Donor Darah: Siapa Takut?

Acara donor darah sering dilaksanakan di mana-mana, oleh berbagai komunitas atau lembaga, tapi entah kenapa saya tidak pernah terpikir untuk ikut mendonorkan darah. Mungkin karena tidak ada yang mengajak dan juga tidak pe de dengan kondisi tubuh, apakah layak untuk jadi pendonor atau tidak. Jadi, jangan tertawa jika mendengar bahwa di usia 46, untuk pertama kalinya saya menjadi pendonor. Itupun karena dicolek terus oleh teman yang menjadi panitia acara di salah satu lembaga di kota tempat tinggal saya.

Pada hari H, teman itu mengirimkan pesan bbm untuk memastikan bahwa saya hadir di acara donor darah dan  memberi semangat. So, pukul 12.30 siang tiba di lokasi dengan ditemani sang pengawal, putera bungsu saya. Antrian masih panjang meskipun acara telah dimulai sejak pukul 8 pagi dan direncanakan selesai pukul 1 siang. Saya sengaja hadir di penghujung acara agar tidak perlu antri berjam-jam. Ternyata, harus antri juga. Harus tetap semangat, apalagi panitia semuanya ramah dan ahaaaa….banyak makanan dan minuman tuh. Bihun goreng, nasi goreng, bubur kacang ijo, telur rebus, susu dan teh. Yang jelas, pengawal saya juga tidak mengeluh karena harus menunggu. Dia malah sibuk jadi pemantau dan duduk di kursi paling depan sambil sesekali memainkan game di Ipadnya.

Antri tidak sampai sejam sudah dipanggil, mungkin karena peserta wanita hanya sedikit (sekitar 20% dari total pendonor) jadi saya diberi kesempatan lebih dulu ya? Berhubung ini pengalaman pertama menjadi pendonor, jadi maklum saja jika saya jadi sedikit norak. Sebelum  ditusuk, saat ditusuk, sampai selesai acara, semuanya diabadikan oleh teman dengan kamera Blackberry. Dalam waktu kurang dari 15 menit, kantong sudah penuh. 250cc. Wow…akhirnya berhasil juga. Dengan kartu PMI (Palang Merah Indonesia) di tangan dan kupon untuk menukar souvenir, sayapun meninggalkan lokasi.

Keesokan harinya, terlihat bekas tusukan di lengan mulai bengkak, hari berikutnya membiru. Bagian yang lebam menjadi semakin luas dan semakin gelap. Ini namanya  hematoma, disebabkan pecahnya pembuluh darah di sekitar tempat yang ditusuk. Sakit jika ditekan. Seorang teman menyarankan saya untuk mengoleskan balsem Zambuk. Hari keempat bagian yang lebam berangsur berkurang dan akhirnya tepat seminggu setelah mendonorkan darah, lengan saya kembali normal dan tidak berbekas sama sekali. Trauma? Kapok? Ternyata tidak. Saya malah meminta teman untuk memberitahu saya jika ada acara donor lagi.

Siapa Takut?

Mengapa hanya sedikit wanita yang mendonor? Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah wanita lebih penakut? Apakah mendonorkan darah memberi dampak negatif kepada wanita? Okay, kita simak satu persatu hal-hal yang perlu kita ketahui mengenai mendonorkan darah agar hilang semua ragu dan mendorong kita semua untuk melakukan hal yang sangat mulia ini.

Untuk menjadi pendonor, anda harus :

  • Berusia 17 tahun ke atas, minimal 45 kg. Sehat jasmani dan rohani.
  • Tidak sedang hamil.
  • Tidak baru melahirkan 6 bulan terakhir ini.
  • Tidak baru ditattoo, tusuk lubang telinga atau daerah tubuh lainnya ataupun menjalani terapi akupunktur dalam 4 bulan terakhir.
  • Tidak sedang sakit
  • Tidak menderita hepatitis atau sakit kuning setahun terakhir.
  • Tidak dalam pengobatan dengan aspirin.

