ABGku, Sahabatku

Saat ini saya memiliki 2 ABG, 17 tahun dan 15 tahun. Istilah ABG, anak baru gede, rasanya belum populer atau bahkan tidak dikenal oleh generasi 80an dulu. Tapi sekarang, anak-anak remaja itu semua disebut ABG. Hmmmm…lebih keren dari sekedar kata ‘remaja’. Waktu seakan terbang begitu saja, rasanya belum lama saya tiap pagi sibuk menyiapkan susu dan bekal roti untuk dibawa ke sekolah, mengantar dan menjemput mereka, periksa PR, menandatangani agenda harian dan membantu menyusun buku untuk jadwal besok. Itu kegiatan rutin saya selama mereka masih SD.

Dulu saya sering membayangkan kapan saat-saat seperti ini akan tiba, berjalan bergandengan tangan atau mendengarkan mereka menerangkan beberapa hal yang saya kurang paham, seperti gadget, internet, istilah-istilah remaja yang sedang in (bahasa gaul) dan sebagainya. . Sekarang, badannya sudah menjulang tinggi, lebih tinggi dari saya, ukuran baju dan celana sudah sama dengan papanya dan sudah punya pacar. Upppsss…. saya akui, memiliki anak remaja memang gampang-gampang susah, tidak semulus yang kita pikirkan saat mereka masih balita.

Mood yang tiba-tiba dapat berubah, makin sering berkurung dalam kamar, jika ditanya hal yang lebih mendetil, kita dibilang kepengen tau amat, lebih sering diam dan ketahuan melamun sambil senyum-senyum sendiri, dan sebagainya. Semua sudah saya alami dan kadang memancing emosi kita juga. Bila kita tidak memahami dunianya, hubungan orang tua dengan anak bisa berjarak semakin lebar dan lama-kelamaan memburuk. Komunikasi terganggu atau bahkan sulit untuk tinggal bersama lagi karena selalu timbul friksi.

Ada beberapa poin yang saya dapat dari pengalaman berinteraksi dengan anak remaja dan bagaimana mendekatkan diri dengan mereka:

*Posisikan diri sebagai teman.

Hal ini bukan berarti membuat mereka menjadi tidak hormat kepada kita sebagai orang tuanya, tapi lebih pada cara berkomunikasi. Tidak menghakimi, tidak otoriter dalam menentukan harus begini atau begitu , tidak mengomentari dengan suara keras atau gaya sok tahu. Remaja lebih suka curhat pada teman karena merasa lebih nyaman.

*Jadilah pendengar yang baik.

Jangan interupsi ketika mereka sedang menyampaikan sesuatu. Duduk dan dengarkan dengan tenang keseluruhan cerita meskipun kadang cara berpikir remaja sering tidak masuk akal dan tidak sejalan dengan cara berpikir orang dewasa. Paling tidak, tunjukkan sikap menghargai. Berikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan tunjukkan bahwa kita bersedia mendengarkan. Setelah itu, barulah kita bahas dan sampaikan ide/ pendapat kita dan jadikan pembanding.

*Hindari amarah.

Jangan mengomel panjang lebar atau membentak mereka untuk suatu kekeliruan atau kesalahan. Cobalah selesaikan dengan hati dan kepala dingin. Anak akan lebih menghargai sikap orang tua apabila teguran disampaikan dengan cara yang lebih elegan.

*Pahami cara berpikirnya.

Remaja cenderung bersifat impulsif dan kerap meniru kelakuan orang yang menjadi idolanya. Orang tersebut bisa jadi adalah gurunya, teman, atau bahkan selebritis tertentu. Kadang mereka hanya sebatas meniru tanpa memikirkan dampaknya. Cobalah pantau sejauh mana pengaruh idola itu pada diri mereka. Remaja yang punya kontrol diri baik dan tidak impulsif, akan lebih bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan.

*Berkencan dengan anak.

Sisihkan just you and me-time secara reguler untuk up date kegiatan mereka selama ini, dengan siapa mereka sekarang berteman, apa yang menjadi kegiatan utama di sekolah, apa cerita terbaru mengenai temannya yang waktu itu terpilih menjadi duta sekolah atau sekedar bertukar cerita tentang keseharian kita. Ini kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati, hanya kita berdua. Perhatikanlah, meskipun kita selalu menghabiskan akhir minggu bersama keluarga, apakah anda punya kesempatan duduk berdua saja dengan salah satu anak dan berbicara lebih intens? Mungkin tidak terpikirkan karena kita sibuk dengan urusan siang ini mau makan di mana, mau mampir ke mal mana, belanja apa, atau ke rumah nenek dan lain sebagainya.

*Minta maaf apabila kita salah.

Jangan malu untuk meminta maaf kepada anak jika kita ternyata khawatir berlebihan atau langsung menuduh untuk suatu kejadian yang belum tentu kebenarannya.

*Pelajari kebohongannya.

Seringkali remaja mencoba untuk menutupi beberapa hal dari orang tuanya dan cenderung untuk berbohong agar tidak diintervensi atau diinterogasi lebih jauh mengenai sesuatu hal. Cobalah untuk mencari tahu secara implisit apa yang sedang berlangsung dan jangan tantang secara frontal jika ada yang mencurigakan. Pelajari hal-hal apa yang membuat anak berbohong dan fokuslah pada apa yang mereka sembunyikan. Setelah semua informasi sudah di tangan kita, ajak anak untuk bicara baik-baik. Katakan sejauh mana kita dapat mentolerir kebohongannya dan tanyakan mengapa sampai harus berbohong karena justru membuat situasi menjadi keruh.

*Saya akan selalu mencintaimu.

Hal yang paling penting, yakinkan kepada mereka bahwa apapun yang terjadi, seburuk apapun mereka, kita akan selalu membuka tangan dan merangkulnya dengan hangat. Orang tua akan tetap sayang dan mengasihi anak-anaknya dengan sepenuh hati. Jika ada masalah, pulang ke rumah dan kembali ke pelukan orang tua adalah sikap yang paling bijaksana.

Tidak lama lagi, kedua anak remaja saya akan siap untuk dilepas, mengetes sayapnya dan terbang jauh di alam bebas. Saya ingin menikmati saat-saat sekarang dengan penuh tawa dan canda, menjadi teman, mendampingi dan menjadi pelabuhan tempat beristirahat,  sebelum akhirnya memandang dari jauh sayap-sayap  indah itu mengepak  dan terbang tinggi meraih impiannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s