Mereka Memanggilku: Mama

Anak-anak memanggil saya Mama karena saya ingin dipanggil demikian. Sejak mereka lahir, saya sudah membahasakan diri sebagai Mama,  bukan dengan panggilan Mama versi lain-lain. Mendengar panggilan Mama, rasanya hati sejuk dan sangat personal karena hanya mereka  yang memanggil saya  dengan sebutan Mama. Memperkenalkan saya ke gurunya, ke orang tua  lain, ke teman-temannya dengan kalimat: ” Ini Mamaku. Mama Lilian”.

Setiap bahasa memiliki sebutan berlainan untuk kata-kata tertentu, air misalnya. Dalam bahasa Jepang, air disebut mizu. Dalam bahasa Inggris, air disebut water. Orang Belanda menyebutnya vand. Dalam bahasa Jawa, banyu. Air adalah salah satu substansi alam yang paling dibutuhkan manusia. Begitupun, cara menyebut air untuk setiap bahasa berlainan.

Cobalah tanyakan pada anak-anak dari berbagai suku bangsa, apakah mereka mengerti kata mama? Saya yakin, semua anak akan tahu apa dan siapa itu Mama. Sepertinya kata mama memang satu-satunya kata yang universal dan dimengerti oleh siapapun di seluruh dunia. Mama menggambarkan seseorang yang mencintai kita dan akan selalu berada di sisi kita pada saat yang paling suram sekalipun. Mama adalah orang yang melahirkan kita.

Untuk padanan kata mama dalam bahasa formal, yang dalam bahasa Indonesia disebut Ibu, kita akan menjumpai beragam istilah. Setiap bahasa memiliki sebutan masing-masing. Mother dalam bahasa Inggris, Okasan dalam bahasa Jepang, Mutter dalam bahasa Jerman, Mater Latin dan lain sebagainya.  Namun, hampir setiap suku bangsa mengerti arti panggilan Mama.

ASAL USUL KATA MAMA

Dari mana sebenarnya kata mama itu muncul? Seorang ahli bahasa dari Rusia, Roman Jakobson, menyebutkan bahwa kata mama terjadi karena mulut bayi paling mudah menyebut mam mam mam dan juga faktor adanya payudara. Sejak hari pertama bayi lahir, mereka dapat mengeluarkan suara dengan menangis. Suara tangisan akan berkembang menjadi vokal yang lebih jelas dan bayi secara konstan mempraktekkan suaranya.

Bayi mencoba mengeluarkan suara-suara dengan bibir tertutup, disebut labial sounds, seperti  untuk suara /m/ /p/ /b/. Energi dikerahkan untuk mengeluarkan suara ‘mmmmmm’ dan kemudian dengan mulut terbuka akan keluar suara ‘ah’…..ini yang termudah diucapkan. Setelah itu terjadi pengulangan (babbling) dan terbentuk ‘ma-ma’, ‘ba-ba’, ‘pa-pa’ dan seterusnya.

Konsonan /m/ akan lebih sering terdengar karena paling mudah diucapkan, terlebih lagi ketika mulutnya sedang mengulum payudara ibunya. Bahkan untuk orang dewasa, kita juga cenderung mengeluarkan kata ‘mmm’ untuk sesuatu yang enak dan sedap.

Menurut Jakobson, sebenarnya bayi tidak tahu siapa yang disebut Mama.Mereka mengeluarkan kata ‘ma-ma-ma-ma’ karena lapar dan ingin segera menyusu. Yang ada di pikirannya hanyalah, saya perlu susu dan susu ada di payudara (kondisi yang alami). Jadi siapapun yang berada di dekatnya, akan dipanggil ‘Mama’ sampai pada usia tertentu ketika bayi sudah dapat membedakan secara visual siapa yang sebenarnya dipanggil Mama. Ketika itu kemampuan mengeluarkan suara konsonan dan vokal yang lain juga sudah berkembang.

Referensi: http://www.theweek.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s