Berdamai Dengan Stress – Bagian I

Pernahkah anda merasakan suatu ketika pikiran sangat berat, tidak semangat bangun pagi dan malas pergi ke kantor, menjadi pelupa atau badan lesu? Itu adalah pertanda ada sesuatu yang mengganggu dan perlu untuk dibereskan.

Tekanan kehidupan atau yang populer disebut dengan istilah stres, bukanlah fenomena yang baru dijumpai akhir-akhir ini saja. Zaman dahulu, stres bisa ditimbulkan oleh musuh/perang antar kelompok, kelaparan, serangan hewan liar, dan sebagainya. Saat ini, stres banyak muncul dari pekerjaan yang dikejar tenggat waktu (deadline), antrian panjang, birokrasi yang berbelit-belit, kekurangan waktu untuk bersantai, macet di jalan, bos yang galak, otoriter, dan sebagainya (faktor eksternal) atau dari dalam diri individu itu sendiri (faktor internal). Orang yang terlalu perfeksionis, atau yang kurang tegas dalam bertindak, pesimis dan mempunyai harapan yang tidak realistis, cenderung mengalami stres

Apa sih sebenarnya stres itu? Stres adalah situasi yang sangat tidak menyenangkan karena tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan seseorang, atau bisa juga justru dari kejadian yang sangat menyenangkan yang datang dengan tiba-tiba seperti kejutan mendapatkan hadiah yang luar biasa. Hal yang menjadi pemicu kondisi stres disebut stressor.

GEJALA-GEJALA  STRES

GEJALA  KOGNITIF GEJALA EMOSIONAL
  • Gangguan memori
  • Kesulitan konsentrasi
  • Berpikiran negatif
  • Selalu curiga dan ingin tahu
  • Cemas
  • Mood berubah-ubah
  • Cepat marah
  • Tegang, sulit untuk rileks
  • Merasa beban hidup terlalu berat
  • Merasa kesepian
  • Merasa tidak bahagia
GEJALA FISIK GEJALA PERILAKU
  • Leher dan pundak tegang dan kencang
  • Diare atau konstipasi
  • Pusing dan mual
  • Sakit di dada
  • Detak jantung meningkat
  • Kehilangan nafsu seksual
  • Sering terserang flu
  • Kehilangan atau penambahan berat badan lebih dari 5% dari berat normal dalam 6 bulan terakhir
  • Makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya
  • Terlalu banyak tidur atau kurang tidur
  • Menarik diri dari pergaulan
  • Mengelak tanggung jawab
  • Mengkonsumsi  rokok, alkohol, kopi  yang berlebihan
  • Gugup (menggigit kuku, gelisah, tangan dan kaki berkeringat)

REAKSI TERHADAP STRES

Kejadian ekstrim, baik yang sangat tidak menyenangkan maupun yang luar biasa menyenangkan, menyebabkan sistem saraf kita bereaksi dengan mengeluarkan hormon adrenalin dan hormon kortisol. Kedua hormon ini akan menyalakan alarm tubuh dan tubuh berada pada posisi siaga untuk melawan atau menghindar dari situasi stres.

Detak jantung dan tekanan darah meningkat. Perhatikanlah, orang yang sedang stres jarang yang duduk diam saja. Mereka akan berjalan mondar-mandir dalam ruangan, gelisah, tangan berkeringat, raut wajah suram, otot menjadi tegang, nafas memburu, indera menjadi lebih peka dan konsentrasi terganggu karena sedang tidak fokus. Jadi ketika  hormon ekstra itu masuk ke dalam darah dan tidak dipergunakan atau kondisi stres terus menekan, tubuh kita akan menjadi rentan terhadap penyakit.

Stres yang tidak ditangani dengan baik juga akan mempengaruhi fungsi mental individu. Gangguan keseimbangan mental akan membuat orang menjadi frustrasi dan menimbulkan reaksi seperti:

–          Agresi: marah, jengkel, melempar barang, menyerang orang lain, melukai diri sendiri

–          Depresi: murung, menarik diri dari lingkungan, sedih, tiba-tiba menjadi pendiam, mengurung diri di kamar

–          Apatis: acuh tak acuh, tidak peduli dengan sekelilingnya, tidak mau mengikuti aturan

–          Regresi: bertingkah laku seperti anak kecil, merengek-rengek, dalam artian mengalami kemunduran dari taraf perkembangan sebelumnya.