Persiapan sebelum mendonor :

  • Perhatikan kadar zat besi dalam darah cukup dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi seperti: daging merah, ikan, unggas, kacang-kacangan dan bayam
  • Pastikan anda beristirahat yang cukup semalam sebelum mendonorkan darah.
  • Pastikan anda tidak dehidrasi dengan minum yang cukup (8 gelas air putih atau jus). Jangan mengkonsumsi alkohol sehari sebelum pengambilan darah.
  • Hindari makanan yang berlemak tinggi seperti burger, kentang goreng, es krim. Lemak yang berlebihan dalam darah akan menyulitkan pendeteksian penyakit sebelum dilakukan pengambilan darah.

Yang harus diperhatikan saat mendonor:

  • Kenakan pakaian yang nyaman dan bagian lengan dapat digulung sampai ke atas siku.
  • Beritahu petugas yang akan mengambil darah, bagian tangan kiri atau kanan yang biasanya sukses  pada  pengambilan darah sebelumnya.
  • Pada saat pengambilan darah, usahakan untuk rileks dengan mendengarkan musik atau ngobrol dengan sesama pendonor.
  • Jangan langsung meninggalkan tempat setelah pengambilan darah. Duduklah dengan tenang dulu, makan camilan dan minum sebelum meninggalkan lokasi.
  • Jika merasa pusing setelah pengambilan darah, duduk dan bungkukkan badan hingga kepala terletak antara kedua lutut. Pertahankan posisi seperti ini hingga rasa pusing hilang. Beritahukan perawat bahwa anda merasa pusing.
  • Pastikan anda minum tambahan 4 gelas air putih atau cairan lain. Jangan lewatkan makan siang / makan malam hari itu.
  • Hindari alkohol dan rokok selama 24 jam. Hindari duduk di ruangan yang panas.
  • Hindari angkat beban atau olah raga berat pada hari tersebut.
  • Jika anda bermaksud mendonor lagi, usahakan beri waktu untuk tubuh anda paling sedikit 3 bulan (4 bulan bila anda wanita).

Mengapa Takut?

  • Saya lagi haid. – Anda hanya kehilangan sedikit darah pada waktu haid. Jika anda wanita yang sehat, mendonorkan darah pada waktu haid tidak mempengaruhi kesehatan anda. Jika anda merasa tidak enak badan atau darah yang keluar sangat banyak, jangan mendonor saat haid.
  • Katanya bisa jadi gemuk. – Darah kita ada usianya. Satu sel darah merah hidupnya berkisar 100 – 120 hari sebelum diganti dengan sel darah baru. Untuk menggantikan darah yang diambil pada waktu kita jadi donor, tubuh kita membakar sekitar 500 kalori (tergantung berapa banyak darah yang diambil). Coba pikir, apa ini akan membuat kita gemuk? Tentu anda akan menjadi gemuk kalau anda makan berlebihan setelah mendonor.
  • Saya vegetarian. – Setiap akan mendonor, kadar hemoglobin anda akan diperiksa, vegetarian sehat yang selalu makan menu seimbang, tidak ada masalah mendonor darah.

Keuntungan Mendonorkan Darah

  • Anda dapat pemeriksaan kesehatan gratis. Walau hanya beberapa pemeriksaan mendasar seperti test darah untuk mengetahui golongan darah, kadar hemoglobin, beberapa penyakit kelamin dan pemeriksaan tekanan darah, tapi bagi sebagian orang, bahkan pemeriksaan sederhana seperti ini jarang dilakukan.
  • Bagi pasien dengan kadar zat besi yang terlalu tinggi, mendonorkan darah mencegah penumpukan zat beracun dalam tubuh.
  • Banyak orang mengaku menjadi lebih sehat setelah menjadi pendonor rutin. Hal ini disebabkan mendonorkan darah teratur terbukti bisa menurunkan tekanan darah, gula darah dan denyut jantung (hasil penelitian tahun 2012)
  • Keuntungan psikologis dimana anda merasa gembira sebab telah melakukan sesuatu untuk sesama manusia.

Jadi, jangan ragu untuk menjadi pendonor. Jangan meniru saya yang sudah mencapai usia 46 tahun baru menjadi pendonor.  Ssttt, supaya anda tahu saja, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pendonor rutin karena sudah merasakan sendiri manfaatnya bagi saya pribadi maupun bagi sesama.

blood

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s