kerjakan dan sejauh mana jalan yang sudah kita tempuh. Berapa banyak persimpangan, tanjakan, turunan dan titian yang membuat gamang ketika berjalan dan ternyata bisa dilewati juga. This too will pass. Kutipan yang selalu menjadi penyemangat diri saya karena seberat apapun cobaan yang akan dihadapi, pasti bisa dilalui. Dan yang membuat senyum saya masih mekar sampai saat ini, karena dua minggu yang lalu saya diberi pe er baru untuk memikirkan jawaban: “Kamu mau hadiah apa untuk Natal tahun ini?”

detox1