Respons tubuh terhadap stres merupakan cara  untuk melindungi diri kita. Jika stres ditangani dengan baik, dapat membantu individu menjadi lebih fokus, waspada, energetik karena kondisi stres memberikan kekuatan ekstra seperti refleks menekan rem untuk menghindari kecelakaan. Respons inilah yang mendorong kita untuk berkonsentrasi penuh pada games supaya menang, meskipun jantung berdegup kencang, atau yang memaksa kita untuk belajar sebelum menghadapi ujian.

Faktor pencetus stres tidak selalu hal-hal negatif,. Kadang hal yang menyenangkan seperti pernikahan, prestasi yang luar biasa, liburan atau bahkan memiliki anggota keluarga baru, bisa menjadi hal yang memicu stres, tanpa kita sadari. Akan ada perubahan perilaku yang tersamar dan bahkan diri kita sendiri tidak menyadarinya.
Pada tahun 1967, psikiater Thomas Holmes dan Richard Rahe  melakukan riset terhadap 5000 pasien untuk menentukan sejauh mana faktor stres dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang.  Hasilnya dipublikasikan dalam suatu skala yang dikenal dengan Holmes and Rahe Stres Scale.Mereka menemukan korelasi positif antara peristiwa yang stresful dengan gangguan fisik.     Skala ini berisi daftar beberapa peristiwa yang menjadi pemicu stres dan setiap peristiwa diberi nilai (units). Individu memilih peristiwa apa saja yang dialami selama setahun terakhir dan angka-angka itu dijumlahkan untuk mendapatkan nilai akhir. Dari nilai akhir akan diperoleh gambaran kasar tentang sejauh mana kondisi stres dapat mempengaruhi kesehatan orang tersebut.

TABEL SKALA STRES

PERISTIWA

Nilai – Units

Kematian pasangan hidup 100
Perceraian 73
Perpisahan (dalam perkawinan) 65
Dipenjara 63
Kematian anggota keluarga dekat 63
Kecelakaan atau Sakit 53
Pernikahan 50
Dipecat dari pekerjaan 47
Rujuk dengan pasangan 45
Pensiun 45
Kondisi kesehatan anggota keluarga 44
Kehamilan 40
Gangguan seksual 39
Kehadiran anggota keluarga baru 39
Perubahan dalam bisnis 39
Perubahan kondisi keuangan 38
Kematian teman dekat 37
Perubahan bidang pekerjaan 36
Perubahan frekuensi bertengkar dengan pasangan 35
Jumlah pinjaman bank yang besar 32
Pelunasan kredit 30
Perubahan tanggung jawab dalam pekerjaan 29
Anak meninggalkan  rumah 29
Masalah dengan ipar 29
Prestasi pribadi yang luar biasa 28
Pasangan mulai bekerja atau berhenti bekerja 26
Awal atau akhir masa sekolah 26
Perubahan lingkungan hidup 25
Perubahan kebiasaan 24
Masalah dengan atasan 23
Perubahan jam kerja atau kondisi kerja 20
Pindah rumah 20
Pindah sekolah 20
Perubahan kegiatan mengisi waktu luang 19
Perubahan kegiatan kerohanian 19
Perubahan kegiatan sosial 18
Jumlah pinjaman bank sedang 17
Perubahan jam tidur 16
Perubahan frekuensi acara keluarga 15
Perubahan pola makan 15
Liburan 13
Hari besar/hari raya 12
Tiindakan kejahatan yang ringan 11

Nilai  AKHIR:

Nilai  300+: Resiko tinggi, 80% kemungkinan sakit karena faktor stres

Nilai 150-299: Resiko sedang, 50% kemungkinan sakit karena faktor stres

Nilai <150: Resiko ringan, 30% kemungkinan sakit karena faktor stres

(Sumber: www.mindtools.com )

Cobalah anda baca isi tabel di atas dan pikirkan apakah betul ketika anda mengalami salah satu peristiwa, ada unsur stres terselebung dan tiba-tiba membuat anda gelisah, tidak bisa tidur, karena besok adalah hari H, dan lain sebagainya. Jika ada kondisi pemicu yang terasa mengganggu, kita dapat belajar untuk mengendalikan diri dan mengenal sejauh mana daya tahan kita menghadapinya. Mau tahu siasatnya? Tunggu lanjutan tulisan kami bagian II.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s